Harga Acuan Biodisel akan Mengikuti Harga CPO

NERACA

Jakarta - Harga minyak dunia sedang turun membuat harga biodiesel ikut turun. Hal itu karena harga acuan biodiesel masih mengacu kepada harga minyak di Singapura (Mean of Platts Singapore/MoPS). Namun begitu, ke depannya pemerintah sedang menyiapkan formulasi terbaru yaitu soal penetapan harga acuan biodisel yang akan mengikuti harga minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO).

Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana mengatakan formula harga biodiesel akan mengacu pada harga minyak sawit (crude palm oil). "Formula harga biodiesel nantinya akan ditetapkan dalam Keputusan Menteri yang segera terbit. Ini memberi kepastian kepada pelaku usaha untuk terus memproduksi biodiesel," jelas dia di Jakarta, Kamis (5/02).

Ia menjelaskan formula baru itu memperhitungkan komponen biaya produksi dan marjin yakni (CPO+US$ 188/ton) x 870 kg/m3. Ia mengatakan pembentukan formula harga tersebut dilakukan bersama pelaku usaha bahan bakar nabati. "Formula harga yang masih mengacu ke MoPS sudah tidak realistis lagi karena turunnya harga solar tidak mencerminkan harga keekonomian biodiesel," papar dia.

Pada kesempatan sebelumnya, Komisi VII DPR RI menyetujui usulan Kementerian ESDM untuk menaikkan subsidi bahan bakar nabati khusus untuk campuran ke bahan bakar minyak bersubsidi. Ketua Komisi VII DPR RI Kardaya Warnika dalam rapat asumsi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan (RAPBN-P) 2015, Rabu malam, mengatakan subsidi BBN biodiesel disetujui Rp4.000 per liter sedangkan BBN bioethanol Rp3.000 per liter.

"Kalau untuk ke BBM nonsubsidi atau non PSO (public service obligation) tidak disetujui, tapi kami setujui untuk yang PSO atau subsidi," katanya. Subsidi BBN mengalami kenaikan dari APBN 2015 yang mematok harga biodiesel Rp1.500 per liter dan bioethanol Rp2.000 per liter.

Pada awalnya, Kementerian ESDM mengusulkan subsidi BBN jenis biodiesel sebesar Rp5.000 per liter, sedangkan bioetanol sebesar Rp3.000 per liter. Usulan tersebut diambil berdasarkan simulasi dengan Mean of Platts Singapore (MOPS) solar sebesar 30 dolar AS - 125 dolar AS per barel dengan kurs rupiah terhadap dolar AS dalam asumsi makro RAPBN-P 2015 sebesar Rp12.500.

Berdasarkan simulasi tersebut, dengan prediksi kisaran MOPS solar untuk 2015, maka besaran alokasi subsidi secara rata-rata adalah Rp4.154 per liter. Untuk mengakomodasi kondisi MOPS dan HIP biodiesel, maka pemerintah mengajukan besaran alokasi sebesar Rp5.000 per liter.

"Subsidi Rp5.000 itu terlalu besar, padahal patokan di pasar global Rp4.000. Makanya kami sepakati subsidi BBN biodiesel jadi Rp4.000, turun dari harga awal yang diusulkan. Sementara untuk bioethanol kami sepakati di Rp3.000 per liter," kata Kardaya.

Menteri ESDM Sudirman Said, dalam kesempatan yang sama, mengatakan pemerintah punya dua tujuan dalam usulan meningkatkan subsidi BBN. "Pertama adalah diversifikasi energi primer dan kedua adalah bagaimana kita memberi sinyal yang jelas akan pengaturan harga (BBN)," katanya.

Sudirman menjelaskan diversifikasi energi primer harus segera dilakukan untuk mengantisipasi ketika harga BBM nanti kembali di titik normal. Terlebih pemerintah juga sudah menargetkan 30 persen penggunaan BBN pada 2025 dalam kebijakan energi nasional. "Diversifikasi energi primer harus dilakukan juga supaya kita tidak bergantung terus pada energi fosil. Diversifikasi memang mahal, tetapi akan sama mahalnya saat harga minyak tinggi yang sampai 100 dolar AS per barel," katanya.

Sementara kepastian harga BBN diharapkan bisa mendorong industri bahan bakar nabati untuk lebih maju. "Insentif yang cukup menarik kami berikan kepada investor karena kita harus beri sinyal jelas. Kalau harganya menarik, industrinya tentu bisa maju," ujarnya.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana menjelaskan bertambahnya subsidi BBN akan membawa berbagai manfaat di antaranya penghematan devisa dan pengurangan ketergantungan terhadap BBM (fosil) senilai Rp20,4 triliun, peningkatan nilai tambah industri hilir kelapa sawit (CPO menjadi biodiesel) sebesar Rp7 triliun, peningkatan harga CPO dunia menjadi 146,62 dolar AS per ton, dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 3.000 orang. "Yang jelas akan ada peningkatan pendapatan petani kelapa sawit sebesar 15,3 persen," tuturnya.

BERITA TERKAIT

BI Diprediksi Tahan Suku Bunga Acuan

    NERACA   Jakarta – Ekonom BNI Ryan Kiryanto memprediksi Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Kamis…

Penjualan CPO Domestik Turun - Laba Bersih Wilmar Cahaya Anjlok 13,75%

NERACA Jakarta –Di tahun 2018, kinerja PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) pada 2018 kurang memuaskan karena laba bersih perseroan…

Bidik Penjualan Rp 5 Triliun - Produksi CPO Mahkota Group Capai 41.767 Ton

NERACA Jakarta -PT Mahkota Group Tbk. (MGRO) membukukan produksi minyak sawit mentah Januari—Februari 2019 sebanyak 41.767 ton. Pada Januari 2019,…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Saran Legislator - Agar Pemerintah Pastikan Kebijakan Impor Pangan Lebih Terukur

NERACA Jakarta – Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan menyatakan berbagai pihak kementerian dan lembaga terkait harus…

Restriksi Perdagangan - Sikapi Langkah Diskriminatif Sawit, Pemerintah Kirim Delegasi ke UE

NERACA Jakarta – Pemerintah siap mengirim delegasi ke Uni Eropa untuk memberikan penjelasan sebagai respons atas langkah diskriminatif terhadap sawit,…

Disarankan Tambah Insentif untuk Dorong Ekspor Perhiasan

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menyatakan saat ini masih diperlukan beragam insentif…