Menentukan Untuk Program CSR

NERACA- Dalam menjalankan tanggungjawab sosialnya, perusahaan diwajbkan untuk melaksanakan tugasnya dalam tanggungjawab sosialnya tersebut, melalui kegiatan CSR (Corporate Sosial Responsibility), yang tidak lain dilakukan sebagai upaya perusahaan demi keberlanjutan perusahaan itu sendiri. Hal tersebut dilakukan sebagai wujud apresiasi perusahaan kepada masyarakat dalam kegiatan bidang sosial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar melalui berbagai macam kegiatan sosial.

Kegiatan tanggungjawab sosial tersebut diantaranya dilakukan dengan menitikberatkan pada bidang-bidang sosial, antara lain seperti dalam bidang pendidikan, bakti sosial, pengentasan kemiskinan dan lain-lain. Lalu, sebelum kegiatan tanggungjawab sosial tersebut terlaksana, maka tentunya ada panduan tentang bagaimana cara menentukan bidang-bidang apa saja yang dijadikan target untuk kegiatan dalam program CSR agar tidak salah sasaran tentunya?

Menurut penjelasan yang terdapat dalam forum Lingkar Studi CSR Indonesia, program-program CSR akan jatuh pada salah satu kategori dalam meminimumkan dampak negatif, termasuk pengkompensasiannya serta akibatnya. Atau sebaliknya, yakni untuk memaksimalkan dampak positif yang ada setelah kegiatan CSR tersebut dilakukan. Pengkategorian ini lebih jauh diuraikan berdasarkan pemangku kepentingannya. Artinya, program CSR dalam perusahaan dibuat berdasarkan kepentingan yang sahih dalam kelompok tertentu, yang didekati, baik secara langsung ataupun melalui fasilitator, yang bertujuan untuk mengetahui pandangannya tentang apa yang seharusnya dilakukan.

Menjadi mudah apabila perusahaan telah melakukan rencana berupa pemetaan terhadap pemangku kepentingan terlebih dahulu. Hasil pemetaaan tersebut yang nantinya akan menjadi urutan prioritas program CSR untuk tiap pemangku kepentingan. Langkah berikutnya adalah, perusahaan melakukan penyesuaian dengan kebijakan dan ketersediaan sumberdaya, serta merundingkan mekanisme berbagi sumberdaya (resource matching) antara semua pihak, termasuk masyarakat.

Setelah prioritas dan ketersediaan sumberdaya diketahui, maka yang selanjutnya dilakukan ialah penyusunan program jangka panjang hingga pendek. Sedang organisasi pelaksananya dibuat dengan memasukkan masing-masing pemangku kepentingan, untuk memastikan program yang disusun dilaksanakan sesuai rencana.

Menurut Jalal, dari Lingkar Studi CSR/A+ CSR Indonesia, mengatakan bahwa projek atau program CSRharus dilakukan dengan mengetahui terlebih dahulu persilangan antara isu yang penting untuk perusahaan dan isu yang pentingbagi pemangku kepentingan.

”Isu yang penting untuk perusahaan diketahuimelalui atributisu yang relevan bagi industri ataupun perusahaan, isu yang diatur dalam kebijakan pemerintah, dan isu yang memilikipengaruh terhadap keuangan perusahaan. Isu yang penting untuk pemangku kepentingan dilihat melalui atribut norma masyarakat luas, yakni secara lokal, nasional, dan global, serta pandanganpemangku kepentingan.Tentu, terlebih dahulu perlu diketahui siapa saja yang termasuk pemangku kepentingan perusahaan”, tambahnya.

Dengan mengetahui isu-isu apa saja yang penting untuk dirinya maupun pemangku kepentingan, perusahaan bisa membuat prioritisasi isu, lalumenentukan projek atau program apa yang hendak dibuatnya.Proses prioritisasi itu menjadi sangat penting, karena perusahaan memiliki sumberdaya yang terbatas. Proses ini juga akan menunjukkan dengan jelas, kepada siapa perusahaan harus memberikan CSR-nya.

Related posts