Laba Dharma Satya Melesat Tajam 201,3% - Harga CPO Mengalami Pertumbuhan

NERACA

Jakarta – Emiten sektor perkebunan sawit, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) membukukan laba bersih sepanjang tahun 2014 sebesar Rp649,8 miliar atau melesat 201,3% dibandingkan tahun sebelumnya senilai Rp215,7 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Kata Direktur Utama PT Dharma Satya Nusantara Tbk, Djojo Boentoro, kenaikan laba bersih tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan bersih perseroan, khususnya yang berasal dari industri kelapa sawit. Selama 12 bulan tahun lalu, perseroan berhasil meraih pendapatan bersih sebesar Rp4,90 triliun atau naik 27,5% dibandingkan 2013.

Dia mengungkapkan, industri kelapa sawit masih memberikan sumbangan terbesar pendapatan bersih perseroan tahun lalu, yakni mencapai Rp3,52 triliun atau 72,0% dari total pendapatan bersih perusahaan. Laba bruto perseroan tahun lalu juga meningkat sebesar 43,6% menjadi Rp1,71 triliun dibandingkan 2013 sebesar Rp1,19 triliun. Dengan demikian, margin laba bruto mengalami kenaikan dari 31,0% di tahun sebelumnya menjadi 34,9% pada 2014.

Sedangkan laba usaha perseroan terkerek sebesar 63,7% menjadi Rp1,08 triliun dibandingkan tahun sebelumnya mencapai Rp656,9 miliar,”Margin laba usaha juga meningkat dari 17,1% menjadi 22,0%," ucapnya.

Dengan demikian, laba per saham perseroan pada tahun lalu Rp306,5 atau naik 201,3% dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp101,82,”Pada tahun lalu, kami masih mampu mempertahankan kinerja keuangan dan operasionalnya, yang didorong oleh adanya peningkatan pendapatan dari sektor industri kelapa sawit," tutup Djojo.

Meskipun di tahun 2014, harga komoditas belum mengalami pemulihan, namun beberapa emiten perkebunan sawit mampu mencatatkan kinerja keuangan yang positif. Tengok saja, selain DSNG yang mampu membukukan laba melesat tajam, juga hal yang sama dialami PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang berhasil membukukan pendapatan dari penjualan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan kernel sebesar Rp13,25 triliun. Dimana pendapatan tersebut hanya naik tipis 4,83% dibanding tahun 2013 sebesar Rp 12,64 triliun.

Di tahun ini, emiten sektor perkebunan sawit diproyeksikan masih akan membukukan kinerja keuangan yang positif. Analis Ciptadana Sekuritas Andre Varian menilai, ada sejumlah katalis yang mendukung emiten perkebunan pada tahun ini. Selain pelemahan rupiah, emiten perkebunan akan menikmati kenaikan harga CPO. Sejak awal tahun 2015, harga minyak sawit mulai bangkit. Pemicunya adalah banjir yang melanda Malaysia, produsen CPO terbesar kedua di dunia,”Hingga April, masih ada peluang kenaikan harga minyak sawit," katanya.

Hal senada juga disampaikan analis Mandiri Sekuritas Hariyanto Wijaya. Menurutnya, hujan lebat dan banjir yang berkepanjangan di Malaysia dapat mengganggu produksi CPO di Malaysia. Sementara analis Buana Capital Teuku Hendry Andrean menuturkan, terlepas efek banjir, kenaikan harga CPO di kuartal pertama memang bersifat seasonal. "Biasanya, harga turun sejak Oktober hingga November, kemudian mulai naik pada Maret hingga April," jelasnya.

Sementara Andre menyebutkan, kenaikan permintaan dari India menjadi sentimen positif bagi emiten perkebunan. Saat ini, importir CPO terbesar di dunia ini mengalami defisit edible oil. Kebutuhan itu hanya dapat dipenuhi melalui impor, karena luas lahan tanam dan cuaca tak mendukung untuk meningkatkan produksi domestik. (bani)

BERITA TERKAIT

Perlonggar Likuiditas, Jika Ingin Memacu Pertumbuhan

Oleh: Piter Abdullah R, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Untuk pembenahan sektor manufaktur, kuncinya adalah bagaimana…

Pentingnya Inklusivitas Sosial untuk Pertumbuhan Berkualitas

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, inklusivitas sosial atau memastikan seluruh warga mendapatkan…

Laba Bersih Selamat Sempurna Naik 11,5%

Sepanjang tahun 2018, PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) berhasil membukukan laba Rp556,9 miliar meningkat 11,5% dibandingkan tahun sebelumnya Rp499,43 miliar.…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Astrindo Raih Pendapatan US$ 27,16 Juta

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) membukukan pendapatan sebesar US$27,16 juta atau melesat…

Optimalkan Tiga Lini Bisnis Baru - Mitra Investindo Siapkan Capex US$ 3 Juta

NERACA Jakarta – Menjaga keberlangsungan usaha pasca bisnis utama terhenti pada akhir tahun lalu, PT Mitra Investindo Tbk (MITI) bakal…

Laba Betonjaya Melesat Tajam 144,59%

Di tahun 2018, PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON) mencatatkan laba tahun berjalan senilai Rp27,81 miliar atau naik 144,59% dibandingkan periode…