Jangan Kucilkan Penderita Epilepsi - Bukan Penyakit Menular

Walaupun epilepsi sudah dikenal sejak lama, namun hingga kini masih banyak masalah yang melekat pada penyakit ini. Namun harus diketahui bahwa penyakit Epilepsi pada anak-anak tidak menular.

NERACA

“Epilepsi bukan penyakit menular. Berbeda dengan yang muncul pada masa kanak-kanak, jenis ini cenderung menetap dan memerlukan pengobatan seumur hidup. Bangkitan pertama pada pasien dewasa harus dievaluasi lebih lanjut. Karena bangkitan yang baru terjadi 1 kali belum tentu didiagnosis sebagai epilepsy,” kata Neurolog dari RSCM, dr. Fitri Octaviana Sumantri.

Oleh karena itu, kata dr. Fitri diperlukanya beberapa pemeriksaan penunjang seperti EEG, pencitraan otak (MRI kepala) serta pemeriksaan laboratorium.

dr. Fitri mengatakan agar ODE dapat memiliki kualitas hidup yang baik, bangkitan epilepsi harus dapat terkontrol. Jika terjadi kekambuhan, maka harus dicari dengan teliti faktor pemicunya yang berbeda pada masing-masing ODE.

Misalnya, pada perempuan yang berkaitan dengan perkembangan fisiologis sekundernya, yaitu pada masa pubertas, menstruasi (epilepsi katamenial), pada masa kehamilan, persalinan, menyusui, menopause, masa penggunaan kontrasepsi serta masa terapi sulih hormon.

“Di samping itu, harus dilihat apakah pasien patuh terhadap pengobatan karena hal ini menjadi sangat penting guna mengontrol serangan epilepsy,” katanya.

Seringkali penyebab epilepsi sulit ditentukan, oleh karena itu diagnosa harus ditegakkan dengan hati-hati setelah melalui anamnesis yang rinci. Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan epilepsi antara lain adalah gangguan perkembangan otak yang dapat terjadi sebelum lahir (dalam kandungan).

Oleh karena itu, kata dr. Fitri mengatakan antenatal care seperti gizi pada masa kehamilan sangat penting untuk diperhatikan. Di samping itu, perlu diperhatikan keadaan pada saat persalinan maupun setelah lahir.

“Keadaan-keadaan lain juga harus diperhatikan, misalnya trauma kepala (injury), perdarahan, tumor, infeksi otak atau infeksi selaput otak, faktor genetik serta gangguan metabolism,” katanya.

dr Fitri menjelaskan, Epilepsi dibagi menjadi dua bagian berdasarkan jenis serangannya, yaitu epilepsi umum (kesadaran terganggu) dan epilepsi parsial. Jenis serangan yang termasuk dalam epilepsi umum adalah petit mal (Absence) dimana pasien tampak hilang kesadaran sesaat (bengong), lama biasanya hanya beberapa detik saja, grand mal (tonik klonik) berupa kejang kelojotan seluruh tubuh yang kadang disertai mulut berbusa, tonik yaitu serangan berupa kejang / kaku seluruh tubuh, atonik yaitu serangan berupa tiba- tiba jatuh seolah-olah tidak ada tahanan dan mioklonik, berupa kontraksi dari salah satu atau beberapa otot tertentu.

Menurutnya penderita Epilepsi harus melakukan terapi agar mengurangi gejala kekambuhan dan membantu mereka mencapai kualitas hidup yang baik. Terapi yang tepat akan mengurangi kecenderungan otak untuk mendapatkan bangkitan dengan cara mengurangi kegiatan elektrik yang berlebihan atau mengurangi rangsangan yang diterima oleh neuron atau saraf dalam otak.

“Namun perlu diingat bahwa mengganti Obat Anti Epilepsi (OAE) tanpa indikasi yang jelas justru dapat meningkatkan risiko kekambuhan,” katanya.

Sedangkan Ketua YEI, dr. Irawaty Hawari mengatakan, kami menyadari masih adanya stigma dan mitos yang berkembang di masyarakat membuat ODE dikucilkan oleh lingkungan, dikeluarkan dari sekolah, karir dan kehidupan berumah tangga terhambat, sehingga membuat mereka merasa tertekan dan depresi. Oleh karena itu, banyak keluarga dari ODE menutup-nutupi keadaan sehingga membuat penanganan epilepsi menjadi tidak optimal.

“Masih banyak anggota keluarga OAE yang masih malu dengan kondisi dilingkungan rumahnya, yang mebuat anak tersebut disembuyikan dari lingkungan sekitar rumah,” kata dr. Irawaty.

Tujuan pemberian OAE adalah agar serangan epilepsi berhenti. Sehingga diharapkan orang tua mengikuti anjuran dokter untuk memberikan OAE selama 2 tahun kepada anak agar terbebas dari kejang. Laporkan bentuk serangan epilepsi terutama bila bentuk serangan berbeda.

BERITA TERKAIT

Wakil Presiden - Ancaman Terbesar Indonesia Bukan Lagi Perang Fisik

Jusuf Kalla Wakil Presiden Ancaman Terbesar Indonesia Bukan Lagi Perang Fisik  Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan tantangan yang…

Pakar: UU Siber Bukan Lagi Mendesak, Tapi Darurat

Pakar: UU Siber Bukan Lagi Mendesak, Tapi Darurat   NERACA Jakarta - Pakar hukum telematika Universitas Indonesia (UI) Edmon Makarim menegaskan…

Ketua DPR - Amandemen UUD 1945 Jangan Terburu-buru

Bambang Soesatyo Ketua DPR Amandemen UUD 1945 Jangan Terburu-buru Jakarta - Ketua DPR Bambang Soesatyo meminta agar usulan amandemen Undang-undang…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Mengurai Fakta di Balik Sit Up Bisa Kecilkan Perut Buncit

Tak ada orang yang ingin punya perut buncit. Pasalnya perut buncit dianggap akan mengurangi penampilan seseorang. Hanya saja sayangnya, mengecilkan…

'Menyelamatkan' Stok ASI di Kulkas Ketika Listrik Padam

Ketika listrik padam, ibu menyusui langsung merasa panik. Apalagi mereka yang punya banyak stok ASI perah dalam lemari es. Bagi…

Berbagai Manfaat Telur Rebus untuk Kesehatan

Ada banyak cara untuk mengolah telur. Setiap cara pengolahan telur menawarkan manfaat kesehatan yang berbeda untuk tubuh. Merebus telur adalah…