Optimalkan Devisa Hasil Ekspor SDA Indonesia

NERACA

Jakarta - Citi Indonesia memfasilitasi kegiatan sosialisasi dan diskusi mendalam mengenai implikasi pemberlakuan wajib letter of credit (L/C) pada ekspor komoditas unggulan Indonesia. "Citi Indonesia selalu berupaya untuk dapat menunjang efisiensi dan efektifitas transaksi keuangan nasabah korporasi kami dengan menghadirkan teknologi dan inovasi yang juga meningkatkan akurasi serta keamanan fasilitas kami," ungkap Chief Country OfficerCiti Indonesia, Tigor M. Siahaan, di Jakarta, Senin (16/2).

Pemberlakuan peraturan ini, kata Tigor, tentunya akan banyak memberikan perubahan arus transaksi di industri terkait. Oleh karena itu, Citi dengan pengalaman dan jaringan global yang kami miliki berusaha untuk menjembatani kebutuhan pemerintah dengan kepentingan korporasi agar tetap terpenuhi dengan optimal.

Implementasi Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 4/M-DAG/PER/1/2015 tentang Ketentuan PenggunaanLetter of Credit(L/C) akan efektif berlaku pada 1 April 2015 mendatang. Peraturan tersebut mengharuskan ekspor terhadap empat komoditas unggulan yakni mineral, batubara, minyak bumi dan gas serta minyak sawit dilakukan dengan fasilitas transaksi internasional L/C yang mendorong akurasi perolehan devisa hasil ekspor.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perdagangan Luar NegeriKemendag, Partogi Pangaribuanmengatakan, peraturan ini ditujukan untuk mendorong pengembangan investasi dan hilirisasi serta peningkatan nilai tambah bagi perekonomian nasional, sekaligus melindungi sumber daya alam.

Di samping itu, peraturan ini akan memberi kepastian devisa hasil eskpor benar-benar masuk ke Indonesia melalui Bank Devisa di dalam negeri menghindari transaksi ekspor yang tidak wajar, serta meningkatkan tertib usaha di bidang ekspor. Sedangkan bagi eksportir, manfaat yang diperoleh adalah mendapatkan rasa aman dalam bertransaksi dengan mitra usahanya di luar negeri. [ardi]

BERITA TERKAIT

Penilaian IGJ - Dua Aspek Lemahkan Indonesia Dalam Perdagangan Internasional

NERACA Jakarta – Peneliti senior Indonesia for Global Justice (IGJ) Olisias Gultom menilai, terdapat dua aspek yang membuat lemah Indonesia…

Kontribusi Manufaktur Masih Besar - Pemerintah Bantah Terjadi Deindustrialisasi di Indonesia

NERACA Jakarta – Kontribusi industri manufaktur Indonesia sebagai penopang perekonomian dinilai masih cukup besar. Hal ini terlihat melalui pertumbuhan sektor,…

Anehnya Boikot Uni Eropa Terhadap Sawit Indonesia

      NERACA   Jakarta – Industri kelapa sawit Indonesia menjadi penopang terhadap perekonomian. Data dari Direktorat Jenderal Pajak…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pemerintah Harusnya Turun Tangan Bikin Bank Syariah

  NERACA   Jakarta – Indonesia yang merupakan penduduk muslim terbesar di dunia mestinya menjadi kiblat ekonomi syariah dunia. Nyatanya…

OJK Komitmen Dukung Pembiayaan Berkelanjutan

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen untuk menjalankan program pengembangan pembiayaan berkelanjutan untuk mendorong kinerja…

BCA Dinobatkan The World's Best Banks 2019

      NERACA   Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dinobatkan sebagai The World’s Best Banks 2019…