Syarat Mobnas, Komponen Lokal Minimal Harus 85%

NERACA

Baru-baru ini isu mobil nasional (mobnas) sempat menjadi topik utama para netizen. Tidak sedikit para pegiat media sosial itu ramai-ramai menyatakan kekecewaannya lantaran Pemerintah diduga menggaet perusahaan otomotif kebanggaan Malaysia, Proton, demi mewujudkan mimpi Indonesia tentang mobil yang komponennya di produksi di negara sendiri.

Beragam tanggapan pun berseliweran lalu lalang dengan bebas di media sosial. Gara-gara perang cuit di Twitter mengenai penandatanganan kerja sama antara CEO Proton dan CEO PT Adiperkasa Citra Lestari yang disaksikan oleh Presiden Jokowi itu, 2 orang harus terlibat adu jotos di Istora Senayan, Jakarta, Rabu 11 Februari malam lalu.

Meluruskan desas-desus soal mobnas tersebut, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa pemerintah tidak berencana membuat mobil nasional dalam waktu dekat ini. Dia menegaskan kerja sama antara Adiperkasa dan Proton adalah murni hubunganbusiness-to-businessbiasa.

Terlepas dari kontroversinya yang mencuat saat ini, program mobnas dibebani sejumlah syarat, antara lain mengenakan merek sendiri serta diproduksi dan menggunakan komponen dalam negeri.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengatakan memang belum ada definisi yang pasti soal mobnas. Namun, bagi BKPM sebuah mobil disebut sebagai mobnas, bila komponen lokal atau Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 85%.

"Esensinya adalah kalau BKPM melihat bahwa apa definisi mobil nasional. Bagi kami mobnas itu TKDN itu harusnya di atas 85% atau bahkan 90%. Kemudian yang kedua, tidak selalu harus menggunakan brand sendiri. Kalau kita lihat dari realita sebetulnya ada beberapa mobil yang khususnya LCGC, komponennya di atas 90%, diproduksi dalam negeri, desainnya oleh bangsa Indonesia," tutur dia.

Maih ingat dengan program mobnas besutan PT Timor Putra NasionalmilikTommy Soeharto? Di masanya, agar disebut sebagai mobnas, mobil Timor dibebani beberapa persyaratan seperti menggunakan komponen lokal dan di produksi di dalam negri. Lalu, ada target kandungan lokal mobnas, yang tahun pertama sebesar 20%, tahun kedua 40%, dan tahun ketiga 60%.

Karena kelahiran mobnas kala itu terhambat persiapan dan biaya, maka syarat diproduksi di dalam negri kemudian diperluas, yakni mobil yang diproduksi di luar negeri oleh tenaga kerja Indonesia dan memenuhi kandungan lokal sama dengan mobnas buatan dalam negeri.

Sayangnya, program mobnas Timor ini harus kandas ditengah jalan. Lantaran mendapat perlakuan fasilitas pembebasan bea masuk impor mobil, sehingga dapat leluasa mengimpor produk mobil Kia dari Korea Selatan, memicu beberapa negara seperti Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa menjadi meradang dan menggugat Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization atau WTO) karna perlakuan diskriminatif tersebut.

BERITA TERKAIT

Pengelola APBD 600 Miliar Diperebutkan 4 Pejabat Lokal - Lelang Jabatan Kota Depok

Pengelola APBD 600 Miliar Diperebutkan 4 Pejabat Lokal Lelang Jabatan Kota Depok NERACA Depok - ‎Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya…

Nasib Bank Lokal?

Maraknya investor asing mengincar kepemilikan sejumlah bank lokal belakangan ini patut menjadi perhatian kita semua. Pasalnya, pada tahun ini diperkirakan…

Pers Harus Independen dan Objektif

Pers Harus Independen dan Objektif NERACA Jakarta - Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo menekankan yang dituntut dari lembaga pers…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Pariwisata, Pencetak Devisa Cepat

Selain Tanjung Kelayang, pemerintah akan membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di sektor pariwisata di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kawasan yang…

Ajang MotoGP: Manfaat Bagi Pariwisata Dan Olahraga

Presiden Jokowi menyebut ajang balap motor bergengsi MotoGP akan membawa dua kemanfaatan bagi Indonesia dari sisi olahraga dan pariwisata. "Kita…

Upaya Mendukung Penguatan Desa Adat di Bali

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan 1.000 persen mendukung dan siap membahas lebih lanjut inisiatif untuk memberikan alokasi anggaran bagi…