Kinerja Anjlok Pangkas Peringkat Garuda

NERACA

Jakarta – Meskipun PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mendapat pengakuan sebagai maskapai bintang lima oleh Skytrax, namun tidak serta merta mendorong performance kinerja keuangan perseroan yang saat ini masih raport merah. Bahkan buruknya kinerja keuangan maskapai penerbangan plat merah ini, direspon negatif lembaga pemeringkat Fitch dengan menurunkan peringkat PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) ke BBB+ (idn) dari sebelumnya di A-.

Dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (11/2), peringkat tersebut merevisi peringkat sebelumnya menjadi negatif dari stabil. Di saat yang bersamaan, peringkat obligasi Garuda senilai Rp2 triliun yang jatuh tempo pada 2018, juga telah diturunkan ke BBB+ (idn) dari A- (idn).

Penilaian rating nasional 'BBB' menunjukkan suatu standar moderat yang relatif terhadap emiten atau pembayaran kewajiban dalam setiap negara. Namun demikian, perubahan dalam keadaan atau kondisi ekonomi, lebih mungkin mempengaruhi kapasitas pembayaran tepat waktu daripada kasus komitmen keuangan yang dilambangkan melalui kategori nilai yang lebih tinggi.

Alasan pemberian penurunan peringkat ini karena profil keuangan perseroan yang melemah secara berkelanjutan, terutama didorong oleh ketidakcocokan mata uang dan struktur tetap biaya tinggi. Fitch melihat pada 2015, melihat dari rendahnya biaya bahan bakar, membuat fundamental perusahaan masih tetap lemah dan persaingan yang masih tetap menantang. Peringkat Garuda dua notches ini juga mendapat dukungan dari pemerintah Indonesia (BBB-/Stable).

Sebagai informasi, tahun ini PT Garuda Indonesia Tbk terus melakukan efisiensi dan termasuk memangkas beban rugi dan salah satunya melakukan kebijakan lindung nilai atau hedging dengan menggandeng tiga bank langsung. Disebutkan aksi korporasi hedging melalui transaksi cross currency swap senilai Rp 1 triliun dengan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), dan Standard Chartered Bank,”Sebagai maskapai yang hampir 70% dari biaya operasionalnya seperti biaya sewa pesawat, bahan bakar, maintenance, dan berbagai pembiayaan lain dikeluarkan dalam bentuk dolar. Maka Garuda perlu melakukan upaya dengan mengacu pada prinsip kehati-hatian demi menjadi kestabilan kegiatan operasional," kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Arif Wibowo.

Disebutkan, kerjasama tersebut akan berlangsung dalam jangka waktu 3,5 tahun dan berakhir pada 5 Juli 2018. Asal tahu saja, berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2014, Garuda Indonesia diketahui mengalami rugi selisih kurs sebesar US$ 6,62 juta atau sekitar Rp 84,21 miliar dibandingkan dengan untung kurs yang diperolehnya pada kuartal III 2013 sebesar US$ 37,63 juta setara Rp 478,13 miliar.

Disamping itu, perseroan juga tengah menghemat biaya operasional yang ditargetkan mencapai lima hingga 10% atau sekitar US$ 200 juta sebagai strategi efisiensi untuk menutupi utang sebanyak Rp2 triliun pada kuartal III 2014,”Kami semakin 'secure' untuk menghadapi persaingan-persaingan ke depan, kami akan menurunkan biaya operasi lima hingga 10% sebagai strategi efisiensi menurunkan biaya operasi," ujar Arif Wibowo.

Pengetatan biaya operasional tersebut tidak akan menurunkan pelayanan Garuda Indonesia sebagai maskapai bintang lima. Selan itu, perseroan juga akan mendatangkan 15 pesawat pada 2015 dan di harapkan dengan adanya penambahan pesawat, lanjut Arif, frekuensi penerbangan juga akan ditambah dari 600 frekuensi penerbangan menjadi 650 frekuensi penerbangan. (bani)

BERITA TERKAIT

Kinerja Memburuk, Dua Komisaris Minta RUPS Ganti Dirut Garuda

NERACA   Jakarta - Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, rencananya akan digelar akhir bulan ini,…

Kinerja Bank Jatim Naik Didorong Inovasi

    NERACA   Surabaya - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk atau Bank Jatim menyebutkan peningkatan kinerja keuangan…

Prabowo Sentil Garuda Di Debat, Wacana Pergantian Dirut Muncul Ke Permukaan

Prabowo Sentil Garuda Di Debat, Wacana Pergantian Dirut Muncul Ke Permukaan NERACA Jakarta - Dalam debat terakhir Pilpres, Capres Prabowo…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Astrindo Raih Pendapatan US$ 27,16 Juta

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) membukukan pendapatan sebesar US$27,16 juta atau melesat…

Optimalkan Tiga Lini Bisnis Baru - Mitra Investindo Siapkan Capex US$ 3 Juta

NERACA Jakarta – Menjaga keberlangsungan usaha pasca bisnis utama terhenti pada akhir tahun lalu, PT Mitra Investindo Tbk (MITI) bakal…

Laba Betonjaya Melesat Tajam 144,59%

Di tahun 2018, PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON) mencatatkan laba tahun berjalan senilai Rp27,81 miliar atau naik 144,59% dibandingkan periode…