Membangun Kultur Berwirausaha - Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen PTN

Setelah muncul kebijakan bahwa pemerintah untuk sementara waktu tidak akan mengangkat pegawai negeri baru, maka para pimpinan lembaga pendidikan, tidak terkecuali, pimpinan perguruan tinggi berusaha agar lulusannya mampu menjadi wirausahawan. Upaya itu adalah sangat realistis, sebab siapapun setelah lulus dari lembaga pendidikan pasti mengharapkan untuk memperoleh lapangan pekerjaan. Tidak mungkin seseorang yang sudah menjadi sarjana misalnya, masih tetap menggantungkan hidupnya pada orang tua sebagaimana ketika mereka masih menjadi mahasiswa.

Sebelum adanya kebijakan pemerintah tersebut sebenarnya sudah cukup lama lulusan perguruan tinggi didorong untuk menjadi wirausahawan. Berbagai cara dilakukan oleh pemerintah maupun juga pihak kampus untuk mengembangkan kemampuan wirausaha itu. Pemerintah misalnya, melalui beberapa bank telah memberikan kemudahan untuk mendapatkan modal usaha. Pihak kampus sendiri memberikan kuliah tambahan tentang entrepreneurship. Bahkan selain itu, tidak sedikit lembaga swadaya masyarakat juga memberikan kursus tentang hal dimaksud. Namun anehnya, banyak mahasiswa atau sarjana setelah mengikuti pendidikan atau kursus kewirausahaan, tetapi ternyata tidak mempu mengimplementasikan pengetahuannya itu.

Kenyataan tersebut menjadikan banyak orang kebingungan, bagaimana sebenarnya cara yang tepat untuk mendorong agar tumbuh wirausahawan baru yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan bahkan bangsa ini ke depan. Pada akhir-akhir ini selalu disebut-sebut dan bahkan diyakini bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mensejahterakan masyarakat, maka tidak ada jalan lain kecuali harus ditempuh dengan cara menumbuhkan angka wirausahawan secara terus menerus.

Di tengah-tengah kebingungan menjadikan orang mampu berwirausaha, ternyata tidak sedikit muncul wirausahawan baru tanpa melalui proses pendidikan atau juga kursus. Mereka itu adalah anak-anak para wirausahawan sukses. Anaknya pedagang akan menjadi pedagang, anak petani menjadi petani, anak nelayan menjadi nelayan, anak pengusaha menjadi pengusaha, anak seniman menjadi seniman, dan seterusnya. Dari pengalaman itu, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa, berwirausaha tidak cukup hanya berbekalkan pengetahuan, tetapi juga diperlukan jiwa atau mental entrepreneur. Sementara itu, jiwa atau mental berwirausaha tidak akan mungkin cukup dibangun hanya lewat kuliah tambahan atau kursus.

Jiwa atau mental berwirausaha seharusnya dibangun melalui kegiatan nyata atau praktek sehari-hari dalam waktu lama. Seseorang menjadi berjiwa atau bermental pedagang oleh karena telah lama berpengalaman menjadi pedagang. Demikian pula lapangan pekerjaan lainnya, semisal bertani, nelayan, pengrajin, maupun pengusaha lainnya. Itulah sebabnya, anak petani akan mudah menjadi petani, anak pedagang menjadi pedagang, anak pengusaha menjadi pengusaha, dan seterusnya. Mereka itu membangun mental atau jiwa jenis pekerjaan itu dengan cara melihat dan bahkan merasakan kegiatan itu sehari-hari secara langsung. Siapapun tidak mudah melakukan adaptasi terhadap suatu jenis pekerjaan, kecuali memerlukan waktu lama. Kesulitan beradaptasi itu, menjadikan orang tidak mudah berpindah profesi. Seorang petani misalnya tidak akan mampu secara mendadak berpindah menjadi seorang nelayan, dan sebaliknya. Begitu pula perubahan pada bidang-bidang lainnya. Maka, sekali lagi, untuk membangun mental atau jiwa tertentu diperlukan pembiasaan secara terus menerus dalam waktu lama, hingga menjadi kultur, dan akhirnya membudaya.

