Go Green

Neraca. Padatnya aktivitas keseharian membuat jenuh para eksekutif. Kesegaran alam dan lingkungan yang mampu meredam kebisingan, bagaikan oase yang dinantikan. Suka atau tidak suka padatnya aktivitas sehari-hari, harus dihadapi oleh warga Jakarta. Pergi pagi dan pulang pada malam hari, merupakan rutinitas harian yang menjemukan. Namun ketika kita sudah sampai di rumah, segala kesuntukan ingin segera dihilangkan. Benar kata sebagian orang, rumahku adalah surgaku.

Hanya saja, tidak semua orang menemukan apa yang diimpikan itu. Kondisi perjalanan saat pulang, kondisi lalu lintas yang macet. Suasana yang hingar bingar. Saat sudah sampai rumah, akan menjumpai lingkungan panas yang jauh dari tumbuhan. Sehingga kemanapun mata memandang, akan melihat tembok maupun perlengkapan kebutuhan sehari-hari.

Kondisi seperti ini yang menjadi perhatin banyak orang. Lingkungan yang tertib, teratur dan hijau menjadi dambaan banyak orang. Sehingga kita tidak perlu heran kalimat go green menjadi sebuah mantra-mantra yang menjadi perhatian utama saat ini. Semua proyek pengembangan properti, yang mendapat dukungan industri terkait dari hulu hingga ke hilir selalu menggunakan kalimat ini.

Maklum saja, keadaan akan pentingnya pemeliharaan lingkungan kini sedang menggelora di benak sebagian besar masyarakat. Perubahan iklim pada lingkungan, yang berdampak kepada bencana dimana-mana diwaspadai oleh masyarakat dengan cara memelihara lingkungan. Gerakan ini seakan menjadi gerakan nasional.

Dampak berbagai bencana alam ini, membuat sektor properti memperhatikan lebih serius. Pembangunan bisa terus berjalan, namun kerusakan pada lingkungan harus diminimalisir. Banjir di siasati dengan cara membuat saluran air yang memadai, juga panasnya udara dengan menanam pepohonan yang hijau.

Selain itu, penggunaan bahan aku pembuatan rumah juga menentukan kenyamanan. Untuk menunjang hal itu, penggunaan material pendukung yang ramah lingkungan tak kalah pentingnya. Banyak bahan baku alternatif yang bisa menggantikan bahan konvensional, seperti kayu misalnya.

Bahan baku alternatif ini biasanya digunakan untuk pembuatan kuda-kuda atap, kusen pintu, kusen jendela, juga daun pintu dan jendela. Selain itu, bahan material dari metal yaitu baja ringan, bisa jadi pilihan yang tak kalah gengsinya. Selain kuat menghadapi perubahan cuaca, juga aman dari serangga atau binatang pengerat lainnya. Dengan demikian, bahan baku ini bisa menggantikan peran bahan baku konvensional, yang banyak memanfaatkan kekayaan alam.

Bahkan dengan kemajuan teknologi saat ini, beberapa hasil penemuannya, mampu memberi solusi dalam membangun bangunan yang ramah lingkungan. Alat-alat itu berupa pendingin ruangan yang hemat energi.

Hal lain, pengembang bersama masyarakat bisa mengatur lingkungannya tetap hijau. Masalah ini juga harus menjadi perhatian Pemda. Sebab dari waktu ke waktu, banyak pohon-pohon yang sudah tua dan layu. Sehingga diperlukan penghijauan ulang. Untuk itu, kerjasama antara pengembang dengan pemda perlu ditingkatkan.

Related posts