Pan Brothers Akuisisi Dua Pabrik di Semarang

NERACA

Jakarta –Perusahaan garmen PT Pan Brothers Tbk (PBRX) melalui anak usahanya PT Pancaprima Ekabrothers berencana mengakuisisi dua perusahaan garmen yang berlokasi di Semarang, Jawa Tengah,”Perseroan saat ini sedang melakukan pembicaraan yang intens dengan pemegang saham perusahaan target,”kata Direktur PBRX Fitri Ratnasari Hartono dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Disebutkan, kedua perusahaan tersebut, yaitu PT Matrix Indo Global dan PT Maxmoda Indo Global. Lebih lanjut dia menjelaskan, besaran transaksi untuk kedua perusahaan target tidak sampai 5% dari total ekuitas perseroan per Juni 2014 sebesar US$ 192,62 juta.

Sedangkan latar belakang pengambilalihan saham kedua perusahaan, menurut dia, karena jenis produksi kedua perusahaan itu berbeda dengan yang saat ini diproduksi oleh PBRX maupun anak usahanya,”PBRX yakin pengambilalihan kedua perusahaan ini akan melengkapi jenis produksi dan memperkuat daya tawar perusahaan," tandasnya.

Tahun ini, perseroan menambah kapasitas produksi 27 juta - 30 juta potong pakaian dari empat pabrik baru. Tambahan produksi itu akan menggenapi total kapasitas produksi tahun 2015 menjadi 69 juta - 72 juta potong pakaian. Hingga akhir tahun 2014, kapasitas produksi perseroan mencapai 42 juta potong pakaian per tahun. Kemudian untuk penjualan 2015, Pan Brothers menargetkan tumbuh 20-25% dengan nilai penjualan sebesar US$ 508,8 juta- US$ 530 juta.

Perseroan mengklaim, pertumbuhan penjualan di 2015 sama dengan raihan yang ada di tahun 2014. Dimana raihan penjualan sebesar 20-25% bisa membukukan penjualan sekitar US$ 407,66 juta-US$ 424,65 juta. Disebutkan, ada empat pabrik anyar berlokasi di Boyolali, Jawa Tengah. Dua pabrik beroperasi akhir tahun 2014. Lantas, dua pabrik lain akan beroperasi Maret 2015.

Sebelumnya, perseroan juga mendirikan tiga perusahaan baru melalui joint venture (JV) dengan nilai setoran modal mencapai Rp 86,11 miliar,”Ada tiga perusahaan baru yang dibentuk melalui perusahaan patungan," kata Direktur Pan Brothers Fitri Ratnasari Hartono dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (29/12).

Ketiga perusahaan itu adalah PT Prima Sejati Sejahtera yang bergerak di industri garmen dengan setoran modal dari Pan Brothers sebesar Rp 2,47 miliar atau setara 99% dari modal ditempatkan dan disetor. Kedua, PT Teodore Pan Garmindo, dengan setoran modal Rp 47,94 miliar atau setara 51% kepemilikan di industri garmen,”Selanjutnya, PT Victory Pan Multitex di industri benang dan tekstil, dengan setoran modal Rp 35,7 miliar atau setara 51% kepemilikan," kata Fitri.

Fitri menambahkan, perseroan juga telah melakukan penyetoran tambahan modal untuk mempertahankan kepemilikan kepada beberapa anak usaha,”Sebanyak Rp 99,9 miliar disetorkan ke PT Pancaprima Ekabrothers atau sebesar 99,91% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Kemudian, kepada PT Ocean Asia Industry, disetorkan Rp 12,44 miliar atau 51% kepemilikan," kata dia.

Dia juga mengabarkan, perseroan juga akan menambah beberapa lokasi pabrik baru pada 2015-2016. PT Pan Brothers Tbk mencatatkan penurunan penjualan di kuartal tiga 2014 sebesar 4,3% menjadi US$ 252,78 juta, dibandingkan perolehan priode yang sama tahun lalu sebesar US$ 264,14 juta.

Wakil Direktur PT Pan Brothers Tbk, Anne Patricia Sutanto pernah bilang, penurunan penjualan 4,3% di sembilan bulan pertama tahun 2014 dikarenakan adanya penundaan pengiriman, “Penurunan dikarenakan ada beberapa shipment yang seharusnya di deliver September 2014, menjadi ke Oktober, November dan Desember 2014. Ada juga yang ke Januari dan Februari 2015. Sehingga masih berada di inventori dan bukan masuk sales,”ungkapnya.

Menurut Anne, hal itu bukan karena keterlambatan, tapi buyer meminta ditunda pengirimannya. Lantaran Shipment Instruction itu datang dari buyer,"Kami tidak bisa memaksakan pengiriman, hal ini kemungkinan buyer tertentu melakukan perubahan strategi marketing. Sehingga jadwal masuknya produk ke toko digeser dan berdampak juga pada pengiriman produsen,”tandasnya.

Dia menjelaskan, dengan terjadinya penurunan, maka laba bersih perseroan mengalami penurunan. Penurunan laba dikarenakan tertundanya pengiriman barang dan ada selisih kurs antara rupiah dan dolar Amerika Serikat,”Dari rugi selisih kurs, karena konversi rupiah ke dollar AS. Ini merupakan unrealized loss, karena berubah seiring pergerakan kurs dan selisih ini bukan riil, karena pencatatan saja. Ini terkait dana hasil PUT 3," tuturnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Swasta Minat Bangun Pabrik Ban di Sumsel

Swasta Minat Bangun Pabrik Ban di Sumsel NERACA Palembang - Perusahaan swasta PT Yuassa Batery Indonesia berminat membangun pabrik ban…

Pengusaha Suriah Jajaki Bangun Pabrik di Indonesia

NERACA Jakarta – Para pengusaha asal Suriah yang tergabung dalam Arrasyid for Industry and Trade Group menggandeng Kedutaan Besar Republik…

KINO Akuisisi Kino Food Rp 74,88 Miliar

PT Kino Indonesia Tbk (KINO) akan menjadi pemegang saham pengendali PT Kino Food Indonesia. Rencana itu tertuang dalam perjanjian Jual…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…