Ekspor dan Impor Non Migas 2014 Lesu

NERACA

Jakarta – Bank Indonesia mencatat bahwa ekspor dan impor non migas Indonesia selama 2014 mengalami penurunan, terutama ekspor non migas Indonesia ke 10 negara. Hal itu terjadi karena negara tujuan ekspor terkontraksi lebih dalam sehingga permintaan semakin menurun. Demikian pula impor nonmigas pada kuartal IV 2014 secara tahunan turun seiring penurunan volume impor pada kelompok barang konsumsi dan barang modal mengikuti moderasi permintaan domestik.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara mengatakan untuk keseluruhan tahun 2014, kontraksi impor telah terjadi dan itu sejalan dengan kebijakan stabilisasi ekonomi pada seluruh impor kelompok barang. Pihaknya mencatat penurunan impor pada kuartal IV 2014, terutama terjadi untuk Jepang, AS, Korea Selatan, Jerman, dan India. Sedangkan impor dari Tiongkok, Thailand, Singapura, Australia-Oceania, dan Malaysia mengalami peningkatan. Tirta menjelaskan, untuk keseluruhan pada 2014, impor dari 10 negara utama menurun kecuali negara Tiongkok, Singapura, dan ‎Australia & Oceania.

Disisi lain, defisit neraca perdagangan migas pada kuartal IV tahun 2014 mengalami penurunan dibandingkan kuartal sebelumnya, mengikuti perbaikan neraca minyak seiring turunnya harga minyak dunia. Secara tahunan, di tengah penurunan harga minyak, berkurangnya lifting migas yang disertai volume impor minyak yang masih meningkat menyebabkan defisit neraca migas melebar. Dia mengungkap, pada kuartal IV tahun 2014 defisit neraca minyak lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya, karena koreksi tajam pada harga minyak global menyebabkan impor turun melampaui penurunan ekspor.

Turunnya ekspor minyak pada kuartal IV tahun 2014, selain melemahnya harga minyak dunia, juga dipengaruhi lifting minyak yang lebih rendah. "Sejalan dengan turunnya lifting minyak sebesar 2,3% (qtq) dari 0,800 juta barel/hari menjadi 0,782 juta barel/hari, volume ekspor minyak mentah menurun dari 24,5 juta barel menjadi 24,3 juta barel," ujar Tirta di Jakata, akhir pekan kemarin.

Sementara itu, Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia (BI) Hendy Sulistyowati mengatakan, jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ekspor nonmigas turun 6,5% (yoy) seiring pertumbuhan permintaan global yang masih lambat. Selain itu, juga seiring dengan penurunan tajam harga komoditas serta dampak perhitungan dasar (base effect) dari tingginya ekspor pertambangan pada kuartal IV/2013 menjelang penerapan UU Minerba pada awal 2014. "Sementara itu, impor nonmigas terkontraksi 2,7% (yoy) mengikuti moderasi pertumbuhan ekonomi domestik," ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, penurunan ekspor nonmigas kuartal IV tahun lalu secara tahunan terutama dipicu oleh koreksi harga, yang terjadi pada semua produk primer mengikuti penurunan harga komoditas dunia. Serta penurunan volume ekspor bahan bakar dan pertambangan seiring masih lemahnya permintaan global. Selain itu, penurunan ekspor juga sedikit dipengaruhi penurunan volume ekspor produk manufaktur setelah selalu tumbuh positif sejak kuartal IV/2012.

Untuk keseluruhan 2014, ekspor nonmigas turun 1,3% (yoy) akibat turunnya ekspor produk primer. Penurunan ekspor nonmigas tertahan kinerja positif ekspor produk manufaktur yang mencatat akselerasi pertumbuhan, baik karena naiknya permintaan maupun harga ekspor yang didukung konsistensi kebijakan BI dalam menjaga nilai tukar sesuai fundamental.

Berdasarkan komoditasnya, penurunan ekspor nonmigas kuartal IV/2014 disebabkan turunnya ekspor batu bara, alat listrik, barang logam, dan karet olahan karena turunnya permintaan maupun harga. Sementara, untuk keseluruhan 2014, penurunan ekspor nonmigas dipicu turunnya ekspor batu bara, alat listrik, dan karet olahan. "Penurunan ekspor lebih lanjut tertahan oleh kinerja ekspor minyak nabati dan produk manufaktur utama seperti TPT, barang dari logam, dan makanan olahan yang masih meningkat ditopang pertumbuhan permintaan ekspor," pungkasnya.

BERITA TERKAIT

Tingkatkan Konsumsi Ikan, Lombok Barat Ditargetkan Bebas Stunting Pada 2024

NERACA Lombok Barat - Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup…

Bangun SDM Industri Kompeten, Kemenperin Dorong Kualitas Institut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya yang akan berperan di sektor…

Sang Gurita Octopus: Teknologi Berbisnis Era Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia semakin pesat dan memperlihatkan tren yang positif. Riset dari Google dan Temasek…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Tingkatkan Konsumsi Ikan, Lombok Barat Ditargetkan Bebas Stunting Pada 2024

NERACA Lombok Barat - Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup…

Bangun SDM Industri Kompeten, Kemenperin Dorong Kualitas Institut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya yang akan berperan di sektor…

Sang Gurita Octopus: Teknologi Berbisnis Era Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia semakin pesat dan memperlihatkan tren yang positif. Riset dari Google dan Temasek…