Terburu-buru Mobnas

Oleh: Muhammad Hanif

Peneliti Indef

Wacana mengenai mobil nasional (mobnas) yang akhir-akhir ini hangat dibicarakan merupakan gambaran diliriknya Indonesia sebagai pasar otomotif yang potensial di ASEAN. Hal ini ditunjukkan dengan penjualan mobil pada tahun 2014 yang mencapai 1,2 juta unit, meningkat lebih dari 250% dari tahun 2006. Frost & Sullivan memprediksikan pada tahun 2019, permintaan mobil Indonesia akan mendominasi 50% pasar mobil ASEAN yang mencapai 4,71 unit pertahun. Kondisi ini didukung oleh ekonomi domestik yang relatif stabil, jumlah penduduk yang sangat besar, dan bertumbuhnya kelas menengah.

Di tengah pasar yang begitu potensial, perlu menjadi catatan bahwa skala produksi dan kinerja ekspor Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan Thailand yang merajai industri otomotif ASEAN. Produksi mobil Indonesia saat ini baru mencapai 1,29 juta unit pertahun dengan persentase ekspor masih di bawah 20%. Di saat yang bersamaan Thailand sudah mampu memproduksi sebanyak 2,45 juta unit pertahun dengan tingkat ekspor mencapai 50%. Terjadi kekhawatiran Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi industri otomotif negara lain terutama dari Thailand.

Indonesia bisa saja kembali membangun industri mobnas merek sendiri untuk meningkatkan skala produksi dan kinerja ekspor seperti yang sudah pernah dilakukan pada zaman Soeharto. Hal ini sudah dilakukan oleh Malaysia dimana mobnas berhasil menguasai 64% pasar domestik. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa mobnas Malaysia masih belum bisa bersaing dengan pemain otomotif besar seperti merek dagang Jepang dan Eropa ditingkat regional maupun global. Sedangkan Thailand walaupun 90 persen produksi mobilnya masih menumpang merek dagang Jepang, namun saat ini telah menjadi produsen mobil utama di ASEAN dan urutan 9 di dunia. Pemerintah Thailand bersaing dengan cara membangun supplier komponen dalam negeri yang kuat dan kompetitif sehingga memainkan peran yang signifikan dalam basis produksi regional dan rantai produksi global.

Indonesia yang saat ini masih mengimpor lebih dari 80% komponen industri otomotif tidak perlu terburu-buru dalam menciptakan mobnas dengan merek sendiri. Indonesia seharusnya membangun industri komponen otomotif yang kuat, berdaya saing, dan siap masuk dalam pasar ekspor untuk dapat bersaing dalam kompetisi industri mobil ASEAN maupun global. Kebijakan investasi dalam industri otomotif juga harus diiringi dengan komitmen transfer teknologi dan pembangunan pusat penelitian dan pengembangan sehingga investasi yang ditanamkan tidak hanya berupa eksploitasi pasar domestik. Selain itu pemerintah juga harus menyediakan insentif fiskal semisal pengurangan pajak penghasilan bagi industri mobil yang berorientasi ekspor jika kandungan tingkat komponen dalam negeri (TKDN)-nya melebihi tingkat tertentu.

Pembangunan komponen yang berdaya saing, transfer teknologi yang berkesinambungan, dan insentif fiskal bagi industri mobil yang berorientasi ekspor akan dapat memposisikan Indonesia sebagai pemain yang dipertimbangkan dalam pasar mobil ASEAN dan global. Pada akhirnya yang diharapkan adalah Indonesia yang tidak sekedar menjadi penjahit dalam industri otomotif dunia, akan tetapi sebagai aktor yang mandiri dan diperhitungkan.

BERITA TERKAIT

Ketua DPR - Amandemen UUD 1945 Jangan Terburu-buru

Bambang Soesatyo Ketua DPR Amandemen UUD 1945 Jangan Terburu-buru Jakarta - Ketua DPR Bambang Soesatyo meminta agar usulan amandemen Undang-undang…

The Fed Tidak Terburu-Buru Naikkan Suku Bunga

  NERACA Jakarta - Ketua Federal Reserve (Fed) AS Jerome Powell mengatakan pada Minggu (10/3) bahwa bank sentral AS "tidak merasa…

Aparat Agresif Buru Pelaku Teror di Semarang

  Oleh : Dewi Widyastuti, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan Aksi teror pembakaran mobil dan motor sempat membuat gaduh di Kota Semarang,…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Produk UMKM di Tengah Pasar Global

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) selama ini dikenal dalam tahan banting terhadap…

Rasa Nasionalisme

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Peringatan 74 tahun kemerdekaan menyisakan tantangan untuk memacu…

Kabinet Baru dan Nasib Sial RI

  Oleh: Gigin Praginanto Pengamat Kebijakan Publik Banyak hal harus dibenahi dalam manajemen pemerintahan agar kabinet yang baru bisa bekerja…