KKP Dituntut Siapkan Pasar Garam - Target Produksi Meningkat

NERACA

Jakarta - Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Herman Khairon menuntut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk segera menyiapkan pasar guna pemasaran garam petani.

Menurutnya, upaya mendesak untuk disiapkan mengingat KKP adanya peningkatkan target produksi garam dari 2,5 juta ton menjadi 3,3 juta ton. "dari 1,4 juta ton ke 2,5 juta ton itu saja banyak yang numpuk garamnya, dijualnya itu tidak laku, makanya harus dipastikan pasarnya sekarang, saya yakin betul target ini untuk mengejar swasembada, tetapi apakah sudah disiapkan marketingnya," kata Herman di Ruang Rapat Komisi IV, Jakarta, Kamis (12/2).

Bahkan, jika dilihat dari cuaca, Herman menyebutkan akan terasa sulit bagi pemerintah untuk mencapai target peningkatan garam. Pasalnya, cuaca yang terjadi disepanjang tahun 2015 ini tidak dapat dipastikan berapa banyak musim panasnya.

Dari segi harga jual, Herman menuturkan, tidak banyak para petani garam menjual dengan cepat agar garamnya terserap oleh pasar. "Karena kalau saya pergi ke Indramayu banyak yang tidak menjual, karena harganya rendah cuma Rp200 per kg, yang untung tetap saja para tengkulak," tuturnya.

Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Susi Pudjiastuti memastikan Indonesia harus mampu mencapai swasembada garam pada akhir 2015. "Mereka menetapkan target swasembada garam tahun 2017. Saya pikir itu terlalu lama, saya minta 2015," tegas dia.

Susi menyatakan, Indonesia harus mencapai swasembada garam pada akhir 2015 dan untuk itu pemerintah akan menyiapkan teknologi pembuatan garam meskipun harus membelinya dari luar. "Kita memiliki anggaran untuk itu. Pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) dapat dialihkan untuk pembelian teknologi pembuatan garam tersebut," katanya.

Dengan swasembada garam tersebut, menurut dia, maka diharapkan semua impor komoditas itu akan terhenti.

Sementara itu Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Sudirman Saad menyatakan, kebutuhan garam nasional saat ini mencapai 4,02 juta ton terdiri garam industri 2,05 juta ton dan garam konsumsi 1,96 juta ton

Sedangkan produksi garam nasional sebanyak 2,55 juta ton terdiri garam rakyat 2,2 juta ton dengan kualitas 30 persen KW1 dan PT Garam 350 ribu ton 100 persen KW1. Dengan adanya swasembada garam maka diharapkan kebutuhan secara nasional sebanyak 4,5 juta ton terdiri garam industri 2,3 juta ton dan garam rakyat 2,2 juta ton.

Sementara itu produksi garam nasional diharapkan mencapai 4,6 juta ton terdiri garam rakyat 3,2 juta ton dengan kualitas 90 persen KW1 dan PT garam 1,4 juta ton 100 persen KW1.

Menurut Sudirman, saat ini ketersediaan lahan garam sekitar 30 ribu hektar dengan produktivitas lahan sebanyak 97 ton per hektar per musim serta teknologi pembuatan garam masih sederhana. "Nantinya diharapkan ketersediaan lahan garam mencapai 38 ribu hektar dengan produktivitas lahan 120 ton/ha/musim," katanya.

Untuk itu, guna merealisasikan swasembada garam kini pihaknya (KKP) akan membuka 8 ribu hektar tambak garam baru di Nusa Tenggara Timur. Area tambak baru ini akan menambah luasan lahan sebelumnya yang sebesar 30 ribu hektar di tahun 2014, yang berarti ada penambahan sebesar 26,67 persen. “Rencananya pembukaan tambak di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) seluas 7 ribu hektare dan di Nagekeo, NTT sebesar seribu hektar. Itu yang kita rencanakan. Kalau mau dipaksakan, di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) kita bisa buka seribu hektare dan di Sulawesi Selatan 500 hektare,” ujar

Tambahan lahan baru seluas 7 ribu hektar di Kupang, Sudirman menyebutkan, akan membantu PT Garam meningkatkan kapasitas produski secara signifikan. Namun, pihaknya masih terkendala oleh status tanah adat yang melekat pada lahan yang akan digunakan.

"Kendalanya karena di NTT ini tanahnya adalah tanah adat, sehingga pengurusannya sangat susah. Tapi tahun ini rencananya Pemerintah Daerah Kupang akan menyerahkan 5 ribu hektare tanah ke PT Garam dimana tiga ribu hektare-nya merupakan bekas Hak Guna Usaha,” tambah dia lagi.

Sudirman menambahkan, teknologi geo-membran akan digunakan di semua tambak, baik lahan baru maupun yang lama. Diharapkan, penggunaan teknologi ini akan mampu meningkatkan produksi garam mencapai 120 ton per hektar per tahun, dari yang tadinya hanya 97 ton. "Jadi kalau misalnya kemarin ada 28 ribu hektar, kita bisa produksi hingga tiga juta ton. PT Garam saat ini punya lima ribu hektar sehingga produksinya bisa 600 ribu ton per tahun,” tandasnya.

BERITA TERKAIT

Aparat Dituntut Lebih Tegas terhadap Pembajak Truk Tangki

Jakarta-Guru besar UI Prof. Budyatna mendukung kepolisian yang sudah menciduk dan menetapkan tersangka pembajakan truk tangki Pertamina. Dia meminta aparat…

KAMPANYE HITAM KELAPA SAWIT - Indonesia Siapkan 5 Sikap Tegas Hadapi UE

Jakarta-Pemerintah Indonesia akan menempuh segala cara untuk menentang rencana kebijakan Uni Eropa tersebut, bahkan akan membawanya ke forum WTO, jika…

Mengkritisi Upaya Membuka Pasar Baru Dunia

Oleh: Pril Huseno Forum “Seminar Perdagangan Nasional dan Dialog Gerakan Ekspor Nasional” yang digagas Kadin, Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia dan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Ekspor Tenun dan Batik Ditargetkan US$58,6 Juta

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor produk tenun dan batik pada tahun 2019 mampu menembus angka USD58,6 juta atau…

OPEC Dinilai Perlu Terus Pangkas Pasokan Sampai Akhir 2019

NERACA Jakarta – Arab Saudi mengatakan pada Minggu (17/3) bahwa pekerjaan OPEC dalam menyeimbangkan kembali pasar minyak masih jauh dari…

Pemerintah Perkuat Promosi Batik dan Kain Tenun

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih mengungkapkan, pada Pameran Adiwastra Nusantara tahun…