Oleh karena itu, lembaga pendidikan, tidak terkecuali, perguruan tinggi yang menginginkan agar para lulusannya cakap dalam berwirausaha, maka tidak cukup hanya memberi mata kuliah atau kursus tambahan tentang jenis kewirausahaan tertentu. Selain diberikan pengetahuan dan ketrampilan, maka mahasiswa harus diperkaya dengan pengalaman yang cukup. Praktek-praktek kerja berwirausaha seharusnya dipandang penting untuk dilakukan oleh lembaga pendidikan pada tingkat apapun. Jika perguruan tinggi belum mampu memberikannya, maka mahasiswa sendiri harus didorong berkreasi, mencari sendiri pengalaman itu di luar kampusnya.

Untuk menumbuhkan jiwa atau mental kewirausahaan ini ada contoh menarik, yaitu apa yang telah dilakukan oleh Pesantren Riyadul Jannah, Pacet, Mojokerto. Pesantren yang diasuh oleh Kyai Mahfudz shobari, memberikan pengalaman kerja kepada para santrinya. Oleh karena kyai dimaksud memiliki berbagai jenis usaha, mulai dari kuliner, restoran, pertanian, peternakan, perikanan, dan lain-lain, maka pesantren ini tidak sulit memberikan latihan kerja kepada para santrinya. Sehari-hari para snatteri dilatih bekerja secara profesional, dan juga diberi imbalan atau digaji. Bahkan sebagian gaji mereka wajib ditabung, agar kelak tatkala belajarnya dianggap cukup dan harus meninggalkan pesantren, mereka telah memiliki modal usaha dari tabungan mereka itu.

Pendidikan yang dilaksanakan di Pesantren Riyadul Jannah ini kiranya sangat relevan dengan tuntutan zaman sekarang ini. Para santri dibekali pengetahuan tentang Islam, pengalaman dan jiwa atau mental berwirausaha, dan sekaligus modal usaha. Dengan demikian itu, maka para santrinya tidak akan merasa kebingungan mencari kerja tatkala lulus dan harus meninggalkan pesantrennya. Model pendidikan seperti ini kiranya perlu ditiru oleh lembaga pendidikan lain, tidak terkecuali oleh perguruan tinggi yang menghendaki agar para lulusannya berhasil menjadi wirausahawan. Sekedar mencontoh siapapun tidak mudah, apalagi pimpinan perguruan tinggi. (uin-malang.ac.id)

BERITA TERKAIT

Gali Potensi Berwirausaha - Kopi Abah Beri Pelatihan Calon Barista

Mengenalkan lebih jauh potensi kopi dalam negeri di kalangan generasi millennial, Kopi Abah kembali mengadakan Sekolah Barista Santri di Master…

Memilih Pemimpin Kredibel - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Dewasa ini harga-harga melambung tinggi. Listrik, BBM, gas terus melonjak harganya karena pengurangan subsidi. Porsi anggaran terbesar justru diutamakan untuk…

BUMN dan Makro Ekonomi - Oleh : Edy Muyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Banyak orang beranggapan jadi petinggi BUMN adalah anugrah. Gaji tinggi, fasilitas berlimpah, bonus-bonus dan tantiem selangit. Seabreg karunia tadi kian…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Pemanfaatan Tanah Kas Desa Sebagai Potensi Desa

  Oleh: Arief Nugraha, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Desa saat ini sudah diberikan kebebasan untuk mengatur wilayah,…

KTP Belum Bisa Jawab Semua Masalah Publik

  Oleh : Sugeng Hermansyah, Pemerhati Masalah Sosial Politik Dalam debat putaran ketiga yang mempertemukan kedua cawapres, KH Ma’ruf Amin…

Kontroversi Utang BUMN

Oleh: Dr. Revrisond Baswir, Staf Pengajar FEB UGM BUMN adalah amanat Pasal 33 UUD 1945. Sebagai amanat Pasal 33 UUD…