Target Pertumbuhan Ekonomi Mulai Terancam - BI KHAWATIRKAN KRISIS GLOBAL

Jakarta – Belum adanya kepastian pemulihan ekonomi global dari krisis Amerika Serikat dan Eropa menjadi momok yang menakutkan, khususnya di sektor finansial. Pasalnya, industri pasar modal lambat tapi pasti mulai terkoreksi cukup dalam di picu krisis global. Namun, lagi-lagi pemerintah mengklaim dampak tersebut tidak perlu dikhawatirkan karena fundamental ekonomi masih kuat.

NERACA

Sikap yang diperlihatkan pemerintah itu dinilai ekonom LIPI Agus Eko Nugroho tidak elok karena dituding tidak waspada. Padahal di saat seperti ini, kewaspadaan dan antisipasi perlu dilakukan dengan sigap dan cepat. Karena pertumbuhan ekonomi dalam negeri tidak bisa kepas dari imbas dan sentiment buruknya ekonomi global.

“Pemerintah seharusnya menyiapkan langkah serius dan bukan bualan gombal. Terlebih prediksi ekonomi global belum akan pulih hingga tiga tahun ke depan,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Selasa (13/9).

Di tengah ancaman krisis global saat ini, pemerintah harus menjaga pencapaian target pertumbuhan ekonomi 6,7%. Menurut Eko, sektor yang paling terkena dampak ketidakpastian ekonomi dunia adalah ekspor.

Menurut dia, sektor ekspor akan mengalami pelambatan karena kompetisi yang semakin berat dengan negara pengekspor lainnya, sementara permintaan dunia turun drastis. Terutama ekspor tekstil, alas sepatu, dan beberapa produk lainnya. “Pelambatan ekspor kita harus diwaspadai karena diprediksi hingga 10%,”ujarnya.

Oleh karena itu, pemerintah harus menjaga agregat demand dalam negeri. Melalui ekspansi fiskal, pemerintah harus menjaga agar produk dalam negeri mampu terserap di dalam negeri. Jika tidak fokus ke situ, produk dalam negeri hanya akan menjadi bulan-bulanan produk asing dari China melalui pelaksanaan free trade area (FTA).

Dia menambahkan, bila pemerintah berniat membela produk dalam negeri dan menjaga agregat demand, maka sektor riil harus tetap hidup dan produksi industri tetap tinggi. Daya saing ekonomi juga harus jadi prioritas pemerintah. Pasalnya, pungutan liar, korupsi, dan birokrasi yang tidak efektif akan membuat Indonesia kehilangan daya saing, bahkan akan kerepotan menghadapi fluktuasi krisis dunia.

Eko mengatakan, ekonomi dunia mengalami penurunan sejak 1980. Indikatornya sudah sangat jelas, kalau pertumbuhan ekonomi dunia akan terkoreksi. Karena bagaimana pun, pertumbuhan ekonomi dunia lebih ditopang oleh Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa. Ketika krisis dunia melanda, pertumbuhan lebih ditopang oleh negara-negara emerging market. Makanya tidak heran jika diproyeksikan sejauh 5 tahun ke depan, belum akan ada perubahan signifikan dalam pertumbuhan ekonomi global.

Hal senada juga disampaikan guru besar FE Univ. Brawijaya Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika, krisis ekonomi global yang terjadi di Amerika dan Eropa pasti akan berdampak ke Indonesia. Alasannya, perekonomian itu sangat saling terkait satu dengan yang lainnya. Kendati demikian, kerentanan ekonomi dalam negeri dari krisis global bisa dihadang jika pemerintah mampu menggerakkan sektor perekonomian kerakyatan terpadu. ”Indonesia diyakini mampu menahan ancaman krisis perekonomian global,”tegasnya.

Sebaliknya, gunjangan perekonomian global akan menjadi ancaman besar apabila Indonesia tidak mampu menghadapinya. Namun belajar dari pengalaman Indonesia mampu menghadapi krisis dalam setahun terakhir, karena ditopang dengan kondisi makro perekonomian yang cukup bagus dan kuat."Kondisi ekonomi Indonesia ketika krisis saat ini sudah jauh lebih baik dibanding 1997-1998 lalu” ujarnya.

Tetap Tumbuh

Ekonom Danareksa Purbaya Yudhi Sadewa berpendapat, krisis ekonomi global tidak akan berdampak signifikan bagi Indonesia. ”Pengaruh pasar global hingga saat ini tidak ada yang signifikan, kecuali jika Eropa benar-benar jatuh,”tandasnya.

Oleh karena itu, dia menuturkan, Indonesia tidak perlu khawatir dengan ketidakpastian ekonomi global, seperti yang terjadi saat ini. Meski demikian bukan berarti tidak berdampak sama sekali bagi Indonesia. ”Kecuali kalau Eropa tidak bisa membayarkan utangnya, mereka akan kena default, dan bahkan kemungkinan Euro akan menghilang dari peredaran,”ujarnya.

Purbaya tetap optimis kalau perekonomian Indonesia tetap akan tumbuh, diatas 5% meski kondisi perekonomian dunia dalam keadaan tak menentu. Hal ini berkaca dari kejadian di 2008-2009, dimana krisis ekonomi global juga terjadi saat itu. Namun, perekonomian Indonesia tetap dapat tumbuh. ”Saya optimis perekonomian kita masih bisa tumbuh di atas 5%,” jelasnya.

Menurut dia, krisis ekonomi global 2008-2009 jelas tidak berpengaruh signifikan bagi ekonomi Indonesia, tetapi mengurangi tingkat ekspor menjadi 29%. Artinya kondisi saat ini tidak separah tahun lalu.

Lalu menyoal emas, selama ini dianggap sebagai tempat investasi paling aman, makanya ketika ada kecenderungan ketidak pastian ekonomi meningkat maka permintaan pun cenderung meningkat. Dan ketika mengalami tekanan jual ketika pasar saham sedang mengalami aksi jual karena investor mencairkan emasnya untuk memenuhi marjin di pasar saham. ”Nah ketika ekonomi resesi sudah sewajarnya jika kebutuhan emas pun menurun,”paparnya.

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono mengatakan, perekonomian secara global saat ini sangat tidak pasti dan ini mengkhawatirkan keadaan bisa mempengaruhi kondisi ekonomi Indonesia.

Hartadi mengatakan perekonomian dunia cenderung menurun. Pertumbuhan ekonomi dunia di 2012 diperkirakan banyak pihak bakal turun dari proyeksi awal 4,5% menjadi 4%."Ketidakpastian ini meningkat karena krisis Eropa dan fiskal di AS. Prospek ekonomi tersebut akan menurunkan pertumbuhan Indonesia jadi lebih rendah dari proyeksi pemerintah," ujarnya.

Skenario pesimisnya, BI memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 6,5% atau di bawah target pemerintah. Angka ini masih bagus karena tetap di atas 6%. iwan/munib/ahmad/bani

Related posts