Waspadai Bila Kurs Rupiah Tembus Rp 13.000 per US$

NERACA

Jakarta – Kalangan bankir dan pengamat bursa menilai, fluktuasi nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS yang hampir mendekati Rp 13.000 per US$ perlu diwaspadai, karena akan mempersulit laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, kemarin (26/2), bergerak melemah sebesar 16 poin menjadi Rp12.872 dibandingkan sebelumnya di level Rp12.856 per US$.

Menurut pengamat bursa Reza Priyambada, rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar AS menyusul masih adanya kekhawatiran pelaku pasar uang terhadap Yunani meski telah disetujuinya perpanjangan dana talangan selama empat bulan ke depan.

"Sebagian pelaku pasar uang masih khawatir terhadap Yunani karena potensi gagal bayar masih membayangi kreditur," ujarnya, Kamis.

Reza mengatakan, sebagian pelaku pasar uang juga mulai beralih ke sentimen dalam negeri yakni data inflasi Februari 2015 dan neraca perdagangan Indonesia periode Januari 2015 yang akan diumumkan BPS pada awal pekan depan.

Secara terpisah, ekonom bank asing Gundy Cahyadi, memperkirakan penguatan kurs dolar AS terhadap mata uang global akan terus terjadi, sehingga mengakibatkan pelemahan rupiah berkepanjangan yang harus diantisipasi oleh Bank Indonesia.

"Itu karena dampak pasar finansial global. Penguatan dolar AS terus berlanjut seiring dolar Amerika juga menguat ditambah sejumlah bank sentral juga mulai melemahkan nilai mata uangnya terhadap dolar AS," ujarnya seperti dikutip Antara, pekan ini.

Gundy menuturkan memang sinyalemen perang kurs dalam perekonomian global semakin terlihat setelah Bank Sentral Eropa (Europan Centra Bank/ECB) dan Bank Sentral Jepang (BoJ) memulai pelonggaran kebijakan moneternya yang diikuti sejumlah bank sentral dari Kanada, Australia, Singapura, bahkan India.

Dampak terhadap kurs rupiah sudah terlihat sejak akhir 2014, dimana rupiah yang saat itu berada di level Rp11.500 terus melemah hingga saat ini yang di kisaran Rp12.900. Pelemahan kurs secara global terhadap US$, menurut dia, dilakukan untuk memberikan stimulus kepada ekspor, terutama ekspor sektor manufaktur.

Sayangnya, kata Gundy, pemerintah Indonesia tidak memiliki kesempatan untuk memanfaatkan pelemahan rupiah tersebut karena harga komoditas ekspor andalan yang masih lesu, disamping turunnya permintaan negara-negara mitra dagang.

"Jadi kita tidak dapat membiarkan rupiah itu terus melemah, karena tidak efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," tuturnya.

Di sisi lain, menurut Gundy, BI telah menopang "real exchange rate" (RER) rupiah, sehingga meskipun melemah terhadap US$, rupiah tetap kompetitif dibandingkan mata uang asing lainnya. "Secara implisit, BI menyadari. Maka itu, rupiah sejatinya masih cukup kuat dalam “basket” mata uang global. Tapi tetap saja rupiah harus dijaga agak tidak semakin melemah," ujarnya.

Gundy mengatakan jika BI gagal menjaga kurs rupiah terhadap dolar dan mata uang asing lainnya, kata Gundy, dampak negatifnya akan sangat terasa pada laju pertumbuhan ekonomi. Jika, rupiah terus melemah dan melampaui Rp13 ribu per US$, maka laju pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin jauh dari target 5,7% seperti dalam APBN-P 2015. "Rupiah tidak bisa terlalu melemah karena bisa jadi bumerang untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan," ujarnya.

Di sisi lain, melemahnya kurs dolar AS terhadap mata uang utama lainnya pada Rabu (Kamis pagi WIB), di tengah komentar Direktur The Fed Janet Yellen tentang penaikan suku bunga pada kesaksian hari keduanya di komite jasa keuangan.

Yellen menekankan bahwa bahkan jika saatnya tiba untuk mulai menaikkan suku bunga, "Kami akan terus memberikan banyak dukungan bagi perekonomian dan memastikan bahwa kami akan terus melihat pasar pekerjaan baik yang terus membaik dari waktu ke waktu," ujarnya.

Dia mengatakan kebijakan The Fed akan tetap sabar dalam soal kenaikan suku bunga, yang berarti kenaikan tidak mungkin pada setidaknya beberapa pertemuan berikutnya.

Greenback berada di bawah tekanan untuk hari kedua setelah pernyataan Yellen itu. Indeks dolar, yang melacak greenback terhadap enam mata uang lainnya, turun 0,29% menjadi 94,223 pada akhir perdagangan kemari. fba

BERITA TERKAIT

Waspadai Defisit Perdagangan

Data BPS mencatat neraca transaksi perdagangan Indonesia (NPI) pada akhir Desember 2018 defisit US$8 miliar lebih, kontras dengan periode akhir…

Waspadai Upaya KKB Ganggu Kinerja Pemerintah di Papua

  Oleh:  Aditya Pratama, Mahasiswa Universitas Indonesia Keberadaan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) diperkirakan akan menjadi  penghambat bagi pembangunan di wilayah…

Kawasan Industri Kendal Serap 50 Investor dan 5.000 Naker

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memberikan apresiasi kepada Kawasan Industri Kendal (KIK) yang telah mampu menarik 50 investor dengan target…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

PENYEBAB PERTUMBUHAN EKONOMI TAK BISA TUMBUH TINGGI - Bappenas: Produktivitas SDM Masih Rendah

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Prof Dr. Bambang Brodjonegoro kembali mengingatkan, pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia…

Pemerintah Perbaiki Regulasi untuk Tekan Kecelakaan Kerja

NERACA Jakarta - Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) akan memperbaiki regulasi untuk memastikan tingkat kepatuhan perusahaan dalam rangka untuk menekan angka…

Atasi Defisit, Perjanjian Dagang Perlu Digalakkan

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menyatakan pembahasan dan perundingan perjanjian perdagangan dengan berbagai negara lain untuk melesatkan…