Pasar Reksadana Saham Makin Kinclong di 2015

NERACA

Pasar reksadana saham tahun 2015 ini boleh dibilang, pasar yang sangat bagus untuk para investor. Pasalnya, instrumen investasi ini memberikan imbal hasil atau return paling mengkilap ketimbang instrumen investasi lainnya. Maklumlah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan return di atas 20,24% atau berlipat-lipat ketimbang realisasi tahun lalu yang minus 2%.

Data PT Infovesta Utama menunjukkan, rata-rata return reksadana saham hingga 22 Desember 2014, secarayear to datemencapai 27,97% atau lebih unggul jika dibandingkan dengan IHSG pada periode yang sama. Beda ceritanya dengan hasil investasi logam mulia yang rontok, misalnya, emas batangan Antam memberikan return minus 0,95% di sepanjang tahun ini.

Dengan begitu hasil investasi berbasis saham di sepanjang tahun ini, kinerja kinclong keranjang investasi reksadana saham sepertinya akan berlanjut di tahun kambing kayu. Meski tidak seoptimis tahun kuda kayu, reksadana ini diperkirakan berpotensi menguat yang ditopang oleh pertumbuhan ekonomi dan perbaikan makro ekonomi.

Bahkan, Viliawati, Analis Infovesta menilai, reksadana saham masih akan menjadi primadona di antara reksadana jenis lainnya, seperti reksa dana campuran, pendapatan tetap dan pasar uang. “Reksadana saham berpotensi mencetak kinerja yang lebih baik ditopang oleh pergerakan bursa saham yang lebih agresif dalam merespon kondisi pasar,” ujarnya.

Jika ingin untung berlipat, pilihan paling pas memang kelihatannya masih instrumen investasi berbasis saham. Sebab, instrumen di luar saham, seperti obligasi dan emas dinilai belum menunjukkan lampu hijau. Pasar obligasi tahun depan masih berfluktuasi akibat kenaikan yield surat utang negara dan emas belum berkilau.

Sebaiknya, investor mempertebal porsi investasi saham secara berkala. Namun demikian, lanjut Vilia, saham adalah investasi jangka panjang. Potensi kinerja reksadana saham juga dihantui dengan risiko fluktuasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis reksadana lainnya. Tidak semua saham layak investasi.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan investor, ia menyarankan, antara lain kondisi makro ekonomi, nilai tukar, inflasi, suku bunga acuan, neraca perdagangan, rilis data laporan keuangan emiten, serta kinerja kabinet pemerintahan baru.

Adapun, sentimen global yang diperkirakan akan ikut mempengaruhi kinerja reksa dana, yakni kondisi ekonomi global, seperti Amerika Serikat, Uni Eropa dan Tiongkok, serta rencana kenaikan suku bunga The Fed yang berpotensi mengurangi dana asing yang masuk ke pasar modal domestik.

BERITA TERKAIT

JK: Pengawasan APIP Berhasil Jika Koruptor Makin Sedikit

NERACA Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan tolok ukur keberhasilan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dalam mengawasi lembaga pemerintah…

Bukukan Penjualan Rp 106,74 Triliun - Porelahan Margin HM Sampoerna Makin Tebal

NERACA Jakarta – Di tahun 2018, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mencatatkan penjualan bersih Rp106,74 triliun atau naik 7,72% pada…

Bintraco Dharma Stock Split Saham 1:10

Jakarta - Tingkatkan likuiditas harga saham di pasar, PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk (CARS) akan melakukan stock split …

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…