Mandiri Pede Masuk QAB - Beraset Rp855 Triliun

NERACA

Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memantapkan diri sebagai bank terbesar di Indonesia dengan perolehan aset mencapai Rp855 triliun (unaudited) di akhir 2014. Bahkan, Corporate Secretary Bank Mandiri, Rohan Hafas, menegaskan ambisi Mandiri yang menargetkan pencapaian aset sebesar Rp1.000 triliun pada akhir 2015.

Menurut Rohan, pencapaian tersebut menjadikan Bank Mandiri sebagai bank terbesar di Indonesia dan siap membawa Indonesia ke ranah regional sebagai Qualified ASEAN Bank (QAB).

“Kami akan terus memperkuat fondasi untuk menjadi bank asli Indonesia yang mampu bersaing dengan bank-bank lain yang lebih besar di ASEAN. Kami juga ingin Bank Mandiri memiliki ratusan cabang di pasar ASEAN untuk mengimbangi bank asing yang saat ini telah memiliki sekitar 8 ribu cabang di Indonesia, sementara kita baru memiliki satu cabang di ASEAN. Itu pun tambahan cabangnya sudah 5 tahun belum disetujui regulator setempat,” kata Rohan di Jakarta, Selasa (3/2).

Melihat kondisi tersebut, kesempatan untuk menjadi QAB bank harus segera diambil, apalagi pemerintah sudah bersedia menambah modal Bank Mandiri hingga genap menjadi Rp100 triliun. Selain itu, banyak pihak mendukung Bank Mandiri menjadi QAB Bank agar bisa bersaing dengan bank-bank ASEAN lainnya.

Sebagai informasi, dengan aset terbesar di Indonesia, yaitu Rp855 triliun, Bank Mandiri baru menduduki peringkat 9 di antara bank-bank negara ASEAN lainnya.

Dalam MEA, bila bank sudah berstatus QAB, maka bank tersebut mendapatkan akses penuh untuk membuka jaringan di negara ASEAN manapun tanpa memerlukan persetujuan otoritas setempat.

Saat ini, lanjut Rohan, dengan jumlah aset yang besar dan modal mencapai lebih dari Rp90 triliun, kebutuhan dana untuk penambahan modal agar dapat menjadi bank ASEAN lebih rendah.

Selain untuk bersaing di regional ASEAN, Indonesia perlu memiliki bank besar dengan modal yang kuat mengingat 41% dari luas wilayah ASEAN adalah Indonesia. Dari sisi populasi, 39% dari seluruh populasi ASEAN berada di Indonesia dengan porsi GDP terbesar di antara negara ASEAN (39% dari total GDP ASEAN).

“Potensi tersebut tidak akan bermanfaat optimal untuk memakmurkan negeri jika fungsi intermediasi bank-bank nasional tidak mampu menandingi bank-bank negara ASEAN lainnya yang memiliki permodalan lebih besar,” ujar Rohan. [ardi]

BERITA TERKAIT

Anggaran Pindah Ibukota Tak Masuk APBN 2020

  NERACA Jakarta -  Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan pemerintah belum mengandalkan belanja negara dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan…

Sistem Data Kemiskinan Palembang Masuk 10 Inovasi Terbaik Geospasial

Sistem Data Kemiskinan Palembang Masuk 10 Inovasi Terbaik Geospasial   NERACA Palembang - Sistem Informasi Data Kemiskinan Kota Palembang masuk 10…

Lagi, Waskita Suntik Modal WTR Rp 1,198 Triliun

Dukung pengembangan ekspansi bisnis anak usaha, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) kembali menyetor modal sebesar Rp1,198 triliun kepada anak usaha…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Menkeu Ingin Porsi Asing di SBN Turun

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menginginkan basis investor domestik dalam kepemilikan Surat Berharga…

Tiga Bank Lokal Minta Izin Kerjasama dengan WeChat dan Alipay

  NERACA Jakarta -  Bank Indonesia (BI) menyebutkan setidaknya ada tiga bank domestik yang sudah mengajukan izin kerja sama dengan…

Bank Global Mulai Pangkas Jumlah Karyawan

  NERACA Jakarta – Berkembangnya era teknologi informasi turut memberikan perubahan di seluruh lini sektor, tak terkecuali di industri perbankan.…