Diplomasi Mobil Proton

Ketika melihat Dr Mahathir Mohammad, mantan PM Malaysia, duduk memegang kemudi mobil Iriz, sedang produk terbaru pabrik mobil Proton, Presiden Joko Widodo yang duduk disampingnya terlihat gembira dan banyak menebar senyum ke publik sekitarnya.

Pemandangan tersebut tentu sangat indah. Apalagi, sebelumnya hubungan kedua negara sempat memanas akibat pemuatan iklan vacuum cleaner yang menyinggung perasaan bangsa Indonesia, dengan menampilkan kalimat “Fired Your Indonesia Maid” yang dapat ditafsirkan negatif terhadap warga TKI, khususnya pembantu rumah tangga di negeri jiran itu.

Bukan hanya Duta Besar RI untuk Malaysia Herman Prayitno yang menyatakan iklan itu sangat mengganggu perasaan bangsa Indonesia, sebagian besar petinggi Indonesia pun tersinggung.

Namun, ketegangan itu akhirnya mencair setelah acara penandatanganan kerja sama antara Proton dan perusahaan Indonesia, PT Adiperkasa Citra Lestari yang akan mengembangkan mobil nasional di Tanah air. Dari pihak Adiperkasa, diwakili CEO-nya, AM Hendropriyono, yang merupakan “orang dekat” Presiden Jokowi.

Baik Mahathir maupun PM Najib menyebutkan, Proton akan mengembangkan mobil nasional bagi RI dan sembilan negara ASEAN lainnya. Sebagai awal langkah, dilakukan uji kelayakan segera selama enam bulan. Dari dalam negeri, Menteri Perekonomian Sofyan Djalil menuturkan, akan ada langkah lanjutan yaitu membuat pabrik di Bekasi.

Mendengar kabar upaya pengembangan mobil nasional (mobnas) ini menuai pro dan kontra. Kita teringat saat Jokowi menjabat Wali Kota Solo waktu lalu menggadang-gadang produk Esemka, mobil rakitan anak-anak sekolah menengah di Jawa Tengah, yang dijadikan mobil dinasnya. Bahkan Jokowi membawa Esemka ke Jakarta, meski kemudian belakangan tak pernah terlihat dipakai lagi sebagai mobil dinas Gubernur DKI Jakarta. Ketika itu, Esemka dihujani banyak dikritik, karena diduga mobil pabrikan Tiongkok yang hanya dirakit ulang di dalam negeri.

Penyebutan predikat “mobnas” juga mengingatkan kita pada apa yang pernah dilakukan mantan Presiden Soeharto pada 1996, dimana mobil Timor, sedan asal pabrikan Korea Selatan KIA, “diadopsi” sebagai Mobnas.

Meski dipayungi kebijakan istimewa dalam perpajakan dan distribusinya, proyek Timor hanya setahun lebih usianya kandas. WTO pun menegaskan, sejak itu, Inpres Nomor 2/1996 soal mobil nasional harus dihapus. Indonesia akhirnya dipersulit untuk memiliki Mobnas.

Kini, kebijakan serupa mempredikatkan Mobnas kepada mobil asal pabrikan Proton, yang tentunya akan mengingatkan pada trauma serupa di masa lalu, yaitu sejumlah kebijakan istimewa insentif untuk mendukungnya.

Wajar, jika publik sekarang banyak bertanya dan mengritik pedas. Karena perlu dipikirkan secara cermat, apa keuntungan Indonesia dan warganya dari mobil tersebut. Pasalnya, Proton dan Malaysia kini tak lagi bisa disebut mumpuni sebagai industri canggih otomotif. Namun Thailand kini sudah menjadi epicentrum otomotif Asia Tenggara, yang lazim dikenal sebagai “The New Detroit in Automotive”.

Apalagi data Malaysian Automotive Institute (MAI) Review and Insight 2014/2015 menyebutkan, pangsa pasar Proton hanya 17,4%, masih dengan dukungan pemerintah. Di sisi lain, Proton gagal menguasai pasar Asia, bahkan ASEAN. Jadi, bila ada alihteknologi dari Malaysia, dengan berbagai fakta tersebut harusnya menjadi pertimbangan ke depan. Bagaimanapun, keberhasilan bisnis otomotif salah satunya disebabkan hasil inovasi dalam pasca penjualan maupun teknologinya. Selayaknya, pemerintah Indonesia perlu berpikir kembali untuk kerja sama tersebut.

BERITA TERKAIT

Diplomasi Sawit - Pemerintah Tunggu Proposal Lanjutan Terkait Diskriminasi CPO

NERACA Jakarta – Pemerintah sedang menunggu proposal lanjutan dari Uni Eropa setelah otoritas tersebut membuat kebijakan diskriminatif yang menyatakan kelapa…

Niaga Komoditas - Diplomasi Dagang untuk Sawit Indonesia Ditingkatkan di Mesir

NERACA Jakarta – Diplomasi dagang untuk produk kelapa sawit Indonesia ditingkatkan melalui kunjungan Duta Besar RI untuk Mesir Helmy Fauzi…

KERAJINAN MOBIL KLASIK

Perajin memproduksi kerajinan miniatur mobil klasik dari kayu di sentra industri kecil dan menengah di Desa Sumberagung, Kecamatan Perak, Jombang,…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Pesta Demokrasi Aman dan Damai

Sedikitnya 195 juta warga telah melaksanakan kewajibannya memilih sekitar 245 ribu caleg dari seluruh tingkatan dan dua pasangan calon presiden…

Jaga Ekonomi Politik Stabil

Di tengah hiruk pikuk politik yang makin memanas jelang Pemilu 2019, kondisi ekonomi tampaknya telah memisahkan diri (decoupling) dari politik…

Mengerek Rasio Pajak

Menarik sekali dalam debat terakhir Pilpres 2019, Sabtu (13/4) malam, Capres Prabowo berambisi meningkatkan  menuju rasio pajak (Tax Ratio) 16%…