Harga Solar Tetap Rp6.400 / Liter

NERACA

Jakarta - Pemerintah memutuskan harga solar bersubsidi tetap Rp6.400 per liter dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak yang mengalami kenaikan beberapa hari terakhir.

Pelaksana Tugas Dirjen Migas Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmadja mengatakan, pemerintah tidak bisa memenuhi permintaan Komisi VII DPR untuk menurunkan harga solar.

"Tingkat harga minyak bumi saat ini dan kecenderungannya naik, oleh karena itu maka permintaan penurunan harga minyak solar tidak dapat dipenuhi," katanya, di Jakarta, Rabu (18/2).

Menurut dia, rata-rata harga indeks pasar untuk minyak solar (MOPS gasoil) pada 13 Februari 2015 meningkat sampai lebih dari 73 dolar AS per barel.

Secara rata-rata sampai saat ini, MOPS gasoil sudah 5,7 persen lebih tinggi dari rata-rata saat pembahasan dengan Komisi VII DPR pada 3 Februari 2015.

Sedangkan, MOPS gasoil periode 25 Desember 2014 sampai 16 Januari 2015 yang menjadi acuan harga Rp6.400 per liter adalah sebesar 64,86 dolar per barel.

"Harga minyak dunia mulai menunjukan kecenderungan kenaikan yang cukup panjang," ujarnya.

Wiratmadja menambahkan, keputusan harga solar Rp6.400 per liter juga mempertimbangkan kestabilan pengelolaan harga dan logistik sepanjang perbedaan harga belum signifikan dan penetapan harga bulanan sesuai rekomendasi Komisi VII DPR.

"Auditor pemerintah dan Badan Pemeriksa Keuangan akan mengaudit realisasi volume pendistribusian jenis BBM tertentu, penugasan khusus, besaran harga dasar, biaya penugasan pada periode yang telah ditetapkan, besaran subsidi, hingga pemanfaatan selisih-lebih dari harga jual eceran," ujarnya.

Untuk harga BBM lain juga diputuskan tetap yakni minyak tanah Rp2.500 per liter dan premium di luar Jawa-Bali Rp6.600 per liter.

Sebelumnya, sesuai rekomendasi Komisi VII DPR pada 3 Februari 2015, pemerintah berencana menurunkan harga solar menjadi Rp6.200 per liter mulai pertengahan Februari 2015.

Namun, mengingat harga minyak mengalami kenaikan, pemerintah memutuskan harga solar tetap Rp6.400 per liter.

Sebelumnya, saat rapat DPR dan Kementrian ESDM, pemerintah di desak oleh sejumlah fraksi di Komisi VII DPR RI untuk menurunkan harga solar dari Rp 6.400 menjadi Rp 6.000 per liter.

Fraksi Gerindra adalah salah satu yang memberikan pandangan sebaiknya, harga solar diturunkan menjadi Rp 6.000 per liter. Menurut Fraksi Gerindra, angka Rp 6.000 itu tidak merugikan PT Pertamina, tapi juga tidak membebani APBN. Hal senada juga disampaikan fraksi PKS dan fraksi PKB yang juga meminta pemerintah untuk menurunkan harga solar menjadi Rp 6.100 per liter.

Sementara anggota Komisi VII DPR-RI, Supratman Andi Agtas menambahkan, mayoritas fraksi di Komisi VII DPR-RI sependapat jika pemerintah menurunkan harga solar. Parlemen sudah sepakat untuk menaikkan alpha dari Rp 700 per liter menjadi Rp 1.000 per liter untuk solar,”Intinya kita mau kenaikan alpha itu berpengaruh pada harga minyak. Kami berharap semakin cepat menurunkan solar jadi Rp 6.000 per liter, semakin baik bagi rakyat," ucap Supratman. [agus]

BERITA TERKAIT

Tokopedia Tetap Fokus Jadi Super Ecosystem

NERACA Jakarta – Di usia  ke-10, Tokopedia mengumumkan komitmennya menjadi super ecosystem, infrastruktur menyeluruh yang bisa mempermudah masyarakat Indonesia lewat…

Pemerintah Serius Atur Strategi Tekan Harga Tiket Pesawat

NERACA Jakarta – Pemerintah sedang mengatur strategi untuk menekan harga tiket pesawat agar tidak terlalu tinggi sehingga masyarakat mampu membeli…

HARGA GARAM

Petani memanen garam di Desa Bunder, Pamekasan, Jawa Timur, Selasa (13/8). Sebagian petani dan buruh tani di daerah itu enggan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Defisit BPJS Kesehatan Tahun Ini Diprediksi Meningkat

      NERACA   Jakarta – Defisit BPJS Kesehatan pada tahun ini diprediksi semakin meningkat. Hal itu seperti dikatakan…

Meccaya Pharmaceutical Genjot Kapasitas Produksi hingga 150%

    NERACA   Jakarta – PT Meccaya Pharmaceutical ingin menambah kapasitas produksi terutama dengan penambahan mesin-mesin yang modern dan…

Potensi Pasar Besar, Acer Masuk Bisnis Solusi IoT

    NERACA   Jakarta - Menyambut megatrend big data, Acer hadir sebagai perusahaan TI yang end-to-end, memperkenalkan solusi teknologi…