Suku Bunga Acuan Diprediksi Bertahan

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia diprediksikan akan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 7,5% sepanjang 2015 karena jika diturunkan dapat memperparah depresiasi rupiah dan menekan defisit neraca transaksi berjalan. Ekonom The Development Bank of Singapore Research Group, Gundy Cahyadi, menilai BI telah dan akan terus mengantisipasi potensi keberlanjutan pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS.

"Di balik pernyataan BI mengenai pelemahan rupiah akhir-akhir ini yang selalu dibilang sesuai fundamental ekonomilah, dan lainnya, BI sudah memperkirakan, dan juga menyiapkan untuk tidak membiarkan rupiah terus melemah," kata Gundy di Jakarta, Rabu (25/2).

Dia juga menuturkan pelemahan rupiah juga terbukti tidak efektif untuk menopang ekspor sebagai penyumbang pertumbuhan ekonomi, karena kinerja ekspor terus lesu dan miskin stimulus. Bank Indonesia juga dinilai perlu mempertahankan tingkat suku bunganya untuk mengarahkan stabilitas di pasar finansial, ketika pemerintah terus ekspansif membelanjakan anggaran.

Menurut dia, secara historis, Bank Indonesia juga akan mempelajari efek penghentian stimulus dari Amerika Serikat di pertengahan 2013, ditambah dengan membengkaknya defisit transaksi berjalan saat itu, yang menyebabkan derasnya aliran dana keluar.

"Saat ini defisit transaksi berjalan kita masih di tiga persen, tapi juga tidak menutup kemungkinan dapat seperti tahun 2013 hingga empat persen," kata dia. Potensi kembali memburukan defisit neraca transaksi berjalan, karena defisit tersebut, ujar Gundy, dibiayai oleh dana jangka pendek atau investasi portofolio.

"Kita memerlukan investasi asing langsung yang lebih banyak. Itu akan datang jika Standard & Poor's kembali menaikkan rating investasi Indoensia," tambahnya. Dari sisi eksternal, Gundy menjelaskan Bank Indonesia dan pelaku pasar juga memproyeksikan bahwa kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS The Federal Reserve paling cepat dilakukan di akhir 2015, dengan besaran diperkirakan 25 basis poin (bps).

"Meskipun ekspetasi terhadap ekonomi Amerika Serikat tinggi, namun impor barang modal di sana stagnan padahal investasi naik. Begitu juga penyerapan tenaga kerja sesungguhnya masih rendah bila dibandingkan enam tahun lalu," ujar dia.

Sementara Menteri Keuangan Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, menilai kebijakan BI Rate turun searah dengan bank sentral di sejumlah negara. "Bank sentral negara-negara lain juga kebijakan suku bunga, seperti India. BI mungkin melihat itu sebagai tren yang juga harus dijalankan di Indonesia, langkah BI ini tepat dengan melihat kondisi dunia. Tapi tentunya kita harus jaga stabilitas makro," terangnya.

Bambang juga menilai, pertimbangan utama BI menurunkan suku bunga adalah proyeksi inflasi. Ke depan, inflasi sepertinya akan terkendali bahkan bukan tidak mungkin terjadi deflasi seperti pada Januari 2015.

"Tekanan inflasi tidak setinggi dulu lagi. Ada kecenderungan inflasi rendah, bahkan deflasi," tuturnya. Menurut Bambang, penurunan BI Rate akan membantu sektor riil karena akan memicu kenaikan kredit. Ujungnya adalah investasi akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi pada tahun ini.

"Pertumbuhan kredit mudah-mudahan bisa naik sehingga harapan kita investasi tumbuh, dari swasta juga bisa muncul. Semangat untuk bersama-sama tumbuh. Investasi akan menjadi yang paling penting di tahun ini," ucap Bambang.

Analis Pefindo, Ahmad Sujatmiko menambahkan, turunnya BI Rate direspon positif pelaku pasar modal lantaran dampak positifnya sudah dirasakan. Dia menjelaskan, pergerakan indeks masih akan mengalami penguatan hingga akhir tahun nanti.

Penguatan tersebut didorong dari membaiknya sektor properti, konstruksi, infrastruktur, dan perbankan. Sampai akhir tahun, Ahmad memprediksi laju indeks bisa menembus ke level 5.600. Angka itu merupakan level paling rendah yang bisa ditempuh IHSG. Namun, bukan tak mungkin kinerja IHSG justru melampaui level tersebut. [ardi]

BERITA TERKAIT

The Fed Prediksi Tak Ada Kenaikan Suku Bunga

      NERACA   Washington - Federal Reserve AS atau The Fed kemungkinan akan membiarkan suku bunga tidak berubah…

Indonesia Mampu Bertahan di Tengah Gejolak Ekonomi Global

Oleh : Hasan Zebua, Pengamat Masalah Ekonomi Negara Indonesia telah berhasil bertahan di tengah gejolak ekonomi global yang besar berkat…

Suku Bunga dan Struktur Ekonomi Masalah Disektor Keuangan

    NERACA   Jakarta - Direktur Riset CORE Indonesia Piter A Redjalam menyebutkan ada dua masalah utama sektor keuangan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pemerintah Harusnya Turun Tangan Bikin Bank Syariah

  NERACA   Jakarta – Indonesia yang merupakan penduduk muslim terbesar di dunia mestinya menjadi kiblat ekonomi syariah dunia. Nyatanya…

OJK Komitmen Dukung Pembiayaan Berkelanjutan

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen untuk menjalankan program pengembangan pembiayaan berkelanjutan untuk mendorong kinerja…

BCA Dinobatkan The World's Best Banks 2019

      NERACA   Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dinobatkan sebagai The World’s Best Banks 2019…