Sentimen BI Rate Pengaruhi Pasar Obligasi - Angin Segar Bagi Pelaku Pasar Modal

NERACA

Jakarta – Banyak masyarakat berharap dari keputusan Bank Indonesia (BI) terkait penurunan suku bunga acuan (BI rate) yang dinilai mampu memberikan multiplayer effect terhadap kondisi ekonomi, termasuk daya beli masyarakat. Bahkan kebijakan penurunan BI Rate diyakini mampu menciptakan pasar obligasi lebih berkualitas.

Maka tak heran, kebijakan BI menurunkan BI Rate sebesar 25 basis points (bps) menjadi 7,5% dinilai tepat karena menjadi sentiment positif terhadap perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bahkan hal ini, disambut baik sejumlah emiten untuk menerbitkan surat utang atau obligasi yang lebih berkualitas,”BI rate turun untuk mendorong likuiditas di pasar dan juga menerbitkan emisi obligasi untuk para emiten di tahun ini," kata Presiden Direktur BCA Sekuritas, Mardy Sutanto di Jakarta, kemarin.

Mardy menjelaskan, penurunan BI rate merupakan respons untuk memperbaiki keadaan pasar yang lebih meningkat. Sehingga bisa merangsang pertumbuhan ekonomi yang awalnya diyakini Presiden Joko Widodo (Jokowi) bisa tumbuh 7%, tapi dikoreksi pemerintah pada APBN P 2015 mencapai 5,7%,”BI rate secara tidak langsung memacu pertumbuhan ekonomi nasional. Yield menunjukkaan tren penurunan, itu sinyal Bank Indonesia yang lebih mengutamakan growth," ungkap dia.

Walaupun mementingkan growth pada pertumbuhan ekonomi, Mardy menegaskan, pemerintah juga harus melihat besaran inflasi yang dampakanya sangat terasa di akhir tahun lalu, yang disebabkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)."Inflasi harus dijaga, pertumbuhan ekonomi jangan dilupakan. Kedua hal itu menjadi prospek bagus untuk penerbitan obligasi,”kata dia.

Hal senada juga disampaikan analis PT Pefindo, Ahmad Sujatmiko. Dirinya menuturkan, dampak penurunan BI Rate mulai dirasakan para pelaku pasar modal seiring dengan laju pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tembus ke level 5.400,”Dampaknya sudah terlihat, sejak 20 Februari kemarin, IHSG sudah tembus 5.400. Jadi penurunan BI rate sangat terasa bagi kinerja pasar modal,”ungkapnya.

Dia menjelaskan, pergerakan indeks masih akan mengalami penguatan hingga akhir tahun nanti. Penguatan tersebut didorong dari membaiknya sektor properti, konstruksi, infrastruktur, dan perbankan. Sampai akhir tahun, Ahmad memprediksi laju indeks bisa menembus ke level 5.600. Angka itu merupakan level paling rendah yang bisa ditempuh IHSG. Namun, bukan tak mungkin kinerja IHSG justru melampaui level tersebut.

Seperti diketahui, BI selaku bank sentral menurunkan BI Rate sebesar 0,25% menjadi ke posisi 7,5%, dengan suku bunga Lending Facility sebesar delapan persen dan suku bunga Deposit Facility 5,50%. Kebijakan penahanan BI Rate masih sesuai dengan upaya BI yang menginginkan inflasi menuju sasaran 4% plus minus 1% di 2015 maupun 2016. Kebijakan penahanan juga untuk mendukung pengendalian defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat.

Sementara Direktur Utama Penilai Harga Efek Indonesia, Ignatius Girendroheru pernah bilang, tren pasar obligasi Indonesia selama 2015 tercatat positif, dilihat dari "return" tahun berjalan sebesar 6,14% dari level 175,89 pada awal Januari menjadi 187,14 pada 23 Februari. (bani)

BERITA TERKAIT

Danai Ekspansi Pembiayaan - Lagi, SMF Terbitkan Obligasi Rp 9 Triliun

NERACA Jakarta – Bila tidak ada aral melintang, tahun ini PT. Sarana Multigriya Finansial Persero (SMF) berencana menerbitkan surat utang…

Pelaku IKM Harus Jadi Aktor Ekonomi

Pelaku IKM Harus Jadi Aktor Ekonomi NERACA Sukabumi – Guna meningkatkan  kesejahteraan dan pengembangan pangsa pasar pelaku Industri Kecil Menengah…

Menanti Skema Bijak bagi Pajak E-Commerce

Oleh: Pril Huseno Pemerintah berencana akan menerapkan pengenaan pajak 0,5 persen bagi bisnis e-commerce efektif 01 April 2019 mendatang. Potensi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Transaksi Saham di Sumut Masuk 10 Besar

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Sumatera Utara (Sumut) mengungkapkan, transaksi investor pasar modal di Sumut masuk 10 besar nasional…

IPCC Serap Dana IPO Rp 525,28 Miliar

Sejak mencatatkan saham perdananya di pasar modal tahun kemarin, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC) telah memakai dana penawaran umum…

Armada Berjaya Bidik Dana IPO Rp39 Miliar

Satu lagi perusahaan yang bakal IPO di kuartal pertama tahun ini adalah PT Armada Berjaya Trans Tbk. Perusahaan yang bergerak…