Gara-gara ACFTA, Pabrik Mainan Lokal "Bangkrut"

NERACA

Jakarta - Sejak diberlakukannya Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA) pada awal 2010 lalu, industri mainan anak dan furniture Indonesia ditenggelamkan produk asal China.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengaku, banyak pabrik mainan anak yang berlokasi di pulau Jawa, tapi memproduksi barang yang berlabel buatan China. Hal itu merupakan sinyal buruk yang harus segera disikapi oleh pemerintah.

“Ada suatu fenomena, di mana ada pabrik mainan di Indonesia. Mereknya global dan produknya dijual di Indonesia. Tapi labelnya made in China. Ini suatu sinyal. Saya mau cek. Ini harus disikapi,” kata Hidayat, di Jakarta, Selasa (13/9).

Hidayat menegaskan, akan berkoordinasi dengan kementerian yang terkait dengan industri dan perdagangan, dan Menko Perekonomian,untuk melindungi pasar dalam negeri melalui tindakan pengamanan. “Sedangkan Kementerian Perindustrian akan membuat konsep proses efisiensi penyelundupan, penarikan barang, dan lain sebagainya,” tandas Hidayat.

Di tempat yang sama Dirjen Kerjasama Industri Internasional, Kementrian Perindustrian, Agus Tjahajana Wirakusumah menyatakan, khusus dengan China, Indonesia memang kewalahan itu pertama produk mainan anak-anak, yang kedua produk furniture.

Menurut Agus, produk lokal lainnya yang kalah bersaing dengan serbuan produk China adalah tekstil, garmen, dan produk elektronik. “Bahkan produsen mainan anak dan furniture sampai terpaksa memberhentikan tenaga kerjanya, bukan lagi penurunan penjualan,” terangnya.

Kekalahan Indonesia dalam persaingan produk impor dari China, sambungnya, sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Ditambah dengan adanya CAFTA yang semakin memperburuk keadaan di dalam negeri.

“Khusus untuk tekstil, kita kuatnya di segmen menengah ke atas, tetapi menengah ke bawah kita sangat kewalahan, yang tergempur itu industri kecil dan menengah,” kata Agus.

Sasaran produk China, papar Agus, adalah segmen menengah ke bawah yang sangat menggandrungi produk dengan harga murah. “Meskipun kualitasnya tidak bagus, segmen menengah ke bawah suka yang penting murah, kalau menengah ke atas mereka pilih yang ada keunikan, dan mereka tahu  akan kualitas,” urai Agus.

Agus memaparkan, perusahaan-perusahaan dari China berani bersaing dengan perusaah lokal meskipun pemerintah Indonesia telah memberlakukan tarif impor bagi produk-produk tertentu. “China itu, produknya dikenai bea masuk berapa saja mereka sanggup, apalagi sekarang ada CAFTA, kan tarifnya bisa sampai nol persen,” tukas dia.

Sejak tahun 2010 lalu, produk-produk impor dari China yang telah dikenai tarif bea masuk nol persen telah mencapai 80% dari total impor produk China. “Makanya sekarang kita sedang upayakan mendorong IKM agar lebih kuat,” tandas Agus.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisional Indonesia (Apmenti), Dhanang Sasongko memaparkan hal yang serupa. “Bea masuk sebesar 0 %,yang membuat kita tidak siap. Sementara, negara-negara lain sudah mempersiapakan diri sejak 10 tahun sebelumnya. Sejak ACFTA, semua produk semakin bebas masuk, jadi tidak ada penyaringnya,” jelasnya.

Bahkan saat ini, lanjut Dia, China juga mempunyai banyak distributor barang yang tersebar di seluruh Indonesia. “Biar China semakin lancar memasukkan barang impornya ke kita,” ujar Dhanang.

Dia mengaku, hingga saat ini, produk yang dihasilkan oleh semua anggota Apmenti masih kalah saing dengan China, terutama dalam hal bahan baku dan teknologi. “Bahan baku produk China itu plastik yang membutuhkan teknologi tinggi. Sehingga, proses produksi mereka lebih cepat. Sementara kita, kebanyakan adalah produk hand made yang terbuat dari kayu,” terang Dhanang.

Akibatnya, produk mainan anak buatan dalam negeri sulit untuk menembus pasar ekspor, terutama Eropa. “Kalaupun ada, paling ekspornya hanya ke Singapura. Itu juga masih kecil. Masih sekitar 5.000-8.000 mainan. Dengan harga sekitar US $ 5-10 per buah. Kita masih sulit melakukan ekspor, terutama ke Eropa, karena mereka mempunyai standar yang terlalu tinggi. Mereka detil sekali memperhatikan kualitas mulai dari packaging sampai mainan,” pungkas Dhanang.

BERITA TERKAIT

Tingkatkan Ekspor, 12 Industri Alsintan Diboyong ke Maroko

NERACA Meknes – Kementerian Perindustrian memfasilitasi sebanyak 12 industri alat dan mesin pertanian (alsintan) dalam negeri untuk ikut berpartisipasi pada ajang bergengsi Salon International de l'Agriculture…

Hadirkan Profesi Dunia Penerbangan - Traveloka Resmikan Flight Academy di KidZania Jakarta

Perkaya pengalaman inventori aktivitas wisata dan juga edukasi, Traveloka sebagai platform travel terdepan se-Asia Tenggar hadirkan wahana bermain edukatif di…

HBA dan HMA April 2024 Telah Ditetapkan

NERACA Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah resmi menetapkan Harga Batubara Acuan (HBA) untuk…

BERITA LAINNYA DI Industri

Tingkatkan Ekspor, 12 Industri Alsintan Diboyong ke Maroko

NERACA Meknes – Kementerian Perindustrian memfasilitasi sebanyak 12 industri alat dan mesin pertanian (alsintan) dalam negeri untuk ikut berpartisipasi pada ajang bergengsi Salon International de l'Agriculture…

Hadirkan Profesi Dunia Penerbangan - Traveloka Resmikan Flight Academy di KidZania Jakarta

Perkaya pengalaman inventori aktivitas wisata dan juga edukasi, Traveloka sebagai platform travel terdepan se-Asia Tenggar hadirkan wahana bermain edukatif di…

HBA dan HMA April 2024 Telah Ditetapkan

NERACA Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah resmi menetapkan Harga Batubara Acuan (HBA) untuk…