Capaian Kontrak Acset Meleset Dari Target - Imbas Sentimen Negatif Pemilu

NERACA

Jakarta – Tahun 2014 menjadi tahun terberat bagi kinerja keuangan perusahaan konstruksi PT Acset Indonusa Tbk (ACST). Pasalnya, sentiment politik saat pemilu lalu memberikan dampak terhadap lesunya perolehan kontrak perseroan. Tercatat, perseroan hanya memproleh kontrak sebesar Rp 600 miliar dari target Rp 1,5 triliun.

Direktur ACST, Hilarius Aswandhi mengatakan, perseroan baru meraih kontrak baru sebesar Rp600 miliar di 2014, dari target sebesar Rp1,5 triliun. Sedangkan total kontrak berjalan selama 2014 mencapai Rp3,3 triliun. Adanya pemilu membuat perseroan menahan diri, sehingga target kontrak tidak dicapai dengan baik,”Banyak menunda proyek konstruksi, terpaksa mengulang pada tahun ini,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Terkait target kontrak pada tahun ini, dia belum bisa menjelaskan secara detail. Lantaran perseroan masih menghitung semua hal, setelah PT United Tractors Tbk (UNTR) masuk ke dalam manajemen ACST."Kita cari yang pas sinerginya. Setelah itu, kita baru bisa fokus pada pengembangan bisnis," tukas dia.

UNTR melalui anak usahanya, PT Karya Supra Perkasa (KSP), telah melakukan pembelian sebanyak 200 juta saham atau mewakili 40% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh dalam ACST, dari PT Cross Plus Indonesia (CPI) dan PT Loka Cipta Kreasi (LCK).

Disebutkan, proses akuisisi tersebut merupakan kelanjutan dari Memorandum of Understanding (MOU) yang telah ditandatangani pada 10 Oktober 2014 dan Conditional Sale and Purchase of Shares Agreement (CSPA) atau Perjanjian Pengikatan Jual Beli Saham pada tanggal 18 Desember 2014,”Berdasarkan MOU dan CSPA tersebut, KSP berencana untuk membeli saham ACST minimum sejumlah 250,5 juta saham (mayoritas)," kata Corporate Secretary UNTR, Sara K Loebis.

Sara menjelaskan, selanjutnya KSP akan melaksanakan pembelian saham ACST dari pemegang saham publik melalui Mandatory Tender Offer (MTO) atau Penawaran Tender Wajib. Melalui MTO tersebut, diharapkan KSP dapat memperoleh sedikitnya 50,5 juta saham atau mewakili 10,1 persen dari seluruh jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam ACST, untuk memperoleh Mayoritas Saham.

Apabila dalam proses MTO, KSP gagal untuk memperoleh sedikitnya 50,5 juta saham, dia menegaskan, maka KSP akan melakukan pembelian tambahan saham dari CPI dan LCK, sehingga jumlah total saham yang akan diperoleh KSP adalah sebanyak-banyaknya setara dengan Mayoritas Saham.

Prosesi penutupan transaksi pembelian saham-saham tersebut bertempat di Gedung Astra International dan dilakukan oleh Tan Tiam Seng Ronnie pemilik CPI, Hilarius Arwandhi pemilik LCK, Gidion Hasan Presiden Direktur KSP, dan Jeffrey Chandrawijaya Direktur KSP. UNTR mengakuisisi ACST memiliki nilai transaksi yang mencapai Rp650 miliar dengan harga kisaran 3.250 per lembar.

Kemudian hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) kemarin, menyetujui perombakan susunan komisaris dan direksi perseroan seiring dengan masuknya UNTR melalui anak usahanya, PT Karya Supra Perkasa. Dalam RUPSLB mengangkat Gidion Hasan sebagai Presiden Komisaris perseroan, Bambang Widjanarko Santoso dan Andi Azhar Cakra Wijaya sebagai Komisaris dan Robert Mulyono sebagai Komisaris Independen perseroan.

Perseroan juga mengangkat Tan Tiam Seng Ronnie sebagai Presiden Direktur, dan Jeffrey Gunadi Chandrawijaya sebagai Wakil Presiden Direktur. Hilarius Arwandhi, Lukas Iwan Setiadi dan Herjadi Budiman diangkat sebagai Direktur perseroan. Sedangkan Wiltrasa Halim sebagai Direktur Independen perseroan. (bani)

BERITA TERKAIT

Nusa Raya Incar Kontrak Baru Rp 3,5 Triliun

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) perusahaan jasa konstruksi swasta di Indonesia menargetkan kontrak baru…

Waskita Targetkan Kontrak Baru Rp 55 Triliun

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) menargetkan total kontrak baru sekitar Rp55 triliun,”Total kontrak baru…

Tahun 2018, Laju Investasi PMDN di Kota Sukabumi Lebihi Target - Penyerapan Tenaga Kerjanya Mencapai 5.138

Tahun 2018, Laju Investasi PMDN di Kota Sukabumi Lebihi Target Penyerapan Tenaga Kerjanya Mencapai 5.138 NERACA Kota Sukabumi - Laju…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…