Smelter di Papua Tampung Tambang Bawah Tanah - Freeport Bangun Dua Pabrik Pemurnian Mineral

NERACA

Jakarta – Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan pembangunan pabrik pemurnian atau "smelter" di Papua ditujukan untuk menampung hasil tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia. "Pembangunan 'smelter' di Gresik merupakan perluasan dari yang ada dan sebagai sasaran antara. Sedangkan 'smelter' di Papua untuk mengantisipasi produksi tambang 'underground' yang akan segera dibangun Freeport," katanya dikutip dari Antara, Kamis.

Menurut dia, ke depan, Indonesia membutuhkan kapasitas pemurnian emas, perak, dan tembaga sekurang-kurangnya empat juta ton konsentrat. Sebelumnya, Freeport Indonesia sudah menyepakati pembangunan "smelter" yang direncanakan di kawasan industri Poumako, Papua seluas 650 ha.

Proyek "smelter" di Papua akan dibangun investor asal Tiongkok dan Freeport akan memasok produk konsentratnya. Dengan demikian, Freeport akan terlibat dalam dua pembangunan "smelter" yakni di Gresik dengan investasi sendiri dan Papua melalui pasokan konsentratnya.

Dalam kawasan industri Poumako yang disiapkan Pemerintah Provinsi Papua itu juga akan dibangun pabrik pupuk, petrokimia, elpiji filling plant, dan pabrik semen. Di lokasi yang berdekatan dengan pipa konsentrat Freeport telah ada pelabuhan, jalan raya, dan pembangkit yang tinggal dikembangkan kapasitasnya. Pemprov Papua juga berkomitmen mengalokasikan investasi awal senilai Rp2 triliun di kawasan industri yang bisa diperluas hingga 2.000 ha.

Awal pekan ini, Gubernur Papua Lukas Enembe menyambut positif tercapainya kesepakatan antara Pemerintah dengan PT Freeport Indonesia soal rencana pembangunan industri pengolahan dan pemurnian atau "smelter" di Papua, tepatnya di Timika. "Kami sambut baik kesepakatan yang telah dicapai untuk kepentingan integrasi pembangunan di kawasan industri Timika," kata Gubernur Lukas Enembe kepada Antara di Timika, Senin.

Pada Minggu (15/2), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said serta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadi Mulyono dengan pihak Freeport maupun pemangku kepentingan di Papua menyepakati untuk segera membangun industri smelter di Timika.

Pembagunan industri smelter di Timika itu merupakan bagian integral dari upaya pemenuhan kapasitas smelter nasional sebagaimana amanat UU Nomor 4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara. Lukas mengatakan sejak beberapa tahun lalu Pemprov Papua sudah menyiapkan perencanaan untuk pengembangan Timika menjadi kawasan industri.

Hal ini mendapat dukungan penuh dari Pemkab Mimika dibawah kepemimpinan Bupati Eltinus Omaleng yang telah membuka keran investasi di bidang pemurnian pasir sisa tambang (sirsat) atau limbah tailing, pembangunan smelter, pabrik semen dan lain-lain kepada para pengusaha Tiongkok.

"Sekarang tugas pemerintah daerah yaitu menyiapkan tim untuk menyeleksi perusahaan-perusahaan yang memiliki kemampuan dan kapasitas untuk terlibat dalam pembangunan kawasan industri di Timika," jelas Lukas.

Menurut dia, lokasi industri smelter yang akan dibangun di Timika tidak menjadi persoalan mengingat Pemkab setempat sudah menyediakan lokasinya. Keseriusan Pemprov Papua untuk membangun industri smelter, katanya, juga didukung dengan penyertaan modal bersama dengan pihak investor.

"Uang juga harus kita siapkan. Saya sudah panggil bupati-bupati, mereka mendukung penuh hal ini," kata Lukas yang memprediksikan bahwa pembangunan industri smelter di Timika tersebut akan menghabiskan dana lebih dari Rp2 triliun.

Lukas menilai dukungan Pemerintah Pusat untuk membangun smelter di Timika, Papua menunjukkan komitmen yang serius dari pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk meyakinkan rakyat Papua bahwa pemerintah sungguh-sungguh ingin membangun Papua. "Kunjungan kedua menteri sekaligus menjawab persoalan-persoalan yang selama ini kita hadapi," ujar mantan Bupati Kabupaten Puncak Jaya itu.

Lukas menambahkan, industri smelter yang nantinya dibangun di Timika itu tidak saja dimanfaatkan untuk menampung produksi biji tembaga PT Freeport Indonesia, tetapi juga tambang-tambang lainnya yang akan segera dibangun di Papua.

Papua, katanya, sangat kaya dengan potensi pertambangan biji emas, tembaga dan lainnya seperti di Blok Kali Wabu, Jila dan masih banyak lainnya.

"Smelter ini bukan hanya untuk kepentingan pemurnian konsentrat Freeport, tapi juga lokasi tambang-tambang baru kita akan bangun. Makanya pemerintah harus membangun infrastruktur sehingga potensi-potensi tambang itu bisa dikelola untuk peningkatan kesejahteraan rakyat," jelas Lukas.

BERITA TERKAIT

Swasta Minat Bangun Pabrik Ban di Sumsel

Swasta Minat Bangun Pabrik Ban di Sumsel NERACA Palembang - Perusahaan swasta PT Yuassa Batery Indonesia berminat membangun pabrik ban…

Gakkum KLHK Amankan 384 Kontainer Kayu Ilegal Asal Papua

Gakkum KLHK Amankan 384 Kontainer Kayu Ilegal Asal Papua NERACA Jakarta - Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan…

GOLDEN RUN BANGUN TJIPTA SARANA

Peserta lomba lari melakukan pendaftaran usai mengambil racepack Golden Run PT Bangun Tjipta Sarana (BTS), di Jakarta, Jumat (18/1). Menyambut…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Pendidikan Vokasi Industri Wilayah Sulawesi Diluncurkan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan…

Pemerintah Akselerasi Pengembangan Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pemerintah segera menyiapkan fasilitas insentif fiskal dan infrastruktur dalam upaya mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Untuk…

Kebutuhan Gula Seiring Kinerja Positif Industri Pengguna

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memproyeksi kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi…