Pemerintah Dampingi Teknologi dan Pencegahan Penyakit - Tingkatkan Produksi Pada Budidaya Udang

NERACA

Jakarta- Komoditas udang merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya karena memiliki potensi sebagai sumber devisa, peningkatan perekonomian daerah dan pembudidaya, serta sekaligus pasar domestik dan global yang masih terbuka lebar. Teknologi budidaya udang yang sudah dikuasai juga menjadi penentu dalam peningkatan produksi udang setiap tahunnya.

“Potensi lahan budidaya udang khususnya dan tambak air payau pada umumnya, yang masih cukup luas dan meningkatnya animo masyarakat dalam berbudidaya udang, mendorong pemerintah untuk terus memberikan pendampingan baik berupa teknologi maupun pencegahan penyakit, agar budidaya udang yang saat ini dilaksanakan tetap memperhatikan kondisi lingkungan baik di dalam tambak maupun di sekitar tambak, sehingga budidaya udang dapat dilakukan secara berkelanjutan,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, di Jakarta, belum lama ini.

Berdasarkan data statitistik perikanan budidaya 2014, produksi total udang nasional mencapai 592.219 ton (data sementara), dengan komoditas udang vaname sebesar 70%, udang windu 21% dan udang lainnya 9%. “Volume produksi ini masih akan bisa bertambah mengingat belum semua data produksi udang dari beberapa sentra budidaya udang yang masuk,” ungkap Slamet.

Target produksi udang tahun 2015 adalah sebesar7 55.506 ton. Untuk mencapai target tersebut, beberapa startegi telah disiapkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dipimpin oleh Susi Pudjiastuti. “Strategi tersebut adalah pengembangan kawasan minapolitan perikanan budidaya yang terintegrasi dengan pengolahan produk perikanan, pengelolaan budidaya udang yang ramah lingkungan, pengelolaan saluran tambak partisipatif (PITAP), peningkatan produksi induk udang unggul dan menyediakan benih udang bermutu melalui pengembangan nauplii center di sentra-sentra produksi udang dan terakhir menarik investasi di bidang perikanan budidaya khususnya budidaya udang melalui dukungan permodalan baik dari bank maupun non bank,” jelas Slamet.

Slamet menambahkan bahwa untuk menuju usaha budidaya udang yang berdaya saing dan berkelanjutan, perlu memperhatikan tiga aspek utama yaitu teknologi, sosial ekonomi dan budidaya ramah lingkungan. “Teknologi perlu diterapkan dalam berbudidaya udang untuk mencapai efisiensi dan meningkatkan kualitas produks iudang yang berkelanjutan. Kemudian yang perlu diperhatikan adalah peningkatan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat sekitar sehingga mereka juga merasakan keberhasilan petambak dan sekaligus mampu menyerap tenaga kerja di sekitar lingkungan tambak,” tambah Slamet.

Slamet menambahkan bahwa pemanfaatan tambak-tambak idle atau mangkrak juga harus memperhatikan lingkungan sekitarnya. Sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), operasionalisasi tambak-tambak idle harus memenuhi beberapa syarat seperti adanya Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL), tandon air dan sistem resirkulasi serta klasterisasi. “Ini semua akan berujung pada peningkatan produktivitas lahan dan kesinambungan usaha budidaya udang itu sendiri,” papar Slamet.

Aspek ketiga yaitu budidaya ramah lingkungan juga tidak kalah penting untuk diperhatikan. “Budidaya ramah lingkungan merupakan suatu keharusan. Karena ini akan mendukung keberlanjutan dari usaha budidaya udang itu sendiri. Penambahan lahan tambak harus diikuti dengan penanaman pohon bakau untuk menambah area green belt (sabuk hijau) yang bisa melindungi tambak dari abrasi sekaligus sebagai nursery ground bagi komoditas lain. Di samping itu juga, pohon bakau juga dapat berfungsi untukm emperkuat tanggul tambak. Untuk itu sesuai arahan Bu Susi, bahwa 30% dari luas total areal tambak harus di pergunakan sebagai lahan bakau sehingga hal ini akan sekaligus mengurangi resiko munculnya penyakit dan menghindari kerugian dari usaha budidaya udang. Pengalaman dari budidaya udang windu di masa lalu, jangan sampai terulang kembali. Pembudidaya harus memperhatikan lingkungan sehingga dapat berbudidaya secara berkelanjutan, seperti padat tebar yang sesuai daya dukung tambak dan menggunakan sistem budidaya polikultur,” sambung Slamet.

Budidaya udang windu yang merupakan udang asli dari Indonesia, juga akan terus ditingkatkan. “Potensi budidaya udang windu saat ini ada di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Budidaya udang windu juga kita dorong dengan menyediakan benih bermutu dan induk unggul udang windu seperti yang telah dihasilkan oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Kita harus bangkitkan kembali udang windu sebagai salah satu perwujudan kemandirian pangan,” pungkas Slamet.

BERITA TERKAIT

Sika Indonesia Resmikan Pabrik Ketiga di Cibitung

NERACA Bekasi – Perusahaan bahan kimia untuk konstruksi dan industri, Sika semakin mengukuhkan bisnisnya di Indonesia dengan meresmikan pabrik ketiga…

PRS, Solusi Sementara PGN untuk Alirkan Gas Bumi di Jawa Tengah

NERACASemarang - Dengan berdirinya sejumlah kawasan industri baru seperti di Kendal dan Ungaran, menjadi salah satu pertimbangan bagi investor dan…

Menteri Susi Prakarsai Dialog Pemberantasan IUU Fishing

NERACA New York - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kelautan, Peter Thomson,…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Sika Indonesia Resmikan Pabrik Ketiga di Cibitung

NERACA Bekasi – Perusahaan bahan kimia untuk konstruksi dan industri, Sika semakin mengukuhkan bisnisnya di Indonesia dengan meresmikan pabrik ketiga…

PRS, Solusi Sementara PGN untuk Alirkan Gas Bumi di Jawa Tengah

NERACASemarang - Dengan berdirinya sejumlah kawasan industri baru seperti di Kendal dan Ungaran, menjadi salah satu pertimbangan bagi investor dan…

Menteri Susi Prakarsai Dialog Pemberantasan IUU Fishing

NERACA New York - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kelautan, Peter Thomson,…