Garda Tujuh Buana Tutup Operasi Tambang - Imbas Lesunya Pasar Batu Bara

NERACA

Jakarta – Perusahaan tambang, PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO) menutup sementara operasi tambang perseroan untuk jangka waktu minimal tiga bulan. Penghentian tersebut karena lemahnya pertumbuhan permintaan pasar batu bara saat ini,”Pasokan telah meningkat karena sebagian besar penambang terpaksa meningkatkan produksi karena lebih murah untuk memproduksi dan menjual rugi daripada merasionalisasi produksi,”kata Direktur Utama GBTO, Ratendra Kumar Srivastava dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (11/2).

Menurut dia, hal ini penting bagi para penambang karena mereka berada di bawah tekanan untuk menjalankan arus kas. Jika tidak, makan akan sulit membayar utang diperoleh bagi para penambang. Efek yang terjadi dari faktor tersebut yakni peningkatan pasokan batu bara di tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan laju pertumbuhan pasokan batu bara di tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan laju pertumbuhan permintaan batu bara."Akibatnya, harga batu bara telah jatuh lebih dari 50% dari harga batu bara pada 2012 dan 2013. Secara global, ada rasionalisasi produksi yang mencapai 118 juta ton, namun pengurangan produksi ini diimbangi dengan peningkatan produksi di Indonesia, Australia, dan India," jelas dia.

Oleh karena itu, untuk mengendalikan biaya dan melindungi pasar, dewan direksi memutuskan untuk menutup sementara kegiatan penambangan untuk jangka waktu minimal tiga bulan, mulai dari bulan berjalan sampai dengan April 2015.

Selama periode ini, tambah dia, para pekerja tambang akan diberhentikan dan kontrak tongkang ditangguhkan. Upaya ini akan dilakukan selama periode tersebut untuk menjaga infrastruktur dan peralatan tambang,”Sehingga saat akan beroperasi Mei 2015, tidak akan ada gangguan dan kami akan bergerak pada kecepatan yang optimal dalam produksi dan penjualan,”ungkapnya.

Sebelumnya, perseroan menyampaikan rencana mengakuisisi tambang emas, bauksit dan batubara di Sudan, Afrika yang di targetkan tahun ini bisa rampungkan akusisi tersebut. Komisaris GTBO Pardeep Dhir pernah bilang, perusahaan sudah menunjukan perusahaan yang memiliki keahlian teknis untuk mencari tambang di sana. Nantinya, konsultan pertambangan yang ditunjuk itu bakal melakukan uji tuntas atau due dilligence untuk mengetahui cadangan yang layak di sana.

Dengan lapisan tanah penutup atau stripping ratio serta nilai akuisisi yang tepat untuk tambang tersebut. "Kami juga sudah berkonsultasi dengan Kedutaan Sudan di Jakarta dan telah merekomendasikan investasi ke pemerintah pusat Sudan," ungkap.

Dia memaparkan, hal terpenting dalam melancarkan aksi akuisisi tambang adalah mengetahui stripping ratio, ketersediaan sumber daya manusia (SDM), logistik atau jarak antara lokasi tambang ke stockpile, pelabuhan batubara, serta nilai akuisisi. (bani)

BERITA TERKAIT

Ditopang Produksi Anak Usaha - HRUM Targetkan Produksi 5 Juta Ton Batu Bara

NERACA Jakarta – Mengulang kesuksesan di tahun kemarin, PT Harum Energy Tbk (HRUM) menargetkan produksi batu bara sebesar 5 juta…

Tutup CGV di Mall of Indonesia - Graha Layar Masih Agresif Buka Layar Baru

NERACA Jakarta –PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) menutup kegiatan operasional layar lebar CGV di pusat perbelanjaan Mall Of I…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Dua Putra Utama Terkoreksi 57,96%

Emiten perikanan, PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) laba bersih di kuartal tiga 2018 kemarin sebesar Rp35,9 miliar atau turun…

BEI Suspensi Saham BDMN dan BBNP

PT  Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara waktu perdagangan dua saham perbankan yang direncanakan akan melakukan merger usaha pada perdagangan…

Chandra Asri Investasi di Panel Surya

Kembangkan energi terbarukan yang ramah lingkungan dalam operasional perusahaan, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) menggandeng Total Solar untuk menghasilkan…