Merwyakan Nyepi Tahun Baru Caka 1937 di Bali

Mendekati peringatan Nyepi, di Bali terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu menjelang Hari Raya Nyepi, yaitu Melasti, Pencaruan dan Pengrupukan. Hari Raya Nyepi jatuh pada 21 Maret 2015 dimana pada hitungan tilem kesanga IX dipercaya merupakan hari pensucian dewa-dewa di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup.

Pada 18 Maret, umat Hindu melakukan penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di pura diarak ke pantai atau danau yang dipercaya sebagai sumber air suci (tirta amerta) untuk menyucikan segala kotoran di dalam tubuh manusia dan alam. Melasti dijadwalkan di Pantai Sanur dan Kuta.

Sehari sebelum Nyepi, 20 Maret, dilaksanakan Upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat dengan mengambil salah satu jenis caru (sesajian) sesuai kemampuannya. Caru dilaksanakan di rumah masing-masing dengan menghidangkan nasi manca lima warna berjumlah 9 tanding bersama lauk-pauknya, seperti ayam brumbun disertai arak atau tuak.

Tawur atau Pencaruan adalah penyucian Buta Kala dan segala kotoroan yang diharapkan sirna. Buta Kala digambarkan dengan ogoh-ogoh yang diarak dengan tujuan melenyapkan segala unsur negatif dan tidak menganggu kehidupan manusia. Pawai ogoh-ogoh inilah yang kerap menyemarakkan rangkaian upacara Nyepi. Pengarakkan ogoh-ogoh biasanya dilaksanakan di Puputan Square, Kota Denpasar, ataupun jalan-jalan lintas kota dan seluruh desa di Bali.

Mencaru diikuti oleh upacara pengrupukan, yaitu menyebar-nyebarkan nasi tawur, mengobor-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyembur rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda apa saja hingga menghasilkan suara gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan dan lingkungan sekitar.

Sementara itu pada Hari Raya Nyepi, suasana Bali akan sepi sekali seperti kota mati. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Pada hari ini dilaksanakan catur brata, yakni penyepian yang terdiri dari amati geni (tidak menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Dengan demikian Tahun Baru Caka 1937 pun berawal dari tidak ada, suci dan bersih.

Rangkaian terakhir dari perayaan Nyepi adalah Ngembak Geni yang jatuh pada hari kedua Tahun Baru Caka. Umat Hindu akan melakukan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga, saling mengucap syukur dan memaafkan satu sama lain untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih.

BERITA TERKAIT

PERINGATAN 100 TAHUN TK AISYIYAH BUSTHANUL ATHFAL

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy (tengah) berfoto bersama Rektor Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) Gunawan  Suryoputro (kiri) dan…

Arkha Jayanti Raih Kontrak Baru Rp 55 Miliar

Perusahaan di bidang teknik dan manufaktur alat alat berat, PT Arkha Jayanti Persada Tbk (ARKA) dalam siaran persnya di Jakarta,…

74 Tahun Indonesia Merdeka: Kaum Milenial Harus Bijak di Era Digital

  Oleh : Irfan Nur Hidayat, Pengamat Komunikasi Massa   Saat ini Indonesia telah merdeka selama 74 tahun lamanya, semangat…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Siap-siap Napak Tilas Gunung Krakatau Bulan Ini

Setelah sukses pada penyelenggaraan tahun lalu, Provinsi Lampung kembali akan menggelar acara tahunan Lampung Krakatau Festival 2019 di Kota Bandar…

Lampion Terakhir di Dieng

Ajang tahunan Dieng Culture Festival (DCF) telah memasuki tahun kesepuluh. Sejak pertama kali digulirkan 10 tahun yang lalu, ajang ini…

Pilihan Wisata di Lampung selain Krakatau

Dari Jakarta, Lampung bisa ditempuh dengan penerbangan selama 45 menit atau perjalanan darat selama sekitar delapan jam sudah termasuk dengan…