Pemerintah Ingin Satukan ATM Bank BUMN

NERACA

Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara berniat menyatukan seluruh anjungan tunai mandiri (ATM) perbankan BUMN. Pasalnya, selama ini ATM perbankan berdiri sendiri-sendiri. Langkah tersebut menindaklanjuti arahan Presiden Jokowi terkait suku bunga kredit yang belum mengalami penurunan. Padahal BI rate sudah turun menjadi 7,5%.

Menteri BUMN, Rini Soemarno mengatakan, berdasarkan arahan Presiden Jokowi bahwa BI Rate sudah mengalami penurunan namun terjadi perbedaan yang mendasar dengan lending rate. Sehingga, Presiden Jokowi sempat mempertanyakan apa saja komponen biaya yang mempengaruhi bunga kredit tetap tinggi dan belum juga penurunan. Ternyata karena dipengaruhi biaya operasional perbankan yang cukup tinggi.

"Kenapa bank-bank BUMN harus berinvestasi untuk ATM sendiri-sendiri. Kenapa tidak bersama-sama.Sehingga itu akan menurunkan biaya. Beliau (Presiden Jokowi) mengharapkan kalau cost itu turun, otomatis bunga pinjaman itu bisa turun," kata Rini di Jakarta, Rabu (25/2).

Rini pun mengatakan atas arahan tersebut, Kementerian BUMN melihat biaya perbankan BUMN dapat diperbaiki dan diefisiensikan, salah satunya dengan penyatuan ATM perbankan BUMN. Menurut Rini rencananya penyatuan ATM itu akan menggunakan fasilitas milik BRI, sebab BRI saat ini sudah memiliki satelit.

Kendati demikian, Kementerian BUMN masih mempelajari proses penyatuan ATM perbankan BUMN tersebut. Dia menilai penyatuan ATM BUMN juga akan mengikuti penyebaran ATM milik BRI. Sebab penyebaran ATM BRI telah ada di berbagai daerah."Respon dari perbankan positif. Mereka (perbankan BUMN) sudah menyanggupi," ujar Rini. Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Sofyan Djalil membenarkan bahwa ada usulan untuk menyatukan ATM di antara perbankan BUMN. Hal ini dikarenakan perbankan pelat merah tersebut terlalu banyak mengeluarkan ongkos untuk investasi di bidang Information Technology (IT).

“Iya memang (penggabungan ATM), Itu kan perlu waktu mereka. Karena terlalu banyak merekajor-joraninvestasi IT mereka,”katanya.Selain itu, lanjut dia, usulan ini timbul karena alat telekomunikasi yang dulu masih memiliki tower masing-masing, namun sekarang justru memilih untuk membangun tower bersama.“Anda lihat di mana-mana ATM BNI, BRI, Mandiri berjejer. Kenapa enggak misalnya satu atau dua saja? Sehingga biaya investasi jauh lebih murah, dan itu akan mempengaruhi juga kepada bunga,” tegas Sofyan.

Menurut Sofyan, cara ini juga untuk menurunkan bunga kredit perbankan karena akan ada efisiensi cost."Pak Presiden ingin mendengar saja dulu. Karena tidak boleh perintah seperti itu. Yang hanya ingin melihat yang bisa efisiensi di mana. Ayo kita tingkatkan efisiensi, nah itu perlu waktu," ujar dia.

Sedangkan Pengamat Perbankan Deni Daruri mengatakan sepakat atas arahan pemerintah, namun pemerintah juga harus memberikan insentif. Menurut dia, pemberian insentif kepada perbankan agar dapat merespon perintah dari pemerintah. “Pemberian insentif juga dapat memotivasi kepada perbankan untuk memberikan kredit rendah kepada masyarakat,” kata dia.

Dia pun menilai terkadang pemerintah hanya memberikan perintah tetapi tidak ada pemberian insentif kepada perbankan. Pemberian insentif tersebut bisa berupa pajak yang rendah kepada perbankan. Sebab pemerintah memiliki kuasa untuk memberikan insentif pajak kepada dunia perbankan."Jadi pemerintah jangan hanya nyuruh saja tapi insentifnya tidak ada," ujar Deni. [mohar]

BERITA TERKAIT

Bank BUMN Minta Pengaturan Bunga Deposito

      NERACA   Jakarta - Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) memandang saat ini industri perbankan masih memerlukan pengaturan…

Bakal Diakuisi Bank Korea - Crossing Bank Agris Capai Rp 1 Triliun

NERACA Jakarta – Santernya rencana PT Bank Agris Tbk (AGRIS) bakal diakuisisi perusahan perbankan asal Korea, mendorong terjadinya terjadinya aksi…

Bank BTPN Catatkan ESOP 45 Ribu Saham

NERACA Jakarta – Dukung pendalaman industri pasar modal dan juga menggenjot pertumbuhan investor pasar modal, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Bantuan 50 Ekor Ayam Kementan Bantu Kehidupan Masyarakat

    NERACA Tasikmalaya - Kehidupan Cicih, seorang buruh tani di Desa Kiarajangkung, Kec. Sukahening, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi…

Utang Luar Negeri Naik 7% Jadi Rp5.220 Triliun

  NERACA Jakarta - Utang luar negeri Indonesia naik tujuh persen secara tahunan menjadi 372,9 miliar dolar AS per akhir…

PII Ingin Berikan Kenyamanan Berinvestasi - Indonesia PPP Day 2019

  NERACA Singapura - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyelenggarakan Indonesia Public Private Partnership (PPP) Day 2019 di Singapura pada Selasa, (15/01)…