Pertumbuhan Ekonomi Masih Stabil - Minat Investor Asing Masi Tinggi

NERACA

Pertumbuhan perekonomian di Indonesia memang masih relative stabil dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini, dan diperkirakan pada tahun ini diberbagai sektor, seperti property dan tambang masih menjadi incaran bagi para investor asing.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Franky Sibarani, menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah dan harga minyak yang terus turun tidak mempengaruhi investasi.

"Minat investasi masih tinggi, dua hal seperti minyak dan pelemahan rupiah belum terlihat itu mempengaruhi investasi," katanya.

Franky pun bertambah optimistis dengan sudah disiapkannya Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Pusat. Dari sisi kecepatan, dengan adanya PTSP, maka investor dapat memangkas waktu proses perizinan.

"Masing-masing perizinan memiliki proses dan alur proses yang berbeda-beda seperti izin prinsip di BKPM itu sudah bisa selesai tiga hari tapi kalau untuk izin jasa pariwisata bisa tiga hari atau tujuh hari tergantung ketentuan yang akan ditransparasikan," jelas Franky.

Kementerian/Lembaga yang masuk PTSP Pusat sendiri sudah memproses waktu penyelesaian perizinan. Secara perlahan, dia yakin pemangkasan proses akan sampai 50 persen. Seperti perizinan pertanahan yang alan diurus langsung oleh pejabat eselon satu yang bisa berkoordinasi dengan seluruh kepala kantor wilayah Kementerian BPN seluruh Indonesia dan memutuskan izin yang dikeluarkan.

Menurutnya, hampir 98 persen investor melihat PTSP pusat penting untuk mendorong kepastian investasi baik perluasan atau investasi baru. Tinggal perbaikan dan penyempurnaan regulasi-regulasi non perizinan.

BKPM menargetkan tahun ini pertumbuhan investasi akan meningkat sekitar 14 persen atau Rp500 triliun. Sementara itu, Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro, menyatakan asumsi nilai tukar rupiah masih ada kemungkinan untuk berubah dalam RAPBNP 2015.

Saat dikonfirmasi nilai tukar rupiah akan mencapai Rp12.500, dengan singkat dia menjawab, "Ya dalamrange."

Menurutnya Salah satu alasan banyaknya investor asing yang ingin berinvestasi di Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang dapat melebihi lima persen. Angka ini tergolong tinggi apabila dibandingkan dengan negara G20 yang umumnya bertumbuh di angka satu hingga tiga persen.

Tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut dikarenakan jumlah populasi penduduk yang besar dan diiringi dengan konsumsi yang kuat. Bukan hanya itu, pertumbuhan kelas menengah di Indonesia tercatat mengalami perkembangan yang pesat sehingga menggiurkan para investor asing untuk menanamkan modalnya.

Dia percaya pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan bisa lebih tinggi lagi. Menurutnya, capaian tersebut bisa terjadi apabila dilakukan pengembangan infrastruktur dengan diiringi kebijakan pemerintah yang kuat. “Artinya kita mesti bisa tumbuh dari itu,” katanya.

Belum lagi dengan adanya indikator permintaan domestik yang masih tinggi. Seiring dengan itu, jumlah warga berpenghasilan menengah semakin meningkat. Bukan hanya itu, berkurangnya tekanan inflasi dan potensi penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dipercaya menjadi peluang bagi investor asing untuk berinvestasi di dalam negeri.

“Fundamental ekonomi diyakini masih kuat untuk menghadapi ketidakpastian politik dan ekonomi, baik dari dalam negeri maupun global,” katanya.

BERITA TERKAIT

Pacu Pertumbuhan Investor Syariah - BEI Edukasi Lewat IDX Islam Challenge

NERACA Jakarta – Guna mengoptimalkan pertumbuhan industri pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan program edukasi pasar modal syariah…

DIALOG TINGKAT TINGGI INDO-PASIFIK

Wakil Presiden Jusuf Kalla (kanan) bersama Deputi Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters memberikan konferensi pers…

KRL 8 Gerbong Masih Beroperasi

PT KCI ternyata masih mengoperasikan KRL Commuterline 8 gerbong di jalur Bogor-Jakarta dan Bekasi-Jakarta, padahal janji pimpinan PT KAI beberapa…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Ini Dia, 99 Pinjaman Online Legal

OJK telah menghentikan dan mempublikasikan 635 entitas fintech "peer to peer" (P2P) lending tanpa izin OJK atau ilegal hingga awal…

2019, Pertumbuhan Pinjaman Online Rp44 Triliun

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) memperkirakan potensi pertumbuhan penyaluran pinjaman online dua kali lipat yakni Rp44 triliun pada akhir…

AFPI, Asosiasi Resmi Penyelenggara Fintech Lending

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meresmikan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) sebagai asosiasi resmi penyelenggara fintech "peer to peer" (P2P)…