Pasar Ritel Jakarta Diprediksi Tumbuh 5,4% - Pasokan Bertambah

NERACA

Jakarta – Pasar ritel di Jakarta dinilai memiliki prospek yang positif dan diperkirakan akan ada penambahan ruang ritel yang tumbuh sekitar 5,4 persen pada tahun 2015 ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Pasar retail di Jakarta diperkirakan akan mengalami pertumbuhan sebesar 5,4 persen dengan adanya perkiraan penambahan pasokan di 2015," kata Kepala Riset Cushman & Wakefield Indonesia (konsultan properti) Arief Rahardjo, dikutip dari Antara di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, penambahan pasokan adalah dari beberapa pembangunan "lifestyle center" (pusat gaya hidup) dan "one-stop shopping centers" (pusat perbelanjaan terintegrasi) yang sudah mempunyai izin sebelum diberlakukannya peraturan moratorium oleh Gubernur DKI Jakarta.

Ia mengungkapkan, pengerjaan sejumlah proyek seperti Lippo Mall Puri @ The St. Moritz, Mal Pantai Indah Kapuk, dan perluasan Mal Central Park diharapkan akan selesai 100 persen pada pertengahan tahun 2015.

Selain itu, lanjutnya, Pusat Grosir Metro Cipulir diperkirakan akan memasuki pasar di awal tahun depan atau tahun 2016. "Aktivitas sewa akan tetap berjalan dengan adanya toko baru yang dibuka oleh 'international retailers' (peritel internasional). Tingkat hunian diperkirakan tetap stabil dan harga sewa di beberapa pusat perbelanjaan di lokasi premium akan mengalami kenaikan," katanya.

Sedangkan dalam tiga bulan terakhir di tahun 2014, aktivitas sewa pasar retail di Jakarta tidak terlalu aktif dikarenakan tidak adanya pasokan baru. Perusahaan ritel dari luar negeri masih menjadi pemain aktif di pasar ritel.

Ia mencontohkan Uniqlo asal Jepang yang mengembangkan bisnisnya di Jakarta dengan pembukaan toko keenam di Grand Indonesia, dan department store dari Thailand, Central, juga membuka gerai pertamanya di Grand Indonesia.

Sementara American Eagle, bisnis pakaian yang berasal dari Amerika, juga membuka cabang pertamanya di Central Park, Indonesia. "Masuknya pemain pasar ritel ini tidak mempengaruhi tingkat hunian pasar ritel secara keseluruhan," ucapnya.

Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia merevisi target pertumbuhan bisnis ritel menjadi 10 persen yang awalnya 15 persen. Wakil Ketua Aprindo Tutum Rahanta dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat, mengatakan revisi target pertumbuhan tersebut dipengaruhi berbagai faktor, di antaranya upah buruh yang meroket dan kurs rupiah kian melemah. Tutum mengatakan tiap tahunnya beban pengusaha ritel naik karena beban upah rata-rata naik 10 persen, inflasi lima persen, dan selisih kurs rupiah hingga 20 persen dari tahun lalu.

Pasar perkantoran yang terdapat di kawasan sentra bisnis (CBD/"central business district") di kawasan DKI Jakarta diperkirakan bakal mengalami peningkatan pada tahun 2015 dengan akan masuknya pasokan perkantoran baru.

"Pasar perkantoran CBD diharapkan akan kembali mengalami transaksi dengan volume besar pada tahun 2015 setelah mencatat penyelesaian gedung baru yang rendah pada 2014, namun akan lebih terasa sebagai pasar para penyewa akibat akan masuknya pasokan baru dalam volume besar pada dua tahun mendatang," kata Arief Rahardjo.

Dengan semakin tingginya tingkat persaingan, menurut dia, pemilik gedung tampaknya akan semakin berhati-hati dalam menaikkan harga sewa mereka dan sebaliknya para penyewa korporasi akan menikmati kesempatan besar dalam melakukan perluasan ruangan dan relokasi kantor mereka.

Selain itu, lanjutnya, harga "service charge" (biaya layanan) diperkirakan akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan dimulai sejak Januari 2015, menyusul kenaikan harga BBM yang mendorong kenaikan terhadap biaya utilitas dan juga kenaikan Upah Minimum Regional (UMR).

Data Cushman & Wakefield mencatat bahwa terjadi dua transaksi besar terjadi selama kuartal terakhir 2014, yaitu tersewanya ruang perkantoran seluas 6.500 meter persegi dan 1.760 meter persegi di gedung Menara Prima 2 di Kompleks Mega Kuningan oleh perusahaan asuransi/pembiayaan dan pertambangan batu-bara.

Secara keseluruhan, selama 2014 permintaan dan transaksi sewa kantor menunjukkan kinerja yang masih positif, sekalipun dalam tingkatan yang lebih rendah oleh karena terbatasnya ketersediaan ruangan di gedung perkantoran eksisting dan minimnya pasokan baru.

"Kinerja pasar perkantoran diharapkan akan mengalami peningkatan di tahun 2015 dengan masuknya sejumlah besar pasokan baru yang menyediakan kesempatan luas bagi penyewa untuk memenuhi kebutuhan yang tertunda untuk perluasan dan relokasi," ucapnya.

Sebelumnya, Kepala Bagian Penjualan PT Jones Lang LaSalle (JLL) Jakarta, Angela Wibawa, mengatakan tingkat penyerapan ruang perkantoran di CBD Jakarta pada 2014 mengalami penurunan.

BERITA TERKAIT

OPEC Dinilai Perlu Terus Pangkas Pasokan Sampai Akhir 2019

NERACA Jakarta – Arab Saudi mengatakan pada Minggu (17/3) bahwa pekerjaan OPEC dalam menyeimbangkan kembali pasar minyak masih jauh dari…

Imperva Bangun Scrubbing Center di Jakarta

    NERACA   Jakarta - Imperva Inc, perusahaan cybersecurity mengumumkan hadirnya DDoS Scrubbing Center pertama di Indonesia. Menurut Wakil…

Laba Pembangunan Jaya Ancol Tumbuh 1,4%

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) membukukan laba tahun 2018 sebesar Rp223 miliar atau tumbuh 1,4% dibandingkan dengan periode yang…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Ekspor Tenun dan Batik Ditargetkan US$58,6 Juta

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor produk tenun dan batik pada tahun 2019 mampu menembus angka USD58,6 juta atau…

OPEC Dinilai Perlu Terus Pangkas Pasokan Sampai Akhir 2019

NERACA Jakarta – Arab Saudi mengatakan pada Minggu (17/3) bahwa pekerjaan OPEC dalam menyeimbangkan kembali pasar minyak masih jauh dari…

Pemerintah Perkuat Promosi Batik dan Kain Tenun

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih mengungkapkan, pada Pameran Adiwastra Nusantara tahun…