Kadin Usul Pembangunan Kawasan Khusus IKM Agro - Jaga Ketahanan Pangan

NERACA

Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mengusulkan pembangunan kawasan industri khusus Industri Kecil Menengah (IKM) bidang agro, untuk menjaga ketahanan pangan dan membuka pasar bagi pelaku IKM. "Terdapat beberapa manfaat jika IKM agro benar-benar dibangun. Karena seperti yang kami tahu, IKM itu tidak mudah memperoleh pasar," ujar Ketua Komite Tetap Akses Pasar bidang UKM Kadin Rifda Ammarina di Jakarta, Rabu (18/2).

Rifda mengatakan, lokasi yang tepat untuk membangun kawasan industri IKM agro tersebut adalah di Jawa Barat, antara Karawang dan Bekasi, karena tanah di Jabar dinilai cocok untuk tanaman pangan. Selain itu, lanjut Rifda, lokasi Jabar ideal karena konsumen terbesar untuk industri agro juga berada di Jawa, serta daerah tersebut dinilai terintegrasi dengan seluruh lokasi lain di Pulau Jawa, sehingga keberadaannya dapat menekan biaya logistik, yang dinilai sangat tinggi di Indonesia.

Rifda mengatakan, IKM khusus agro, yang rencananya juga dibangun lahan pertanian, akan menjaga keberlangsungan produksi pangan dan pada akhirnya menjaga stabilitas harga. "Di IKM agro itu nanti juga dibangun pabrik pengolahan untuk produk-produk agribisnis. Misalnya cabe yang diekstrak atau diolah menjadi saus sambal. Sehingga terjadi nilai tambah," kata Rifda.

Dalam hal ini, Rifda mengatakan akan meminta kepada pemerintah untuk menyediakan lahannya, sementara untuk pengelolaannya, Kadin bersedia mengambil alih.

13 Kawasan Industri

Sebelumnya, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 sudah ada 13 kawasan industri yang dijadikan target pembangunan. Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kemperin Imam Haryono menyatakan, jika 13 kawasan industri ini dioptimalkan, maka nilai investasi yang masuk mencapai Rp 192 triliun. "Setiap kawasan industri mempunyai keunggulan dan fokus industri," katanya.

Dia mengatakan, salah satu agenda prioritas pemerintah dalam lima tahun ke depan adalah mengembangkan kawasan industri di Jawa dan luar Jawa. Arah pengembangan luar Jawa menjadikan kawasan industri berbasis sumber daya alam baik terbarukan dan tidak terbarukan, meningkatkan efisiensi sistem logistik dan menjadikan kawasan industri sebagai penggerak utama pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Sedangkan arah pengembangan di Jawa menjadikan kawasan industri berbasis teknologi tinggi, kawasan industri padat karya dan kawasan industri yang berorientasi consumer goods. Berikut daftar 13 kawasan industri di Indonesia.

Pertama. Teluk Bintuni, Papua Barat, nilai investasi mencapai Rp 31 triliun, fokus industri adalah industri pupuk dan petrokimia, anchor industrinya adalah PT. Pupuk Indonesia dengan penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan mencapai 51.000.

Kedua. Buli, Halmahera Timur, Maluku Utara, nilai investasi mencapai Rp 4,4 triliun, fokus industri adalah industri Ferronikel, anchor industrinya adalah PT. Feni Haltim dengan penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan mencapai 10.000.

Ketiga. Bitung, Sulawesi Utara, nilai investasi mencapai Rp 2,5 triliun, fokus industri adalah industri agro dan logistik, anchor industrinya adalah PT. Pelindo dengan penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan mencapai 90.000.

Keempat. Konawe, Sulawesi Tenggara, nilai investasi mencapai Rp 28 triliun, fokus industri adalah industri ferronikel, anchor industrinya adalah Jiangsu Delong Nickel Industri dengan penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan mencapai 18.000.

Kelima. Morowali, Sulawesi Tengah, nilai investasi mencapai Rp 49 tiliun, fokus industri adalah industri Ferronikel, anchor industrinya adalah PT. Sulawesi Mining Investment dengan penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan mencapai 80.000.

Keenam, Palu, Sulawesi Tengah, nilai investasi mencapai Rp 12 triliun, fokus industri adalah industri rotan dan agro, anchor industrinya. PT, Bangun Palu Sulteng dengan penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan mencapai 165.000.

Ketujuh. Bantaeng, Sulawesi Selatan, nilai investasi mencapai Rp 24 triliun, fokus industri adalah industri Ferronikel, anchor industrinya adalah PT. Hwadi dan Bantaeng Sigma Energi dengan penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan mencapai 163.000.

Kedelapan. Ketapang, Kalimantan Barat, nilai investasi mencapai Rp 4 triliun, fokus industri adalah industri alumina, anchor industrinya adalah PT. Well Harvest Winning Alumina Refinery dengan penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan mencapai 10.000.

Kesembilan. Landak, Kalimantan Barat, nilai investasi mencapai Rp 1,2 triliun, fokus industri adalah industri pengolahan karet dengan penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan mencapai 33.000.

Kesepuluh. Batulicin, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, nilai investasi mencapai Rp 2,1 triliun, fokus industri adalah industri besi dan baja, anchor industrinya adalah PT. Meratus Jaya Iron and Steel dengan penyerapan tenaga secara keseluruhan mencapai 10.000.

Kesebelas. Tanggamus, Lampung, nilai investasi mencapai Rp 17 triliun, fokus industri adalah industri maritim, anchor industrinya adalah PT. Repindo Jagat Raya dengan penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan mencapai 104.000.

Keduabelas. Kuala Tanjung, Batu Bara, Sumatera Utara, nilai investasi mencapai Rp 4,5 triliun, fokus industri adalah industri alumina, anchor industrinya adalah PT. Inalum dengan penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan mencapai 113.000.

Terakhir yaitu Sei Mangkei, Simalungun, Sumatera Utara, nilai investasi mencapai Rp 9,5 triliun.

BERITA TERKAIT

Provident Agro Buyback Saham Rp 38,48 Miliar

Menjaga pertumbuhan harga saham di pasar, PT Provident Agro Tbk (PALM) telah membeli kembali sebanyak 36,72 juta saham dengan harga…

Jaga Rasio Utang Sehat

Belakangan ini sejumlah pihak membuat “gaduh” melihat membengkaknya utang pemerintah Indonesia. Meski demikian, total utang Indonesia terus bertambah dari tahun…

Depok Fokus Pembangunan Infrastruktur Pada 2019

Depok Fokus Pembangunan Infrastruktur Pada 2019 NERACA Depok - Pemerintah Kota (Pemkot) Depok, Jawa Barat, menyatakan pembangunan bidang infrastruktur, baik…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Dunia Usaha - Otomatisasi dalam Revolusi Industri 4.0 Tidak Bisa Dihindari

NERACA Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai Revolusi Industri 4.0 merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari dan harus dijalani.…

Baru 11 Persen Sawah Terima Air dari Bendungan

NERACA Jakarta – Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah akan terus membangun bendungan untuk pengairan, mengingat baru 11 persen atau sekitar…

Kawasan Industri Kendal Serap 50 Investor dan 5.000 Naker

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memberikan apresiasi kepada Kawasan Industri Kendal (KIK) yang telah mampu menarik 50 investor dengan target…