Pertamina: Elpiji Langka Ulah Pengecer Nakal

NERACA

Jakarta - Direktur Pemasaran Perseroan Terbatas Pertamina (Persero) Ahmad Bambang mengatakan penyebab kelangkaan elpiji di beberapa daerah merupakan ulah pengecer nakal yang sengaja menahan stok. "Jadi pengecer ingin dapat untung lebih dengan membuat kondisi seperti itu, seolah-olah Pertamina menahan pasokan," tuturnya, seperti dikutip dari laman Antara, kemarin.

Ia mengatakan Pertamina segera mengadakan operasi pasar dan ditemukan bahwa penyerapan elpiji hanya sekitar 10 persen. "Salah satu penyebab rendahnya penyerapan itu karena ada beberapa pangkalan yang terindikasi bertindak nakal dengan menahan pasokan elpiji," katanya. Ia menegaskan jika terbukti ada pihak yang terbukti nakal, maka pihak Pertamina tidak segan memberi sanksi berupa skorsing atau mengurangi pasokan ke distributor atau pengecer tersebut.

Selain mengadakan operasi pasar, Pertamina juga menambah pasokan elpiji tiga kilogram sebanyak 50 persen dari kuota harian, dan menyediakan elpiji di SPBU sehingga jika ada masyarakat yang kesulitan memperoleh elpiji dengan harga wajar bisa datang saja ke SPBU. "Saya baru pulang dari Lombok, di sana harga elpiji tiga kg hanya Rp18.000, kok bisa-bisanya di Depok yang dekat dengan Jakarta harganya bisa sampai Rp22.000," ujar Bambang. Pertamina sendiri menambah pasokan elpiji tiga kg di wilayah Jawa bagian barat pada 25-27 Februari 2015 untuk menjamin ketersediaan dan kestabilan harga komoditas tersebut.

Hubungan Eksternal Pemasaran Jawa Bagian Barat Pertamina Milla Suciyani dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, mengatakan pihaknya menambah pasokan di Bogor sekitar 260.000 tabung elpiji tiga kg dan Depok 93.000 unit. Daerah-daerah lain, lanjutnya, juga diberikan tambahan pasokan sebanyak 50 persen dari alokasi hariannya, seperti Cirebon, Majalengka, Kuningan, Garut dan Cianjur. "Hal ini dilakukan untuk memastikan elpiji tiga kg tersedia dan mudah didapatkan masyarakat dengan harga wajar," katanya.

Di sisi lain, menurut Milla, pihaknya melakukan operasi pasar di sejumlah titik yang diberitakan mengalami kekurangan pasokan elpiji tiga kg. "Namun, saat operasi pasar dilakukan, ternyata tidak banyak didatangi pembeli," ujarnya. Pada Rabu (26/2), operasi pasar elpiji tiga kg dilakukan di Tambun, Cikarang, dan Citeureup. Dari 560 tabung yang disediakan, tambahnya, rata-rata hanya terjual antara 40-60 tabung atau sekitar 10 persen.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja membantah adanya kelangkaan gas elpiji bersubsidi tiga kilogram di sejumlah daerah sejak awal Februari. "Di Binjai (Sumatera Utara) kemarin ada laporan kelangkaan kecil, ternyata tidak ada kelangkaan. Dari data di lapangan, ada yang menyembunyikan dulu karena dikira harga akan naik," kata Wirat seperti dikutip laman Antara, kemarin.

Wirat mengaku kaget dan bingung saat mendengar laporan sejumlah konsumen di wilayah Depok, Jawa Barat, kesulitan mendapatkan elpiji tiga kg. Pasalnya, pihaknya memantau sudah tidak ada lagi kelangkaan gas. Ia menuturkan, tidak ada kenaikan harga elpiji kemasan tiga kilogram. Ia juga memastikan rantai distribusi elpiji bersubsidi itu tidak mengalami masalah yang diklaim jadi penyebab kelangkaan. Wirat meminta masyarakat untuk menyampaikan laporan terkait kelangkaan elpiji atau bahan bakar minyak yang terjadi.

Tujuannya adalah agar satuan tugas respon cepat bisa langsung menjawab dan mengatasi keluhan masyarakat atas pelayanan minyak dan gas bumi. "Saya sudah buat 'task force quick respond' untuk mengatasi kelangkaan elpiji dan BBM, yang terkait pelayanan masyarakat. Kalau ada, tolong saya di-SMS supaya dengan tim bisa jawab! Terutama supaya di lapangan ada aksi. Jangan sampai ibu-ibu enggak bisa masak, Ditjen Migas didemo ibu-ibu," ujarnya.

Disparitas Harga

Ekonom dari PT Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih, mengatakan, setelah kisruh beras, elpiji 3 kilogram mulai sulit ditemui di pasaran. Padahal elpiji 3 kilogram ini digunakan oleh rumah tangga dan industri rumahan, termasuk pedagang kaki lima. “Disparitas harga antara tabung 12 kilogram dan 3 kilogram menjadi penyebabnya,” katanya.

Presiden Joko Widodo menaikkan harga gas elpiji 12 kilogram pada Januari lalu menjadi Rp 11,2 ribu per kilogram atau Rp 135 ribu per tabung. Sedangkan harga gas elpiji 3 kilogram tetap Rp 6 ribu per kilogram atau Rp 18 ribu per tabung.

Dengan selisih yang besar, pengoplosan tabung elpiji 12 kilogram menggunakan tabung 3 kilogram sangat rawan terjadi. Apalagi pemerintah dalam waktu dekat akan mempertimbangkan kemungkinan kenaikan harga elpiji 3 kilogram. "Rencana kenaikan harga elpiji 3 kilogram bisa semakin menambah kelangkaan," ungkap Lana.

BERITA TERKAIT

Mantan Menteri BUMN Apresiasi Kepedulian Pertamina atas Mangrove

Jakarta-Mantan Menteri BUMN Mustafa Abubakar memberikan apresiasi kepada Pertamina terkait pelestarian lingkungan yang pernah dilakukan. Termasuk di antaranya, penanaman 90…

Dunia Usaha - Demi Substitusi Impor Elpiji, Kemenperin Usul DMO Batubara Dicabut

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengusulkan kebijakan kewajiban pasokan ke pasar domestik (domestic market obligation/DMO) batubara dicabut untuk…

Mangrove Terimbas Kebocoran Minyak, Pertamina Cepat Menangani

Bekasi-Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdar) Alipbata Muara Gembong Bekasi Sonhaji menegaskan, mangrove di Desa Pantai Bahagia, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi,…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Pasar Non Tradisional - Indonesia Akan Perkuat Kerja Sama Perdagangan Dengan Afrika

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan akan terus berupaya membuka akses pasar produk-produk Indonesia ke pasar non-tradisional, khususnya…

Kebijakan Diskon Rokok Dinilai Hambat Visi Pemerintah Tingkatkan SDM Unggul

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia memiliki visi membangun kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sehingga dapat menjadi pondasi dalam meningkatkan perekonomian…

Ekspor Obat Hewan Tembus Rp26 Triliun Sejak 2015

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat rekomendasi ekspor produk peternakan sejak 2015 sampai semester I 2019 sebesar Rp38,39 triliun…