Produsen Air Kemasan Terganggu Musim Kemarau - PEMERINTAH SIAPKAN DANA RP 3 TRILIUN

NERACA

Jakarta - Kemarau panjang dan faktor distribusi diperkirakan mengganggu produsen air minum dalam kemasan (AMDK). Apalagi krisis air di beberapa daerah makin meluas, sehingga kebutuhan AMDK diprediksi makin tinggi. Berdasarkan statistik Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) tercatat, 39% kebutuhan AMDK diserap Jabodetabek. Sedangkan 40% lainnya terserap di Jawa dan sisanya 21% berada luar Jawa.

Khusus Jabodetabek yang menyerap 39% pasar AMDK, sekitar 71% adalah jenis AMDK galon dan 29% kemasan kecil. Dari catatan Aspadin, diperkirakan 2011 produksi AMDK naik dari 14,5 miliar liter menjadi 16,7 miliar liter. Sementara kapasitas terpasang industi minuman dalam kemasan mencapai lebih dari 15 miliar liter per tahun, ditopang oleh 500 pabrik minuman dalam kemasan, dari jumlah itu sebanyak 183 pabrik merupakan anggota Aspadin.

Menurut Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Gunaryo, kondisi ini dimungkinkan dari berkurangnya jumlah produksi oleh para produsen AMDK. "Bisa saja produksi berkurang. Karena bahan bakunya yang mulai menipis, keterbatasan sumber air. Walaupun istilahnya, jumlah produksi tetap, tetapi akan tetap kurang karena tingkat konsumsi masyarakat meningkat," katanya kepada Neraca, Rabu (14/9)

Terkait kesulitan ekspansi usaha produsen AMDK, karena terjadi penolakan masyarakat di daerah, Gunaryo menilai, para pengusaha harus mempelajari perihal penyebab penolakan ini. "Sosialisasi yang benar ke masyarakat. Jelaskan dengan baik maksud investasi yang dilakukan, yang jelas tidak merugikan daerah mereka. Mungkin mereka khawatir daerahnya akan rusak atau kekurangan air, karena tersedot perusahaan air,” tambahnya.

Diakui Gunaryo, ketergantungan masyarakat terhadap air minum dalam kemasan memang sudah terlalu besar. Akan tetapi, menghadapi kondisi kurang air seperti ini, banyak masyarakat yang melakukan pengalihan ke air bersih lain. Seperti air hasil penyulingan biasa (isi ulang). Walaupun belum mengantungi sertifikasi (SNI), masyarakat akan tetap mengkonsumsi.

Namun terganggunya pasokan AMDK ini, kata Gunaryo, sebenarnya dampak Lebaran . Karena permintaan terlalu tinggi. Sementara ada larangan operasi truk besar di Jalan Raya. "Ini cuma sebentar, saya pikir hanya dampak Lebaran kemarin aja. karena itu dari pihak kami (perdangangan dalam negeri) tidak perlu mengambil langkah apa-apa dulu. Lihat kondisi saja,” terangnya.

Konflik Antardaerah

Sementara itu, Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Berry Nahdian Furqan mensiyalir kelangkaan AMDK berpotensi menimbulkan konflik antar daerah. “Ada dua hal yang harus menjadi perhatian. Pertama, air bersih langka karena kondisi lingkungan yang sangat rusak. Sehingga banyak daerah serapan air tidak lagi berfungsi dengan baik. Kedua, kalaupun air tersedia, hal itu tidak bisa diakses, sebab sudah tercemar limbah. Contohnya Jakarta yang sudah 80% tercemar,” katanya kemarin.

Untuk mengantipasi agar tidak berlarut-larut, Berry menyarankan supaya pemerintah segera mengkonservasi air serta mengembangkan teknologi, seperti menyuling air laut menjadi air tawar. Juga menyelesaikan pemetaan sumber daya air di seluruh Indonesia. “PDAM pun harus dimaksimalkan perannya. Kita ini lemah di pembangunan infrastruktur pipanisasi air. Salah satunya dengan menyuntik dana segar, dikelola secara profesional, serta ada pengawasan ketat agar tidak bocor,” tegas Berry.

Sementara itu, Ketua Umum Aspadin Hendro Baroeno mengungkapkan, stok AMDK jenis galon baru akan normal pada awal Oktober 2011. Saat ini stok AMDK galon masih hanya mencapai setengah hari padahal normalnya stok harus 3 hari. "Posisi stok tanggal 12 September masih setengah hari, minggu pertama dan kedua Oktober nanti baru akan normal," katanya.

Alasannya karena pada periode minggu ketiga dan keempat bulan September para produsen AMDK baru bisa menyuplai pasokan diatas 100% atau melampaui dari kebutuhan. Sehingga setelah satu minggu berikutnya akan ada stok AMDK hingga 3 hari khususnya di Jabodetabek.

Hendro menuturkan persoalan distribusi menjadi krusial dalam menjaga stok AMDK galon khususnya di kawasan Jabodetabek. Terbatasnya distribusi saat mudik Lebaran dan pembatasan truk masuk tol dalam kota Jakarta menjadi penyebabnya.

Yang jelas demi mengantisipasi kemarau panjang yang bisa menyebabkan krisis air. Maka pemerintah telah menyediakan dana sekitar Rp 3 triliun. "Pemerintah siapkan dana stabilisasi pangan untuk cegah kerawanan pangan akibat kekeringan musim kemarau yang ekstrem, jadi tak perlu khawatir," kata Menko Kesra Agung Laksono kepada pers di Jakarta, kemarin.

Agung mengatakan sudah memerintahkan semua Pemda apabila terjadi kekeringan maka harus segera diambil tindakan."Kalau sampai akhir Oktober masih kemarau, maka hujan buatan dibuat," imbuhnya.

Langkah lain yang jadi opsi, kata Agung adalah, memperbanyak suplai air bersih dengan menggunakan mobil-mobil tangki air dan membagikan langsung ke masyarakat, yang dilakukan oleh pemda. Pemerintah daerah diminta membantu warga dalam mencarikan sumber air baru untuk menambah suplai.

Selain itu, kata mantan Ketua DPR ini, teknologi hujan buatan atau modifikasi cuaca telah dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran lahan dan hutan di Provinsi Riau, Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Langkah ini juga untuk mengisi waduk dan menambah cadangan air. “Peta kerentanan iklim akan dikembangkan secara menyeluruh di masa mendatang untuk menentukan daerah mana yang rentan dan sangat rentan berdasarkan model proyeksi iklim mendatang,” terangnya.

Jangka panjang, lanjut Agung, akan ada sosialisasi kepada masyarakat oleh pemerintah pusat dan daerah termasuk swasta untuk menggunakan air secara hemat dan efisien. vanya/ardi/cahyo

Related posts