Ekonomi AS Membaik, Harga Batubara Diprediksi "Rebound"

NERACA

Jakarta – Harga Batubara Acuan (HBA) yang ditetapkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Februari 2015 sebesar US$ 62,92 per ton. Harga tersebut terbilang melemah dibandingkan dengan Januari kemarin sebesar US$68,34 per ton. Namun begitu, Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Sujatmiko memprediksi penurunan harga batubara tidak akan berlangsung lama.

Menurut Sujatmiko, dengan perekonomian di Amerika Serikat yang mulai kondusif maka harga batubara akan kembali terkerek naik. “HBA Februari US$ 62,92 per ton. Melemahnya harga ini tidak lama dan akan segera rebound. Karena kondisi ekonomi Amerika mulai membaik,” kata Sujatmiko di Jakarta, Selasa (17/2).

Dia menuturkan, meningkatnya konsumsi dalam negeri Amerika Serikat membuat sejumlah negara menggenjot produksi barang-barang yang dipasarkan di negeri Paman Sam tersebut. Negara-negara yang dimaksud itu antara lain Tiongkok, Korea Selatan dan India.

Ketiga negara itu merupakan pengguna batubara terbesar di dunia sehingga bisa mempengaruhi fluktuasi harga komoditas. Peningkatan produksi di ketiga negara itu juga membutuhkan tambahan energi yang artinya banyak batubara diserap. Dengan begitu maka harga batubara akan merangkak naik. “Kebutuhan energi itu akan menyerap batubara sehingga harga naik bisa sampai level US$ 70 per ton,” ujarnya.

Sekadar kilas balik, HBA Januari 2014 sebesar US$ 81,90 per ton. Harga tersebut bergerak turun ke level US$ 80,44 per ton pada Februari. Di bulan berikutnya tren penurunan masih terjadi dikisaran US$ 77,01 per ton. Selanjutnya, di April 2014 HBA melemah menjadi US$ 74,81 per ton. Begitu pula pada Mei 2014 HBA turun lagi menjadi US$ 73,60 per ton. Pada akhir 2014 harga batubara diposisi US$ 64,65 per ton.

Deddy Yusuf Siregar, Research and Analyst PT Fortis Asia Futures, mengatakan, harga batubara mendapat dukungan dari isu penurunan produksi. Departemen Energi AS (EIA) melaporkan, salah satu produsen batubara terbesar di Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengalami penurunan produksi batubara mingguan. Pada periode pekan yang berakhir pada 7 Februari 2015, produksi batubara AS diperkirakan turun menjadi 18,1 juta metrik ton. Padahal, pekan sebelumnya, produksi batubara tercatat sebesar 20,1 juta metrik ton.

Produksi batubara yang merosot sebesar 10% ini, memberikan sentimen positif bagi komoditas tersebut, setelah harga bergerak landai sepanjang tahun lalu. "Kondisi ini mendukung kenaikan harga batubara dalam jangka pendek," ungkap Deddy, seperti dikutip.

Penguatan harga batubara juga disokong oleh kenaikan harga minyak mentah di pekan lalu. Pada Jumat (13/2), harga minyak bercokol di US$ 52,78 per barel. Minyak mencoba naik perlahan, setelah sempat menjajal level terendah di US$ 44,45 per barel pada 28 Januari. Seiring rebound harga minyak tersebut, batubara ikut terangkat.

Kedati demikian, selama harga minyak belum mampu menembus level resistance baru di US$ 55 per barel, harga batubara masih sulitmenanjak lebih jauh lagi. Tapi bila harga minyak sudah melampaui US$ 55 per barel, harga batubara berkesempatan menguji level resistance baru di US$ 74 per metrik ton.

Akan Membaik

Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Bob Kamandanu, memprediksi, harga batu bara tahun depan akan mencapai USD67 hingga USD70 per ton. “Sekarang ini diharga USD63 pengusaha sudah berdarah-darah. Kalau semua orang dorong pengurangan volume produksi, harga akan membaik lagi," ujarnya.

Bob menambahkan, produksi batu bara nasional tahun ini diperkirakan tak mencapai target. "Produksi tahun ini masih di atas 400 juta ton tapi tetap di bawah target pemerintah, 420 juta ton. Ini karena rendahnya harga batu bara," terang dia.

Selain harga rendah, larangan ekspor batu bara turut membuat target produksi tak tercapai. "Target produksi tak tercapai juga karena ada regulasi larangan ekspor batu bara. Jadi kita enggak bisa ekspor. Tapi saya setuju kalau volume penjualan ke luar negeri di-cut karena bisa meningkatkan harga batu bara," ujarnya.

Sementara itu, untuk tahun depan, dirinya berharap agar target produksi bisa dikurangi demi mendongkrak harga. "Supaya harga batu bara kembali naik, produksi tahun depan di targetkan di bawah 400 juta ton. Kalau bisa dipangkas 100 juta ton," tutupnya.

BERITA TERKAIT

Harga Saham Melorot Tajam - Saham Cottonindo Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta - Perdagangan saham PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) karena mengalami…

Patok Harga IPO Rp 103 Per Saham - Nusantara Properti Raup Dana Rp 200 Miliar

NERACA Jakarta – Menyusul emiten yang sudah tercatat di pasar modal awal tahun ini, bakal di ikuti PT Nusantara Properti…

Harga IPO Rp 180 Per Saham - Citra Putra Realty Raup Dana Rp 93,6 Miliar

NERACA Jakarta – Resmi mengantungi pernyataan efektif untuk melakukan penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) dari Otoritas…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Data BPS - Ekspor Industri Pengolahan Turun 6,92 Persen di Desember 2018

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melansir ekspor industri pengolahan pada Desember 2018 mengalami penurunan 6,92 persen jika dibandingkan…

Penurunan Tarif Penerbangan Oleh Maskapai Diapresiasi

NERACA Jakarta – Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengapresiasi penurunan tarif penerbangan yang disepakati oleh seluruh maskapai anggota…

GSP Bakal Dibahas Dengan Dubes Perdagangan AS

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita dalam kunjungannya ke Amerika Serikat bakal membahas secara bilateral mengenai penerapan "Generalized…