Bunga Kredit Ingin Turun, Kuncinya di Pemerintah

NERACA

Jakarta -Realisasi penyerapan anggaran oleh pemerintah untuk belanja pembangunan, dapat menjadi salah satu upaya memperlonggar likuiditas di pasar finansial, sehingga memungkinkan industri perbankan untuk menurunkan tingkat bunga kredit."Jadi kunci penurunan 'lending rate' ini adalah lebih karena banyaknya likuiditas di pasar. Kuncinya, apakah pemerintah akan lebih mengefektifkan belanja modal dan menyerap anggaran, 'market' harus melihat keseriusan pemeritah," kata Ekonom The Development Bank of Singapore Research Group, Gundy Cahyadi, dalam diskusi "Peluang dan Tantangan Pasar 2015" di Jakarta, Rabu (25/2).

Menurut dia, pelonggaran kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 7,5% pada Selasa (17/2) lalu sulit untuk memicu penurunan suku bunga kredit perbankan, karena tingkat bunga pinjaman sekitar 12% saat ini masih dianggap kompetitif.Gundy melihat penurunan BI Ratepekan lalu hanya sekedar mengobati kenaikan dosis kebijakan suku bunga yang ditempuh BI, saat menaikkan BI Rate menjadi 7,75% dari 7,5% pada November 2014.

Di sisi lain, mengingat dampak pelonggaran moneter itu belum berdampak pada ekspansi fiskal, Gundy mengingatkan pemerintah agar tidak menekan Bank Indonesia agar kembali menurunkan suku bunga acuan."Saya kira ini masalah pelik. Saya tidak tahu dinamika politik bagaimana. Dari segi keseimbangan moneter dan fiskal, saya tidak setuju jika pemerintah terus menekan BI untuk menurunkan suku bunga," kata dia.

Menurut Gundy, lebih baik pemerintah berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan agar dapat mendorong industri perbankan menurunkan bunga pinjamannya, terutama untuk sektor-sektor infrastruktur dan properti yang mendukung program pembangunan pemerintah."Namun 'lending rate' untuk infrastruktur dan properti ini akan tergantung dari pendapatan bunga, dan permintaan kredit," katanya.

Meskipun BI dianggap sulit untuk menurunkan bunganya, menurut Gundy, BI memiiliki ruang untuk memacu industri perbankan melipatgandakan kredit produktifnya dengan kembali menurunkan bunga depocit facility yang saat ini sebesar 5,5%.Diharapkan dengan penurunan bunga depict facility itu, perbankan akan mengoptimalkan kelebihan likuiditasnya untuk menyalurkan pembiayaan sektor produktif dibanding menyimpannya di BI.Otoritas Jasa Keuangan sebelumnya menyatakan masih memperkirakan pertumbuhan kredit sesuai Rencana Bisnis Bank (RBB) sebesar 16,64% atau belum mengalami perubahan. [ardi]

BERITA TERKAIT

Pemerintah Harusnya Turun Tangan Bikin Bank Syariah

  NERACA   Jakarta – Indonesia yang merupakan penduduk muslim terbesar di dunia mestinya menjadi kiblat ekonomi syariah dunia. Nyatanya…

Perlonggar Likuiditas, Jika Ingin Memacu Pertumbuhan

Oleh: Piter Abdullah R, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Untuk pembenahan sektor manufaktur, kuncinya adalah bagaimana…

FMM Bangsa Indonesia Ingin Pemilu 2019 Bebas dari Kecurangan

FMM Bangsa Indonesia Ingin Pemilu 2019 Bebas dari Kecurangan NERACA Jakarta - Sejumlah tokoh yang tergabung dalam Forum Musyawarah Majelis…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pemerintah Harusnya Turun Tangan Bikin Bank Syariah

  NERACA   Jakarta – Indonesia yang merupakan penduduk muslim terbesar di dunia mestinya menjadi kiblat ekonomi syariah dunia. Nyatanya…

OJK Komitmen Dukung Pembiayaan Berkelanjutan

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen untuk menjalankan program pengembangan pembiayaan berkelanjutan untuk mendorong kinerja…

BCA Dinobatkan The World's Best Banks 2019

      NERACA   Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dinobatkan sebagai The World’s Best Banks 2019…