Pemerintah Janjikan Biaya Logistik Turun

NERACA

Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil berjanji akan terus memperbaiki sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) ini tidak lain untuk mengurangi tingginya biaya logistik. Menurutnya, sistem ini mampu menurunkan biaya logistik dari saat ini 24 persen menjadi 19 persen.

Dia juga berjanji untuk mengiimplementasikannya seegera mungkin dalam waktu dekat ini. "kita sudah lihat, dan sudah dihitung-hitung, kita bisa memperbaiki aspek birokrasi dan meningkatkan efisiensi pelabuhan itu dari 24 persen ke 19 persen bisa dicapai dalam waktu dua tahun.," ujar Sofyan di Jakarta Rabu (11/2).

Menurutnya , PTSP sesungguhnya bukan suatu gagasan baru, ini sudah lama dicetuskan tapi memang lamban dalam impelementasinya. Salah satu faktornya, kata dia, tidak ada kepercayaan dari masing-masing pihak.

Dirinya juga menambahkan pelayanan terpadu satu pintu juga memberikan kepastian dalam investasi. Dia berharap pelayanan ini dapat memperbaiki logistik di sektor kelautan. "Jadi mudah-mudahan one stop service sukses ini memperbaiki logistik di laut," ucapnya.

Pada kesempatan sebelumnya, Staf ahli Bidang Logistic dan Multimoda Perhubungan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Sugihardjo mengatakan, penurunan biaya logistik menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Meski daya saing Indonesia mengalami peningkatan, namun biaya logistik belum juga mengalami penurun hingga saat ini.

"Bicara daya saing kita siangan dengan negara tetangga, logistik performence index kita sekarang 59, tapi biaya logistik kita ini masih 24 persen dari biaya produksi," ujarnya.

Menurutnya jika dibandingkan, biaya ongkos logistik kapal dengan jarak yang sama di Singapura dan Indonesia sangat jauh berbeda. Jika di Indonesia ongkos logistik dari Tanjung Priok ke Cikarang yang berjarak 55 km sebesar US$ 600 per kontainer. Sedangkan di Singapura dengan jarak yang sama yaitu dari Pasir Gudang ke Tanjung Pelepas hanya US$ 450 per kontainer.

"Bahkan ongkos dari Singapura ke Jakarta lebih murah dibanding biaya angkut logistik dari Padang ke Jakarta. Kalau dari Padang ke Jakarta sebesar US$ 600 per kontainer, sedang dari Singapura ke Jakarta hanya US$ 180 per kontainer," lanjutnya.

Selain itu, selama ini pemerintah dan pihak terkait lebih fokus membenahi transportasi untuk pergerakan orang, bukan pergerakan barang. Padahal pergerakan barang merupakan salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi negara.

"Berbagai pihak lebih konsen pada pergerakan orang, sementara barang kurang perhatian, ahli logistik kurang. Padahal perekonomia negara bergantung pada pergerakan logistik, tapi kalau pergerakan orang hanya masuk kantong kanan dan kiri," kata dia.

Oleh sebab itu, menurut Sugihardjo, Indonesia harus mencontoh China yang meski pada awalnya pertumbuhan ekonomi sangat terbatas, namun ketika sektor logistiknya berjalan dengan baik maka sektor ekonominya juga turut terdorong. [agus]

BERITA TERKAIT

Data BPS - Ekspor Industri Pengolahan Turun 6,92 Persen di Desember 2018

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melansir ekspor industri pengolahan pada Desember 2018 mengalami penurunan 6,92 persen jika dibandingkan…

Pemerintah Akselerasi Pengembangan Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pemerintah segera menyiapkan fasilitas insentif fiskal dan infrastruktur dalam upaya mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Untuk…

Empat Prioritas Kemenperin di 2019 - Pembangunan Kualitas SDM Industri Menjadi Fokus Pemerintah

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian siap mengejar empat program kerja prioritas di tahun 2019. Keempat program tersebut merupakan langkah strategis…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerintah Diminta Stabilkan Harga Sawit

  NERACA   Kampar - Masyarkat Riau mayoritas berprofesi sebagai petani sawit yang nasibnya bergantung pada harga jual buah sawit.…

Permen PUPR Soal Rusun Akan Dijudical Review

        NERACA   Jakarta - Para pengembang properti yang tergabung dalam Real Estat Indonesia (REI) dan Persatuan…

KIBIF Siapkan 20 Ribu Ekor Sapi untuk Pasar Domestik

    NERACA   Jakarta - Setelah resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Estika Tata Tiara…