Ancaman Krisis Global

Krisis ekonomi global kembali mengancam dunia. Kondisi ini terlihat dari ambruknya bursa saham di berbagai belahan dunia, setelah bursa saham Eropa mengalami keterpurukan, disusul jatuhnya bursa saham Jepang lewat indeks Nikkei 225 turun 1,2% ke posisi 8.682,17. Hal yang sama terjadi kemarin (13/9), indeks harga saham gabungan (IHSG) terpangkas 21,336 poin (0,55%) ke level 3.874,783.

Aksi transaksi asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) cukup besar, dimana mereka melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 592,05 miliar. Indikasi tersebut memperlihatkan minat jual asing ke depan perlu diwaspadai dan diantisipasi oleh otoritas bursa di negeri ini.

Meski bursa saham Indonesia belum begitu terpengaruh oleh perkembangan di negara lain, sifat kewaspadaan harus tetap dipegang. Hal ini mengingat kebanyakan pemain bursa saham adalah pihak asing yang setiap saat dapat memindahkan dananya, yang dapat mengguncangkan pasar modal Indonesia karena dampaknya cepat merembet ke sektor lain.

Bagaimanapun, krisis ekonomi dunia dapat merembet ke berbagai negara. Belum lagi berbagai negara yang selama ini menjadi barometer ekonomi dunia, khususnya AS dan Eropa, belum sembuh dari krisis keuangan dan ekonomi.

Akumulasi badai krisis terjadi tahun 2008, dan langkah pemecahan utamanya dilakukan dengan stimulus fiskal. Faktanya, perekonomian bukan makin membaik melainkan berada di ujung tanduk kemunduran. Amerika dan Uni Eropa memiliki karakteristik yang hampir sama dalam hal besarnya utang, dan AS sudah di atas 100% dari PDB.

Keadaan serupa terjadi di Uni Eropa seperti di Yunani yang sudah 162%, belum lagi kondisi ekonomi yang belum stabil di Inggeris, Irlandia, Portugal, Prancis, Italia, dan Spanyol.

Memang indikator yang dinyatakan aman terhadap rasio utang terhadap PDB adalah sekitar 60%-70%. Walau utang luar negeri Indonesia mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya, rasio utangnya baru sekitar 26%. Jumlah utang Indonesia sampai kuartal I/ 2011 mencapai US$214,5 miliar, meningkat US$10 miliar dari posisi akhir 2010, yang terdiri utang pemerintah US$128,6 miliar dan swasta US$85,9 miliar.

Dari gambaran krisis di berbagai negara maju tersebut, Indonesia harus saatnya membenahi perekonomiannya. Limpahan dana yang berlebih karena berjangkitnya krisis di berbagai negara membuka peluang dana tersebut mencari daerah yang cukup aman dari krisis. Indonesia menjadi salah satu sasarannya sehingga yang dicari semestinya dana-dana investasi jangka panjang, yang penting bagi perbaikan berbagai sektor pembangunan di Indonesia, yang sekarang ini mengalami penurunan kinerja.

Perbaikan iklim investasi yang cepat dan sesuai dengan standar baku dengan menghilangkan berbagai pungutan yang tidak jelas, penguatan infratruktur, maupun sejumlah pertimbangan lainnya yang tidak bertentangan dengan peraturan, sejatinya perlu dijalankan secara serius.

Tetapi yang tidak kalah penting sebenarnya adalah pembenahan ekonomi domestik. Karena melihat kondisi ekonomi negara tetangga kita yang terlihat lebih baik memikat calon investor, setidaknya menjadi acuan pemerintah Indonesia ke depan. Yang terpenting, pembenahan ekonomi domestik dapat terwujud dengan baik asalkan kita berkiblat pada ekonomi kerakyatan, mengingat masalah kemiskinan dan pengangguran saat ini cukup besar di negeri ini. Jangan kita bertindak reaktif yang membebani masyarakat Indonesia.

Related posts