Investasi Properti Semakin Menggeliat di 2015 - Tumbuh 20-30%

Walapun terjadi perlambatan industri properti pada tahun 2014, dipastikan pada tahun 2015 ini pasar properti akan mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan.

NERACA

Pertumbuhan properti Indonesia yang kian subur dinilai bisa menjadi solusi masalah kependudukan yang dinilai juga kian meningkat. Penyediakan perumahan murah dan juga apartemen-apartemen yang terjangkau merupakan salah satu solusi dalam menghadapi permasalahan penduduk yang kesulitan dalam memiliki hunian.

Melihat kondisi seperti ini, para pengembang pun dengan gencar-gencarnya menawarkan apartemen yang mengincar segmen pasar kelas menengah kebawah dan juga kelas menengah atas.

Permintaan pasar yang cukup pesat ini disebabkan oleh perubahan gaya hidup kelas menengah di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya yang menyebabkan harga properti mengalami kenaikan harga yang cukup pesat.

Kita bisa melihat penyebabnya karena semakin banyaknya masyarakat yang lebih menyukai hidup di apartemen dan juga mulai beranggapan properti merupakan salah satu bentuk investasi yang menjanjikan untuk kedepannya. Hal ini yang secara langsung telah mendorong meningkatnya jumlah pasokan apartemen di kota-kota besar di Indonesia.

Namun pertumbuhan terhadap permintaan pasokan properti khususnya apartemen telah membuat harga properti dalam tiga tahun terakhir sudah jauh dari kewajaran. Harga properti saat ini telah naiknya sangat signifikan, yaitu sekitar 300% per tahun. Padahal wajarnya pertumbuhan itu 30% per tahun.

Hal itu yang ditakutkan oleh para pengamat ekonomi ini akan menjadi pemicu bubble properti di Indonesia yang diprediksi akan terjadi di tahun 2015 jika kondisi ini masih berlangsung hingga tahun 2014.

Namun kenaikkan tingkat inflasi dan suku bunga di tahun ini tak membuat begitu terpengaruh pada investasi di sector propeti. Properti masih menjadi instrumen investasi yang menggiurkan.

Sedangkan Associate Director Ray White Erwin Karya mengatakan, kawasan di wilayah koridor timur Jakarta seperti Bekasi memiliki keunggulan dari segi harga. Harga tanah di kawasan ini masih jauh lebih murah dibandingkan dengan kawasan barat, seperti Serpong, Tangerang, Banten. Ketua DPD REI Jakarta Amran Nukman mengatakan, 2014 menjadi tahun politik. Oleh karena itu, para pengembang properti wait&see.

Namun, dirinya yakin bahwa iklim investasi akan semakin membaik terutama bila dikaitkan dengan stabilitas ekonomi makro yang didukung kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil. “Komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan daya saing juga menjadi faktor pendukung pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, proyek perbaikan kinerja, salah satunya didorong oleh industri properti,” katanya.

Dengan adanya dukungan positif tersebut, dia meyakini bahwa 2015 sektor properti akan tumbuh dan memiliki prospek yang cerah. “Selain itu, berbagai proyek infrastruktur yang terus berkembang di Jakarta dan sekitarnya akan mendorong pertumbuhan properti tahun depan. Seperti pembangunan MRT, jalan tol, dan rute busway baru yang tentunya akan memberikan efek positif,” ungkap Amran.

Kondisi perlambatan yang terjadi saat ini tak perlu dirisaukan karena properti merupakan instrumen investasi jangka panjang. “Seiring dengan potensi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kebutuhan, prospek investasi properti juga akan kembali mencorong. Perlambatan yang ada saat ini bukan berarti stagnan, tapi masih tetap tumbuh,” tegasnya Anton Setorus, Head of Research Jones Lang LaSalle, menuturkan investasi properti pada 2015 akan kembali normal.

Membaiknya investasi karena kepastian pemimpin baru pascapemilu. “Mulai normal pada 2015, setelah ada kepastian pemimpin baru, proyek infrastruktur muncul, dan pada saat itu investasi properti akan muncul kembali,” jelas Anton. Pertumbuhan properti pada tahun depan akan lebih tinggi dibandingkan 2014.

Faktor loan to value (LTV) terkait besaran down payment (DP) bagi pembeli rumah pertama, kedua, dan ketiga akan memengaruhi permintaan akan properti pada tahun ini. “Faktor di atas akan memengaruhi permintaan, karena konsumen akan beradaptasi, namun permintaan akan perumahan masih tidak terlalu rendah,” jelasnya.

Diperkirakan pada 2015, pertumbuhan properti akan mencapai 20- 30%, sedangkan pada 2014 pertumbuhan properti hanya berkisar sebesar 15-20%. Pertumbuhan pada 2014 di bawah 2013 yang sebesar 20%.

BERITA TERKAIT

Bank Mandiri Targetkan Transaksi Digital Tumbuh 30%

      NERACA   Jakarta – SEVP Consumer and Transaction PT Bank Mandiri (Persero) Jasmin menargetkan transaksi digital melalui…

Kemudahan Berinvestasi Diharap Tingkatkan Investasi

      NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengharapkan kemudahan perizinan yang diberikan melalui sistem…

Ex-Officio Disebut Bakal Gerus Investasi di Batam

  NERACA   Jakarta - Peneliti Insitute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus menegaskan wacana pemerintah…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…