Angan-Angan OJK Majukan Pasar Modal Syariah - Pasarnya Lebih Luas Dari Konvensional

NERACA

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini memiliki mimpi bagaimana mewujudkan pasar modal syariah di Indonesia bisa berkembang pesat dan pamornya lebih terkenal dibanding pasar modal konvensioal. Hal ini dikarenakan potensi pasarnya yang menjanjikan dan belum digarap secara optimal.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida mengatakan, pihaknya akan berkomitmen dalam mendorong pengembangan pasar modal berbasis syariah di Indonesia. Langkah pertama yang akan dilakukan ialah penguatan regulasi yang mendukung percepatan pengembangan pasar modal syariah.

Pada tahun ini, kata dia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang memproses sejumlah penyempurnaan peraturan terkait dengan penerbitan efek syariah dan Ahli Syariah Pasar Modal (ASPM) serta mengkaji kemungkinan pengenaan pungutan yang lebih rendah untuk produk syariah di pasar modal.

Selanjutnya, OJK menyusun peta jalan (road map) pasar modal syariah sebagai pedoman regulator dan pihak terkait dalam menentukan arah kebijakan dalam lima tahun ke depan,”Road map' itu berfokus pada lima sektor, yaitu penguatan regulasi, peningkatan permintaan dan penawaran, pengembangan SDM, promosi dan edukasi, dan sinergi kebijakan pada pihak terkait," ujarnya di Jakarta, Senin (16/2).

Kemudian, OJK akan memberikan dukungan penetrasi produk syariah di pasar modal melalui peningkatan kegiatan pengenalan pada pihak yang akan terlibat dalam bisnis syariah dan juga masyarakat,”Implementasinya bisa masuk ke BUMN dan calon emiten, penyuluhan pada pelaku pasar, universitas, atau ormas keagamaan, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah," ucapnya.

Selama ini, kata dia, pasar modal syariah memiliki produk-produk serupa dengan sistem konvensional. Namun, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keberadaan dan fungsi instrumen tersebut. Ketika ditemui, Nurhaida juga mengatakan bahwa OJK mencanangkan 2015 sebagai "Tahun Pasar Modal Syariah".

Dirinya berpendapat bahwa pasar modal tersebut harus dikembangkan dengan pesat, mengingat adanya peluang berupa warga Indonesia yang mayoritas beragama Islam, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap sistem ekonomi syariah.

Belum Dipercaya

Kata Nurhaida, rendahnya kepercayaan sementara masyarakat terhadap pasar modal syariah menjadi salah satu hambatan dalam berkembangnya pasar modal syariah,”Jika dibandingkan dengan pasar modal konvensional, syariah ini masih lebih kecil. Hal itu karena kepercayaan masyarakat yang masih kurang terhadap produk-produknya," katanya.

Nurhaida menambahkan bahwa faktor lain yang turut menghambat berkembangnya pasar modal syariah ialah masih sedikitnya suplai, produk dan saham yang ditawarkan, infrastruktur yang belum memadai, hingga kurangnya pemahaman SDM mengenai produk tersebut.

Oleh sebab itu, OJK akan membantu mengembangkan industri pasar modal syariah dalam mengenalkan produk dan jasa mereka melalui peningkatan pemahaman masyarakat (awareness) dan memasuki pasar yang lebih jauh (outreach),”Peningkatan penetrasi pasar modal syariah tentu bersifat mutlak dilakukan. Otoritas Jasa Keuangan akan terus melakukan sosialisasi dan mengupayakan ketersediaan produk-produknya," ujarnya.

Otoritas Jasa Keuangan menilai keberadaan pasar modal syariah sudah cukup lama, tetapi secara kuantitas jumlahnya masih kecil. Beberapa waktu lalu, OJK juga membuka lomba desain logo dan tagline untuk pasar modal syariah sebagai salah satu cara yang dianggap efektif dalam meningkatkan perhatian masyarakat terhadap pasar modal syariah,”Diharapkan dengan dibukanya lomba ini, kesadaran dan rasa memiliki masyarakat terhadap pasar modal syariah makin besar dan akan meningkatkan utilitas produk-produknya," kata Nurhaida.

Ketahanan Modal Akan tetapi, di sisi lain, OJK juga memaparkan bahwa pertumbuhan pasar modal syariah, khususnya perbankan, bisa dikatakan mengalami perlambatan, tetapi memiliki ketahanan modal yang kuat,”Pada periode 2014 hanya tumbuh sekitar 12,4%, lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 24,2%," kata anggota komisioner OJK Mulya E. Siregar.

Kuatnya perbankan syariah, kata dia, bisa dilihat dari rasio kebutuhan penyediaan modal minimum (CAR) yang meningkat menjadi 15,18% dari sebelumnya hanya 14,4%.”Jadi, walaupun perbankan syariah mengalami pertumbuhan yang lambat, secara umum ketahanan modalnya lebih baik,"tutur Mulya Siregar. (bani)

BERITA TERKAIT

Pacu Pertumbuhan Investor di Sumbar - BEI dan OJK Edukasi Pasar Modal Ke Media

NERACA Padang - Dalam rangka sosialisasi dan edukasi pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Padang bekerja sama dengan…

Danai Infrastruktur Jangka Panjang - OJK Dorong Pemda Manfaatkan Pasar Modal

NERACA Jakarta – Perkenalkan instrumen pasar modal yang dinilai layak untuk mendanai infrastruktur, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong pemerintah daerah…

BRI Syariah Terima Pelunasan Biaya Haji dari 9.642 Jamaah

    NERACA   Jakarta - Sebanyak 9.642 calon jamaah haji melakukan pelunasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) di BRI…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Pembangunan Jaya Ancol Tumbuh 1,4%

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) membukukan laba tahun 2018 sebesar Rp223 miliar atau tumbuh 1,4% dibandingkan dengan periode yang…

Laba Bersih Indocement Menyusut 38,3%

NERACA Jakarta – Pasar semen dalam negeri sepanjang tahun 2018 mengalami kelebihan pasokan, kondisi ini berdampak pada performance kinerja keuangan…

Pacu Pertumbuhan Investor di Sumbar - BEI dan OJK Edukasi Pasar Modal Ke Media

NERACA Padang - Dalam rangka sosialisasi dan edukasi pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Padang bekerja sama dengan…