“Menghijaukan” Bahasa Ibu

NERACA

Setiap bahasa memiliki keunikan sendiri. Tidak ada satu bahasa pun yang lebih baik dari bahasa lainnya. Ciri-ciri keunikan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan berbagai aspek kehidupan manusia tercermin dalam bahasa. Dalam konteks Indonesia, bahasa ibu selalu mengarah pada bahasa daerah tertentu atau disebut bahasa lokal.

Ironisnya, penggunaan bahasa lokal terancam terus menurun, khususnya di kalangan generasi muda. Menyusut bahkan hilangnya kepercayaan diri untuk menggunakan bahasa lokal, dilatarbelakangi oleh beberapa anggapan negatif.

Bahasa Sunda misalnya. Dalam percakapan sehari-hari, anak muda di Jawa Barat lebih cenderung menggunakan kata-kata asing daripada kata-kata dalam bahasanya sendiri, karena kata-kata itu dianggap lebih “gaul”. Padahal, bahasa ibu adalah bahasa yang pertama kali dipelajari oleh seseorang sejak kecil yang menjadi dasar pemahamannya secara alamiah.

Menurut catatan UNESCO, bahasa Sunda menduduki urutan 33 dunia dari sekitar 300-an bahasa ibu di dunia, memiliki problem yang sama dengan bahasa lainnya, yakni ancaman kepunahan. Ibarat makhluk hidup, bahasa memang mengikuti siklus kehidupan: lahir, tumbuh, dan mati. Tiap bahasa bersaing, saling menguasai dan menaklukan. Bila suatu bahasa mati, berarti ratusan ribu tahun pengalaman akan terkubur bersamanya

Bertepatan dengan hari Bahasa Ibu Internasional 21 Febuari lalu, budayawan Hawe Setiawan menuturkan, salah satu cara paling efektif mempertahankan dan melestarikan bahasa Sunda adalah lewat buku. Seperti cerpen bahasa Sunda yang di terjemahkan oleh Prof C W Waston ke dalam bahasa Inggris.

Penutur Bahasa Inggris dapat mengetahui cerminan keadaan masyarakat Sunda lewat buku ini. Hal ini juga dapat mempertajam pemahaman mereka mengenai kehidupan di Indoensia.

Selain itu, solusi yang tepat untuk mengajarkan generasi muda akan pentingnya berbahasa Sunda menurut dia adalah dengan mengembangkan metode mengajar bahasa Sunda yang disesuaikan dengan karakter anak muda di perkotaan.

"Buku pengejaran bahasa Sunda bisa disesuaikan dengan perkembangan suasana para remaja sekarang. Jika siapapun ingin belajar nilai-nilai budaya Sunda, dia harus belajar dan menghayati bahasa Sunda terlebih dahulu," kata Ketua Lembaga Sunda Universitas Pasundan itu.

Bahasa Sunda sebagai bahasa lokal Jawa Barat dituturkan oleh lebih dari 30 juta orang dan masih merupakan bahasa yang menarik dan eksis. Sesuai dengan sejarah kebudayaannya, bahasa Sunda dituturkan di provinsi Banten khususnya di kawasan selatan provinsi tersebut, sebagian besar wilayah Jawa Barat (kecuali kawasan pantura yang merupakan daerah tujuan urbanisasi dimana penutur bahasa ini semakin berkurang), dan melebar hingga batas Kali Pemali (Cipamali) di wilayah Brebes, Jawa Tengah.

BERITA TERKAIT

Peran Ibu Tak Akan Tergantikan dengan Teknologi

    Peranan ibu dalam mendidik anak tidak dapat digantikan oleh kemajuan teknologi seperti pada era digital saat ini, kata…

Hari Ibu dan HUT DWP Momentum Kebangkitan Perempuan Indonesia

Hari Ibu dan HUT DWP Momentum Kebangkitan Perempuan Indonesia NERACA Jakarta - Penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Koperasi dan…

Presiden Jokowi Didampingi Ibu Negara Jajal Jalan Tol Trans Jawa

Presiden Jokowi Didampingi Ibu Negara Jajal Jalan Tol Trans Jawa NERACA Jombang - Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara Iriana…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Peran Ibu Tak Akan Tergantikan dengan Teknologi

    Peranan ibu dalam mendidik anak tidak dapat digantikan oleh kemajuan teknologi seperti pada era digital saat ini, kata…

Pendidikan untuk Si Kecil di Era Teknologi

      Pada era millenial seperti saat ini, teknologi digital menjadi realitas zaman yang tidak dapat dihindari. Seiring perkembangan…

Mengapa Anak Usia 7 Tahun Ideal Masuk SD

    Selain kemampuan intelektual, kesiapan mental anak juga harus dipertimbangkan dalam aktivitas kegiatan belajar di jenjang pendidikan Sekolah Dasar…