Pemerintah Perlu Optimalisasi Fungsi “Sabuk” Jakarta - Dukung Perkembangan Industri Properti

NERACA

Jakarta— Pasar properti Indonesia, khususnya Jakarta masih memiliki prospek pertumbuhan yang besar diberbagai sektor. Hal itu yang mendorong minat investor, tidak hanya investor lokal, namun juga investor asing yang melihat potensi permintaan berbagai produk properti khususnya yang menyasar kelas menengah dan atas di Ibukota.

Kebijakan Pemerintah pusat dan propinsi, sangat menentukan arah pengembangan bisnis properti di DKI Jakarta. Dalam pembangunan infrastruktur, misalnya, pembangunan tol lingkar luar Jakarta atau Jakarta Outer Ring Road (Tol JORR) terbukti menjadi faktor positif penggerak pengembangan sejumlah wilayah Jakarta.

Amran Nukman, Ketua Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) DKI Jakarta menyebutkan fungsi Tol JORR, harus lebih dioptimalkan sebagai sabuknya Jakarta yang memeratakan beban lalu lintas dan intensitas kegiatan penyokong pertumbuhan sentra ekonomi baru. Untuk itu pemerintah propinsi perlu peningkatan penataan ruang sepanjang JORR.

“Saat ini, sepanjang JORR, sudah banyak dibangun hunian vertikal, dan perkantoran. Dibutuhkan juga fasilitas pendukung termasuk pusat ritel-ritel baru. Pemerintah propinsi diharapkan menyediakan dan memperbanyak akses tranportasi publik yang melintasi daerah sabuk Jakarta itu. Semua itu memerlukan dorongan kuat dan keseriusan pemerintah,” paparnya kepada sejumlah wartawan dalam acara Pembukaan Property Expo BTN-REI, Sabtu (14/2), di Jakarta Convention Centre.

Terkait penataan ruang, pengembang melihat saat ini, pemerintah jalan sendiri tanpa melibatkan stakeholder lainnya. “Tiba-tiba kita terima, sudah ada aturan atau kebijakan baru. Harusnyakan pemerintah tidak begitu,” kritiknya.

Problematika Jakarta yang super kompleks, tambahnya, membutuhkan pemecahan masalah, multidisiplin ilmu. Untuk itu dalam perencanaan dan pengisian Tata Ruang Jakarta ia meminta perlu pelibatan seluruh stakeholder terkait.

Misalnya, dalam TPAK (Tim Penilai Arsitektur Kota) perlu melibatkan Asosiasi terkait seperti IAI, mewakili arsitektur, IAP dari unsur perencana kota (planologi) , MTI sebagai perwakilan masyarakat transportasi serta REI sebagai asosiasi pengembang dan stakeholder lainnya.

“Yang terjadi selama ini, karena tidak melibatkan stakeholder terkait, banyak keputusan atau kebijakan tata ruang yang dibuat sendiri oleh pemerintah tidak bisa atau sulit dijalankan”. Jika REI dilibatkan, tambah Nukman, maka mereka bisa memberikan masukan. Karena pelaku lebih tahu masalah, dan bisa memberikan solusi yang lebih konstruktif bagi pembangunan Jakarta.

Pemerataan Ruang Ritel

Banyak anggapan, Jakarta bertabur pusat perbelanjaan alias ruang ritel. Hal itu kerap dituding menjadi biang kemacetan. Padahal menurut Lukman Purnomosidi, Ketua Kehormatan REI, padatnya kondisi jalan di wilayah sekitar pusat belanja adalah merupakan penanda persebarannya yang kurang merata.

Jakarta, dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 10 juta orang, dengan jumlah ruang ritel yang tersedia baru sebanyak 3,9 juta meter persegi, terbilang jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan kota-kota besar di ASEAN dan mancanegara.

Hanya saja, pembangunan ritel di Jakarta selama ini terfokus pada area-area tertentu sehingga terlihat menumpuk di satu lokasi. Itulah yang membuat Jakarta seperti kelebihan ruang ritel. Padahal, di Jakarta masih terdapat area-area lain yang bisa dikembangkan untuk pusat perbelanjaan. Secara makro, kawasan Jakarta Timur memiliki potensi besar untuk dikembangkan pusat perbelanjaan baru.

Ketua REI periode 2004-2007 tersebut menjelaskan, saat ini distribusi penyebaran ruang ritel di Jakarta, tertinggi masih diarea Central Business District 22%, Jakarta Selatan 21,4%, Jakarta Utara 19,9%, Jakarta Barat 17,5%, Jakarta Pusat 11,2%, dan yang terendah adalah Jakarta timur, hanya 8,1%.

“Karena itu Jakarta perlu memeratakan lokasi-lokasi ritel supaya tidak terkonsentrasi di pusat kota.,” tambahnya. Hal itu lanjutnya bisa dilakukan, dengan melakukan optimalisasi fungsi tol JORR dan penataan peningkatan intensitas tata ruang di sabuk Jakarta itu.

Sebagai informasi, tol JORR adalah rangkaian jalan tol yang melingkari bagian luar Jakarta, sering disebut “sabuk” Jakarta. Jalan tol pertama yang dibangun dan kemudian menjadi bagian dari JORR adalah jalan tol di Jalan T.B. Simatupang. Saat ini, tol JORR sudah sampai gerbang tol Cakung yang termasuk kawasan Jakarta Timur.

Tol JORR sendiri terbagi menjadi 3 bagian besar: ruas Ulujami—Rorotan, ruas Kembangan—Penjaringan, dan ruas Kembangan—Ulujami. Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta ini adalah alternatif bagi warga Tangerang atau Jakarta yang menuju Bekasi, Bogor, Depok, dan kota-kota lainnya.

BERITA TERKAIT

Kementan Optimis 2020 Mengekspor Beras

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian optimis akan mengekspor beras disamping memenuhi kebutuhan dalam negeri. Hal ini sesuai dengan instruksi Presiden…

Cargill Komit Mendukung Masyarakat dalam Pelestarian dan Perlindungan Hutan

 NERCA Jakarta - Cargill yang merupakan perusahaan memproduksi minyak sawit berkelanjutan memberikan pendanaan sebesar Rp 49 miliar (US$ 3,5 juta)…

Sinergi Kemendag dan Pemerintah Papua Barat Pastikan Harga Bapok Stabil

Sorong - Kementerian Perdagangan (Kemendag) bersinergi dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha di Papua Barat untuk memastikan stabilitas harga dan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kementan Optimis 2020 Mengekspor Beras

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian optimis akan mengekspor beras disamping memenuhi kebutuhan dalam negeri. Hal ini sesuai dengan instruksi Presiden…

Cargill Komit Mendukung Masyarakat dalam Pelestarian dan Perlindungan Hutan

 NERCA Jakarta - Cargill yang merupakan perusahaan memproduksi minyak sawit berkelanjutan memberikan pendanaan sebesar Rp 49 miliar (US$ 3,5 juta)…

Sinergi Kemendag dan Pemerintah Papua Barat Pastikan Harga Bapok Stabil

Sorong - Kementerian Perdagangan (Kemendag) bersinergi dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha di Papua Barat untuk memastikan stabilitas harga dan…