BORN Lunasi Utang Rp 1,1 Triliun Ke SCB - Belum Restrukturisasi Utang

NERACA

Jakarta – Perusahaan tambang, PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) telah melakukan pembayaran utang sebesar US$ 87 juta atau setara Rp1,1 triliun (kurs Rp12.700/USD) kepada Standard Chartered Bank (SCB). Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Direktur BORN, Kenneth Raymond Allan mengatakan, dana pembayaran utang tersebut diperoleh dari pembagian deviden Asia Resource Minerals Plc (ARMS) kepada Borneo Bumi Energi & Metal Pte Ltd, yang 100% dimiliki perseroan dan juga pemilik 23,8% saham ARMS,”Hingga saat ini, perseroan belum melakukan restrukturisasi utang dengan SCB, melainkan hanya perubahan jadwal pembayaran yang semula Januari 2016 menjadi 2019,”ujarnya.

Menurut dia, perseroan hingga saat ini belum membayarkan utang sebesar US$ 200 juta kepada SCB. Namun perseroan telah melakukan pembayaran pinjaman dari SCB sesuai dengan atau sebelum jadwal pembayaran yang telah disepakati dari waktu ke waktu dengan SCB.

Sebagai informasi, performance saham PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk sering keluar masuk suspensi oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada pembukaan perdagangan Selasa (3/2) lalu, saham BORN disuspensi atau dihentikan sementara lantaran belum membayar denda. Namun sehari kemudian, suspensi di cabut karena perseroan langsung membayar denda kepada perseroan.

Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Group BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan, pencabutan sanksi tersebut sehubungan dengan pembayaran denda yang dilakukan perseroan telah diterima BEI. Sebelumnya, BEI juga sempat mencabut suspensi perseoran pada 30 Januari 2015 setelah pada hari yang sama juga disuspensi berkaitan dengan belum dipenuhinya kewajiban penyampaian laporan keuangan interim 30 September 2014. Adapun hingga 29 Januari 2015, merupakan batas akhir penyampaian laporan keuangan dan pembayaran denda. Adapun bursa telah memberikan peringatan tertulis III dan tambahan denda sebesar Rp150 juta karena terlambat menyampaikan laporan keuangan dimaksud.

Lesunya harga pasar batu bara dunia, memicu kinerja keuangan BORN terus jeblok dan hal tersebut memaksa perseroan untuk melakukan efisiensi. Salah satu cara efisiensi yang akan dilakukan BORN adalah dengan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada 1.500 orang karyawannya.

Kenneth R. Allan, Direktur Keuangan BORN pernah bilang, saat ini, perusahaan mempekerjakan sekitar 3.300 orang karyawan. Namun, seiring strategi BORN untuk menahan produksi lantaran rendahnya harga jual, banyak karyawan yang mengajukan pengunduran diri,”Sekitar 200 orang sudah mengundurkan diri. Kami juga akan PHK 1.500 orang secara bertahap, sehingga nantinya jumlah karyawan kami akan sekitar 1.200-1.500 orang,”ujarnya.

BORN menilai PHK menjadi salah satu langkah untuk menekan biaya produksi agar kerugian yang ditanggung bisa diminimalisir. Di kuartal I 2014, rugi bersih BORN memang melompat 501,47% menjadi US$ 85,28 juta, dari periode sama tahun lalu yang US$ 14,18 juta.Kian buruknya posisi rugi bersih tak terlepas dari performa penjualan BORN yang anjlok 72,62% di kuartal I 2014 menjadi US$ 37,96 juta, dibandingkan periode sama tahun lalu yang tercatat US$ 138,61 juta.(bani)

BERITA TERKAIT

Diamon Patok Harga IPO Rp 915 Persaham

NERACA Jakarta – Perkuat modal guna mendanai ekspansi bisnisnya, PT Diamond Food Indonesia Tbk akan menggelar penawaran umum perdana atau…

Diburu Banyak Nasabah - Hanson Gagal Bayar Balikkan Pinjaman Individu

NERACA Jakarta- Pasca ditahan dan ditetapkannya komisaris utama PT Hanson International Tbk (MYRX) Benny Tjokrosaputro sebagai tersangka kasus korupsi PT…

Marak Saham Gorengan - DPR Kritisi dan Evaluasi Pengawasan BEI

NERACA Jakarta – Kasus gagal bayar premi PT Asuransi Jiwasraya hingga menuai kerugian besar lantaran terjebak investasi saham lapis tiga…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pabrik Karawang Beroperasi - Softex Bidik Bisnis Tumbuh Double Digit

NERACA Bandung –Mengulang kesuksesan pertumbuhan bisnis di tahun 2019 kemarin, perusahaan prdousen saniter PT Softex Indonesia mematok pertumbuhan bisnis tahun…

Tambah Portofolio Aset - SDI Akuisisi Gedung Milik SCB Rp 20 Miliar

NERACA Jakarta -  Dukung pengembangan bisnisnya, PT Serba Dinamik Indonesia (SDI) mengakuisisi gedung milik PT Surya Cipta Banten (SCB) senilai…

Marak Terbitkan Obligasi - Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 40,7 Triliun

NERACA Jakarta –Pasar obligasi dalam negeri di tahun 2020 masih berpiotensi tumbuh, meskipun dihantui sentimen negatif pasar global. Berkah inilah…