Pengusaha Merugi Triliunan Akibat Banjir

NERACA

Mengatasi banjir di ibu kota Jakarta bukan perkara mudah, sejak ratusan tahun lalu, banjir selalu menimbulkan kerugian yang besar bagi Jakarta dan penghuninya. Salah satu banjir terbesar yang terjadi di Jakarta pada masa penjahan Belanda terjadi pada tahun 1872, banjir itu menyebabkan pintu air di depan daerah yang sekarang berdiri Masjid Istiqlal, jebol.

Banjir yang terjadi pada 2014, menggenangi 89 kelurahan yang ada di Jakarta, dengan luasan wilayah yang terpapar dampak sekitar 17,4% dari total wilayah Jakarta, dan sampai saat ini telah memakan korban jiwa sebanyak 11 orang. Kerugiannya pun mencapai lebih dari Rp 70 triliun.

Sedangkan banjir yang melanda beberapa titik di DKI Jakarta sejak Senin (9/2) hingga Selasa (10/2) disinyalir telah menimbulkan kerugian triliunan rupiah. Sebab sekitar 75.000 ribu unit kios dan toko yang tersebar di pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta terpaksa menutup usahanya akibat banjir.

"Jika omzet mereka per hari kita rata-ratakan 20 juta per hari, maka kerugian yang dialami mencapai 1,5 triliun dalam satu hari. Kerugian ini hanya pada sektor perdagangan di pusat-pusat bisnis saja," jelas Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) DKI Jakarta Sarman Simanjorang, Selasa (10/2).

Sarman menyebut kerugian ini belum termasuk kerugian akibat dampak banjir yang lainnya, seperti jalur distribusi yang stagnan, omzet hotel dan restoran yang juga dipastikan menurun. Selain itu transaksi keuangan juga terganggu, serta banyaknya perkantoran yang tidak beraktivitas akibat banyaknya karyawan yang tidak masuk kerja.

"Banjir yang melanda kota Jakarta dua hari ini dipastikan sudah melumpuhkan aktivitas ekonomi dan perdagangan. Pusat-pusat bisnis di lima wilayah kota Jakarta dari pengamatan yang kita lakukan, puluhan ribu kios dan toko tutup tidak beroperasi," ujarnya.

Kadin mencatat, beberapa sentra perbelanjaan yang sangat berdampak seperti di wilayah Jakarta Timur di sepanjang Jatinegara Plaza, di wilayah Jakarta Barat Ciputra MalI, Citra Mall, Central Park, Glodok City, Pasar HWI, Glodok Jaya, Glodok Mangga Besar, Puri Indah Mall, Roxi Square, Mall Taman Anggrek, dan WTC Mangga Dua.

"Namun pusat bisnis yang paling banyak terganggu adalah di daerah Jakarta Utara. Di sana ada Mangga Dua Square, Electronic City, ITC Mangga Dua, Kelapa Dua Gading Mall, Mall Artha Gading, Mall Kelapa Gading, Mall Kelapa Gading Square, Mall Sport Kelapa Gading, ITC Mangga Dua," katanya.

Ia melanjutkan bahwa banjir tahun ini membuktikan bahwa pemprov DKI Jakarta belum mampu mengatasi permasalahan banjir di DKI Jakarta. Apalagi, menurut Sarman, banjir juga sempat masuk di ring satu kawasan Istana Negara dan Balaikota.

"Sebagai kota jasa, Pemprov DKI Jakarta harus dapat segera mengatasi dampak banjir ini karena sudah sangat mengancam kelangsungan bisnis," ujarnya.

Dua permasalahan utama Jakarta, kata Sarman, adalah banjir dan macet. Keduanya menjadi momok yang selama ini mengancam aktivitas bisnis. Untuk itu Sarman bersama para pelaku usaha sangat berharap agar pemerintah bisa segera menyelesaikan permasalahan ini.

"Dengan APBD DKI Jakarta tahun ini yang mencapai 73 triliun diharapkan pemprov tidak mengalami hambatan untuk mempercepat pembenahan drainase di kota Jakarta. Kita berharap penyerapan anggaran tahun ini dapat maksimal, tidak terulang lagi seperti tahun 2014 yang mengakibatkan pembangunan infrastruktur di Jakarta sangat rendah," jelasnya.

Menurutnya, banjir yang berakibat kerugian pendapatan ekonomi ini juga merupakan 'Pekerjaan Rumah' bukan hanya bagi pemerintah, tetapi juga masyarakatnya. "Masih banyak yang membuang sampah sembarangan di kali, contoh sederhana dari kurangnya kesadaran masyarakat tersebutlah yang turut menyumbang banjir serta kerugian ekonomi tak hanya di Ibu Kota Jakarta, tapi juga di Negeri ini," katanya.

Berdasarkan kerugian banjir yang setiap tahunnya selalu meningkat ini, diharapkan kerugian ini bisa berkurang di tahun depan. "Kita tak dapat pungkiri, Ibu Kota diramalkan masih akan dihantui banjir hingga tahun depan. Memang sulit untuk mengatasinya, namun setidaknya kita bisa mengurangi dampak kerugian dari banjir tersebut dengan mengikuti dan membantu pemerintah daerah untuk menanggulangi banjir melalui program-program yang mereka canangkan," tutupnya.

BERITA TERKAIT

Indef Nilai Erick Thohir Cocok Jadi Menteri BUMN

Indef Nilai Erick Thohir Cocok Jadi Menteri BUMN Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri…

Tantangan dan Harapan Kabinet Indonesia Maju

Tantangan dan Harapan Kabinet Indonesia Maju Pengamat ekonomi Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Jember Adhitya Wardhono PhD mengatakan tantangan Kabinet Indonesia…

Komposisi Kabinet Ideal Secara Politik

Komposisi Kabinet Ideal Secara Politik Komposisi menteri dalam Kabinet Indonesia Maju sudah ideal secara politik maupun administratif, kata pengamat kebijakan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Indef Nilai Erick Thohir Cocok Jadi Menteri BUMN

Indef Nilai Erick Thohir Cocok Jadi Menteri BUMN Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri…

Tantangan dan Harapan Kabinet Indonesia Maju

Tantangan dan Harapan Kabinet Indonesia Maju Pengamat ekonomi Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Jember Adhitya Wardhono PhD mengatakan tantangan Kabinet Indonesia…

Komposisi Kabinet Ideal Secara Politik

Komposisi Kabinet Ideal Secara Politik Komposisi menteri dalam Kabinet Indonesia Maju sudah ideal secara politik maupun administratif, kata pengamat kebijakan…