Target IPO BEI Masih Disikapi Pesimistis - Dinilai Terlalu Tinggi

NERACA

Manado – Meskipun pihan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyakini target emiten baru yang listing di pasar modal tahun ini sebanyak 32 perusahaan bakal tercapai, namun hal ini disikapi pesimistis oleh pengamat ekonomi lantaran tantangan ekonomi yang belum pulih seluruhnya.

Pengamat Ekonomi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Joubert Maramis mengatakan, target BEI sebanyak 32 perusahaan untuk melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) dinilai sangat tinggi,”Target 32 perusahan pertambangan tahun ini masuk IPO sangat tinggi,”ujarnya di Manado, Kamis (19/2).

Dia mengatakan, target tersebut dinilai tinggi mengingat perusahaan pertambangan di Indonesia masih sedikit, kalau ada mereka adalah anak perusahaan konglomerat di Indonesia. Kebanyakan induk perusahaan ada di manufaktur dan beberapa di perbankan.

Di lain pihak perusahaan patungan dengan asing yang sahamnya 50-50 masih sangat jarang di Indonesia,”Kalaupun ada hanya lima hingga enam perusahan pertambangan yang IPO tahun ini. Itu sudah bagus," jelasnya.

Motivasi pemerintah tersebut seiring dengan kebijakan Kementerian Perindustrian bahwa untuk pertambangan tidak boleh ekspor bahan mentah, sehingga perusahaan pertambangan wajib buat smelter atau industri pengolahan bahan baku ke bahan semi-jadi atau bahan jadi.

Kebijakan tersebut didasari atas pemikiran bahwa saat ini dan pada masa depan industri pertambangan harus memberikan nilai tambah pada bahan baku tambang di daerah tempatnya berproduksi. Dengan demikian, maka perusahaan akan menyerap tenaga kerja, modal dan pajak sehingga akan memperbesar trickle down effect bagi industri (backward dan outward industry) dan perekonomian daerah dan nasional."Nah, karena kebijakan ini maka perusahaan pertambangan wajib membuat industri pengolahan bahan baku tambangnya dan ini butuh biaya besar karena butuh investasi untuk pabrik, modal kerja, peralatan, bangunan disamping fasilitas pertambangannya,”ujarnya.

Selanjutnya, aspek negatif dari kebijakan tersebut adalah minat perusahan pertambangan menurun,”Jadi salah satu solusi adalah mencari tambahan modal di pasar saham atau lakukan IPO, tapi harus hati-hati, emiten harus mampu menyakinkan perusahaan investasi di pasar perdana bahwa saham mereka menguntungkan di pasar sekunder,”tandasnya.

Kemudian, lanjutnya, pasar juga harus diyakinkan bahwa prospek hasil tambang sangat baik dan kinerja keuangan emiten selama lima tahun belakangan harus tinggi. Itu yang ditakutkan banyak perusahaan pertambangan jika IPO di pasar modal.

Sebelumnya, Direktur Utama BEI, Ito Warsito pernah bilang, pihaknya bakal kebanjiran calon emiten yang listing di bursa pada kuartal kedua tahun ini,”Mulai ada expose ke BEI, tapi yang masuk bukan bulan ini, akan ada listing di bulan April,"ungkapnya. (ant/bani)

BERITA TERKAIT

DIALOG TINGKAT TINGGI INDO-PASIFIK

Wakil Presiden Jusuf Kalla (kanan) bersama Deputi Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters memberikan konferensi pers…

Vokasi “Link and Match” SMK dan Industri Lampaui Target

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan sebanyak 2.600 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan 750 industri yang akan terlibat dalam program…

TARGET KUNJUNGAN WISATAWAN MANCANEGARA

Sejumlah turis asing asal Republik Ceko praktek membuat batik di Museum Batik Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (20/3). Pemerintah dan Bank…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Penetrasi Pasar Ritel Modern - CSAP Resmikan Mitra10 Ke-30 di Cirebon

NERACA Jakarta – Di kuartal pertama tahun ini, PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) sukses membuka gerai bari Mitra10 ke-30…

PSAB Bukukan Laba Bersih US$ 15,29 Juta

Emiten pertambangan emas, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) mencatatkan laba bersih sepanjang tahun 2018 sebesar US$15,29 juta atau naik…

Saham IPO Wahana Interfood Oversubscribed

NERACA Jakarta - Debut perdana di pasar modal, saham PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) dibuka naik 69,7% ke level…