Energi Mega Persada Cari Mitra Strategis - Tawarkan 30% di Blok Mozambik

NERACA

Jakarta - PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) tengah mencari mitra strategis untuk mengelola Blok Buzi di Mozambik, Afrika. Perusahaan migas milik keluarga Bakrie itu menawarkan 30% hak kepemilikan di blok tersebut.

Saat ini, Energi Mega menguasai 75% hak partisipasi di Blok Buzi. Sedangkan sisanya 25% dimiliki oleh Pemerintah Mozambik dan Empressa Nacional de Hidrocarbonetos (ENH). Jika terealisasi, kepemilikan Energi Mega di Blok Buzi berkurang menjadi 45%.

Direktur Keuangan Energi Mega Didit A Ratam mengatakan, proses penjajakan mitra strategis ditargetkan rampung tahun ini. Namun, pihaknya belum dapat mengungkapkan nilai transaksi dari skema kerja sama tersebut,”Kerja sama ini bukan pengelolaan blok secara bersama. Kami tidak juga menyebutnya sebagai divestasi, tapi lebih tepatnya membagi resiko,” jelas Didit di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, saat ini, Blok Buzi masuk dalam tahap eksplorasi dan telah ditemukan cadangan migas di blok tersebut. Karena itu, penjajakan mitra strategis pun terus dimatangkan. Namun, Didit masih enggan menyebut asal negara dari mitra strategis tersebut.

Seperti diketahui, Energi Mega membeli 100% saham Buzi Hydrocarbons Singapura Pte Ltd (BHPL) yang merupakan pemegang kuasa tambang blok minyak dan gas di Mozambik, dari Greenwich International Ltd, pada 2013. Ketika itu, Energi Mega dan dua anak perusahaan lain, yakni Enviroco Company Limited, Seychelles dan EMP Holding Singapore Pte Ltd, Singapura (EMP HS), mengadakan perjanjian jual beli saham dengan Greenwich International Ltd, Seychelles.

Energi Mega, Enviroco, dan EMP HS sepakat untuk membeli masing-masing sebesar 25%, 41%, dan 34% saham BHPL milik Greenwich. Nilai transaksi itu mencapai US$ 175 juta. Adapun BHPL merupakan pemilik 75% pertambangan blok Buzi EPCC di Mozambik. Blok tersebut diperkirakan memiliki cadangan terbukti dan terukur sebesar 283 miliar kubik.

Selain itu, Energi Mega siap membiayai kembali (refinancing) utang sekitar US$ 170 juta kepada Farallon Bank pada semester I-2015. Sebagai sumber pendanaan, perseroan tengah mencari pinjaman hingga senilai US$ 200 juta.

Menurut Didit, pinjaman tersebut ditargetkan bisa dikantongi sebelum April 2015. Perseroan akan memanfaatkan sisa dari fasilitas pinjaman baru senilai US$ 30 juta untuk modal kerja. Dari sisi keuangan, emiten bidang hulu minyak dan gas ini memang tengah mengincar efisiensi.“Refinancing adalah strategi kami menekan beban. Kami ingin setidaknya rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) bisa stabil atau lebih rendah dibanding tahun lalu,” pungkas dia.

Sebelumnya, Presiden Direktur Energi Mega Persada Imam Agustino mengatakan, perseroan dalam proses menjajaki pinjaman itu dari Credit Suisse dan Deutsche Bank dengan tenor empat tahun dan tingkat bunga lebih rendah, yaitu LIBOR plus 10-11%. Sisanya bunga pinjaman dari Farallon Bank sekitar LIBOR plus 18%.“Dengan bunga yang lebih rendah itu, sedikitnya kami bisa menghemat beban bunga sekitar US$ 15 juta, dan efeknya bisa langsung ke net profit. Jadi lumayan efisien,” kata Imam.

Sepanjang tahun lalu, Energi Mega telah melakukan pelunasan pinjamannya senilai lebih dari US$ 200 juta. Perseroan juga mampu meningkatkan produksi hariannya dan harga jual gasnya secara bertahap,”Fokus utama kami saat ini adalah untuk terus menurunkan jumlah pinjaman dalam neraca perusahaan, yang nantinya diharapkan dapat mengurangi beban bunga dan beban keuangan di masa mendatang,” kata Imam. (id/bani)

BERITA TERKAIT

Perbaiki Kinerja Keuangan - INAF Kembangkan Strategic Business Unit

NERACA Jakarta – Dorong pengembangan bisnis lebih ekspansif, PT Indofarma Tbk (INAF) fokus mengembangkan strategi pendirian strategic business unit (SBU)…

Melalui Proyek ISED - Siapkan SDM Unggul di Manufaktur dan Pariwisata

NERACA JAKARTA - Indonesia telah memasuki era digitalisasi dan Industri 4.0. Bersamaan dengan hal tersebut, pemerintah Indonesia telah meluncurkan “Making…

Geliatkan KEK Tanjung Lesung - KIJA Cari Investor Potensial Kembangkan Wisata

NERACA Jakarta – Bangkit dari musibah gempa dan tsunami Banten yang terjadi pada 2018 lalu, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk.…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perbaiki Kinerja Keuangan - INAF Kembangkan Strategic Business Unit

NERACA Jakarta – Dorong pengembangan bisnis lebih ekspansif, PT Indofarma Tbk (INAF) fokus mengembangkan strategi pendirian strategic business unit (SBU)…

Melalui Proyek ISED - Siapkan SDM Unggul di Manufaktur dan Pariwisata

NERACA JAKARTA - Indonesia telah memasuki era digitalisasi dan Industri 4.0. Bersamaan dengan hal tersebut, pemerintah Indonesia telah meluncurkan “Making…

Geliatkan KEK Tanjung Lesung - KIJA Cari Investor Potensial Kembangkan Wisata

NERACA Jakarta – Bangkit dari musibah gempa dan tsunami Banten yang terjadi pada 2018 lalu, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk.…