Mengembangkan Penelitian Ilmiah di Bidang Peningkatan Hujan - Meningkatkan Keamanan Persediaan Air

Bumi akan mengalami lebih sedikit hujan di masa depan karena pemanasan global.Guna meningkatkan keamanan persediaan air, Uni Emirat Arab (UEA) meminta ilmuwan di seluruh dunia membuat hujan.

NERACA

Air mulai dianggap sebagai barang langka karena kebutuhan air penduduk dunia semakin meningkat dari hari ke hari. Hampir separuh populasi bumi bakal menghadapi krisis air bersih yang diprediksi terjadi pada 2050.

Komposisi air di bumi adalah 70% dari total permukaan bumi dengan jumlah kira-kira 1,4 ribu juta kilometer kubik, namun hanya sebagian kecil saja dari jumlah ini yang dapat benar-benar dimanfaatkan yaitu kira-kira hanya 0,003%.

Sebagian besar air (kira-kira 97%) ada dalam samudera atau laut, dan kadar garamnya terlalu tinggi sehingga tidak dapat langsung dimanfaatkan. Dari 3% sisanya yang ada (kira-kira 87%), tersimpan dalam lapisan kutub atau sangat dalam di bawah tanah.

Dampak dari perubahan iklim dunia terhadap sumber air belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, estimasi terbaru menyebutkan, perubahan iklim global menyebabkan kelangkaan air global hingga 20%.

Dalam publikasi di jurnalNature, ilmuwan mengungkapkan bahwa pemanasan global yang disebabkan oleh gas rumah kaca dari aktivitas manusia memiliki dampak berbeda dari pemanasan yang hanya disebabkan oleh peningkatan radiasi Matahari.

Menurut para ilmuwan, perbedaan tersebut disebabkan karena gas rumah kaca memicu pemanasan pada zona atmosfer berbeda. Gas rumah kaca memperkecil perbedaan temperatur antarlapisan atmosfer. Atmosfer menjadi lebih stabil sehingga curah hujan menurun.

Guna meningkatkan keamanan persediaan air, Uni Emirat Arab (UEA) menjalin kerjasama internasional dalam penelitian ilmiah dan pengembangan di bidang peningkatan hujan. Setelah peluncuran resmi 'UAE Research Programme for Rain Enhancement Science', yang diresmikan oleh Ahmed Al Juma Zaabi, Wakil Menteri Luar Negri Presiden Uni Emirat Arab meminta para ilmuwan untuk membantu membuat hujan dengan mengirimkan pra-proposal mereka secara online, sebelum tanggal penutupan16 Maret 2015.

Maksud penelitian ini bahwa program untuk mengatasi meliputi pemahaman dasar peningkatan curah hujan, pemodelan data, analisis, dan evaluasi. serta desain eksperimen, teknologi dan instrumentasi.

Direktur Eksekutif Pusat Nasional Meteorologi dan Seismologi, Dr Abdullah Al Mandoos mengatakan, Program Penelitian ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi para peneliti yang tertarik di bidang peningkatan hujan untuk memajukan keterampilan dan keahlian mereka bekerja sama secara global bekerja pada pengembangan solusi potensial untuk keamanan air untuk membawa kesehatan dan kesejahteraan dunia.

"Kami mendesak para peneliti dari seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam program inovatif ini dengan mengirimkan ide-ide mereka di awal. Bersama-sama, kita bisa membawa air, dan karena itu hidup dan kesejahteraan, bahkan ke daerah terkering di dunia," ujar dia.

Untuk ikut program ini, peserta disarankan untuk menyerahkan Letter of Intent (LOI) dengan 16 Februari Batas waktu pengajuan pra-proposal adalah 16 Maret. Lima penerima beasiswa akan dipilih oleh proses review dua tahap, dan menerima hibah total $ 5 juta, yang akan tersebar selama periode tiga tahun. Para pemenang akan diumumkan pada bulan Januari 2016, dengan proyek-proyek dimulai satu bulan kemudian.

"Pada akhirnya kita dapat membangun teknologi sebagai alat yang dapat diandalkan untuk pembesaran air tawar, meningkatkan verifikasi peningkatan hujan saat ini, meningkatkan kemampuan prediktif untuk target operasi penyemaian awan, dan juga mengintegrasikan teknik-teknik baru atau teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasi penyemaian awan," kata Manager - UAE Program for Rain Enhancement Science, Alya Al Mazroui.

Sebelumnya pada 2011 lalu, ilmuwan UEA mengklaim telah menurunkan hujan di Al Ain, di Timur Abu Dhabi, menggunakan teknologi yang didesain mengontrol cuaca. Saat cuaca cerah dan tak berawan, di padang tandus dan tak berawan ini ternyata bisa diciptakan hujan deras berkali-kali dengan teknologi canggih.

Mereka menggunakan ioniser raksasa, rangka baja yang bentuknya seperti penutup lampu — untuk menghasilkan partikel negatif. Alat ini akan mendorong terbentuknya formasi awan — yang diharapkan akan memicu turunnya hujan.

BERITA TERKAIT

Macetnya Regenerasi Bidang Pertanian

    NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti (SDID) Kemenristekdikti Prof Ali Ghufron Mukti mengatakan regenerasi…

DLHK Tangerang Sarankan Air Sungai Hanya untuk Kebutuhan Pertanian

DLHK Tangerang Sarankan Air Sungai Hanya untuk Kebutuhan Pertanian NERACA Tangerang - Aparat Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten…

Bidik Pendapatan Recurring Income - PTPP dan KS Bikin Perusahaan Air Minum

NERACA Jakarta – Kembangkan ekspansi bisnis di luar bisnis inti, PT PP (Persero) Tbk (PTPP) membentuk usaha patungan dengan PT…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

10% Soal UN Ketegori HOTS

    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan, sebanyak 10 persen dari soal Ujian Nasional (UN) kategori kemampuan berpikir tingkat…

Siapapun Bisa Mengenyam Pendidikan Di UI

      Kuliah di Universitas Indonesia (UI) merupakan hal yang menjadi dambaan banyak siswa untuk melanjutkan pendidikan di perguruan…

7.000 Jurnal Ditargetkan Terakreditasi

    Pemerintah menargetkan dapat mengakreditasi 7.000 jurnal secara nasional dalam jangka waktu dua tahun. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan…