Seberapa Kuat Sektor Finansial Hadapi Krisis? - IMBAS KRISIS GlOBAL

Jakarta - Kendati kepastian perbaikan ekonomi global belum kunjung membaik, beberapa kalangan tetap optimis jika dampaknya tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sektor finansial di negeri ini. Meski demikian, sektor ini tetap rawan dan diminta untuk mengedepankan kehati-hatian dalam menjalankan kegiatan usahanya.

NERACA

Pendapat sejumlah kalangan ini dibenarkan oleh Haryajid Ramelan,analis Recapital Asset Management. Menurut dia, yang mendapat pukulan telak dari krisis global ini memang sektor finansial. Tetapi, dampaknya tidaklah signifikan.

”Memang benar, ketika krisis global belum juga pulih, kita harus mewaspadai sektor finansial kita, meski kalau kita lihat kondisi di Indonesia ini unik dan berbeda. Keunikan kita adalah bahwa di tengah krisis sulitnya AS, Timur Tengah, dan Eropa mengendalikan krisis, pasar modal kita masih bergeliat positif,” kata Haryajid pada Neraca, Rabu (14/9).

Walau dampak krisis global yang terjadi tidak signifikan, bukan berarti perekonomian Indonesia aman dari pengaruh krisis global. Sebab itu, kewaspadaan di bidang finansial menjadi sangat penting. ”Namun, kita juga harus mewaspadai sektor lain, karena bagaimanapun, ketika sektor finansial terkena pengaruh krisis, pasti akan merembet ke sektor lainnya, termasuk juga sektor UMKM,” jelasnya.

Sementara itu, pasar bursa, dinilai Haryajid seharusnya tidak ikut larut dalam kekhawatiran krisis global. Pasalnya, gejolak ini sifatnya hanya temporer saja. Ketika IHSG berdarah-darah, pasar tidak harus panik berlebihan atau ikut-ikutan takut. ”Karena investor juga telah memahami logika investasi di lantai bursa yang diproyeksikan untuk jangka panjang,” cetusnya.

Belum Perlu

Dia menambahkan, koreksi terhadap nilai tukar rupiah belakangan ini masih wajar, karena angka rupiah yang bertengger di kisaran Rp8.500/USD sudah lama terwujud. Kalau terdpresiasi ke angka Rp8.800 itupun masih sangat wajar karena sifatnya hanya temporal saja. ”Saya kira pemerintah belum perlu turut campur untuk menyelesaikan imbas krisis ini, karena masih bisa diatasi. Namun, kehati-hatian menyikapi krisis global ini, adalah hal yang mutlak,” tutupnya.

Setali tiga uang dengan Haryajid, Hal senada dikatakan ekonom sekaligus guru besar FE Universitas Trisakti Prof. Dr. Sofyan S. Harahap. Dia mengatakan, ancaman krisis global karena ekonomi Eropa dan Amerika yang tidak kunjung membaik, tidak akan berpengaruh besar terhadap ekonomi tanah air, khususnya di sektor finansial. Hal ini dikarenakan, perbedaan ekonomi keuangan yang dianut antara negara Barat dan Indonesia.

"Kita memang bergantung dengan mereka, tapi itu juga tidak besar. Soalnya, sistem ekonomi keuangan yang kita anut itu berbeda dengan mereka. Jadi, kalaupun mereka collapse (jatuh), kita tidak akan ikut-ikutan. Kalau kondisi sekarang, kita ikut melemah (ekonominya) karena kita terlalu manja. Pemerintah hanya manut saja. Padahal, kalau pemerintah mamapu membuat kebijakan lebih baik, kita nggak akan kena dampak dari Eropa dan Amerika,” ujarnya.

Dia menjelaskan, ekonomi Indonesia juga tidak menggantungkan pendapatan hanya dari investor asing saja, tetapi juga bisa diperoleh dari domestik demand. "Ekonomi Asia masih kuat, Cina, Jepang, Korea. Indonesia termasuk di dalamnya. Kalau Barat jatuh, toh, afiliasi kita berpindah ke Asia. Sebenarnya, banyak yang pemerintah bisa lakukan, pertama melalui kebijakan yang baik. Tentunya yang bisa menaikkan daya saing kita di internasional. Dukung para enterpreneur untuk berkembang dan yang terpenting perbaiki birokrasi, jangan hanya memikirkan keuntungan diri sendiri," tegasnya.

Sofyan menambahkan, jika pemerintah serius menangani ekonomi negara dan memperbaiki birokrasi yang ada, pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 10%. "Sekarang cuma 6 sampai 7% pertumbuhan kita. Kalau pemerintah serius, presiden tegas, saya yakin ekonomi kita bisa tumbuh sampai 10%," tutup Sofyan.

Di tempat terpisah, ekonom LIPI Latief Adam lebih menyoroti pola peralihan investasi, dari negara maju ke negara berkembang sekarang. Ia menyebutkan bahwa investor lebih mencari save haven dan menyimpan dalam bentuk uang tunai dolar AS. “Dengan ada niat pemerintah AS mengeluarkan stimulus baru (quantitative easing 3/QE3), maka permintaan akan dolar AS naik dan rupiah turun,” jujarnya.

Selain itu, dia menambahkan bahwa pemerintah memiliki pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, yaitu bagaimana caranya, dengan derasnya arus dana asing masuk ke Indonesia bisa dijadikan sumber pembiayaan infrastruktur sektor riil. “Kalau tidak disalurkan bisa bubble dan spekulasi ramai akibat likuiditas tidak terpakai,” ujarnya.

Oleh karena itu, Latief menyarankan untuk segera menerbitkan segera obligasi infrastruktur dan mendorong perusahaan BUMN dan swasta melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) di tahun ini. Tujuannya agar arus dana asing yang masuk tertahan. “Prediksi saya untuk tiga bulan ke depan, rupiah akan menguat di level Rp 8,500-8,700 karena depresiasi mata uang kita tertahan. Kalau dari faktor globalnya karena respon atas kebijakan AS meluncurkan QE3,” tandas dia. munib/ardi/vanya/ahmad

Related posts