Freeport Diminta Bangun Smelter di Papua

NERACA

Jakarta – PT Freeport Indonesia telah resmi melakukan kerjasama untuk membangun smelter di Gresik. Padahal Freeport berlokasi dan mempunyai tambang di Papua. Maka dari itu, muncul desakan agar Freeport membuat smelter di Papua. Hal itu seperti dikatakan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, di Jakarta, Selasa (3/2).

Alasan Sudirman agar meminta agar Freeport untuk membangun smelter di Papua karena Papua sebagai daerah operasi Freeport sehingga harus mendapatkan bagian untuk mengelola hasil tambangnya. “Walaupun pemerintah belum memutuskan apa-apa, tapi saya selalu menekankan bahwa smelter harus dibangun di dekat area produksi,” ujar Sudirman.

Ia memaparkan alasan Papua sulit dijadikan lahan untuk membuat pabrik smelter, karena infrastruktur dan utilitas yang belum memadai. Dalam hal ini listrik untuk mengoperasikan pabrik smelter belum cukup. Karena kekurangan pasokan listrik, maka hal tersebut menjadi alasan utama target pembangunan smelter diundur sampai 2017. “Harus bangun smelter di papua tapi karena listrik tidak ada maka mundur dari (batas waktu) 2017,” ungkap Sudirman.

Sudirman memaparkan ada beberapa pilihan lahan yang akan diambil Freeport dalam membangun smelter. Salah satu wilayah yang diincar Freeport adalah Gresik, dekat pabrik PT Petrokimia Gresik dan PT Smelting Gresik. “Kita akan terus dorong dan cari cara agar Freeport bangun smelter di Papua. Pada akhirnya harus ada kompromi kan,” kata Sudirman.

Sementara itu, Koordinator Tenaga Ahli Wakil Presiden RI, Sofjan Wanandi mengatakan, walaupun ada sejumlah permasalahan, seharusnya PT Freeport Indonesia bisa membangun smelter di Papua. Perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki Freeport McMoran itu, bisa membangun smelter secara bertahap di Bumi Cendrawasih. “Apapun secara bertahap sebenarnya bisa, karena Freeport punya kemampuan itu. Dia (Freeport) kan sudah lama ada di Indonesia, jadi saya pikir tidak ada masalah seharusnya,” kata Sofjan.

Ia mengatakan, dari segi penunjang pembangunan memang Gresik, Jawa Timur lebih lengkap di banding Papua. “Ada masalah sumber daya manusia (SDM). Lalu masalah listrik belum ada. Semua fasilitasnya ada di Gresik, Jawa Timur,” kata Sofjan Ia menambahkan, bagaimanapun Freeport harus tetap membangun Papua. “Papua harus dibangun juga, kalau cuma diambil untungnya saja, orang Papua juga pasti ribut,” kata Sofjan.

Picu Industri

Anggota Komisi C DPR Papua Rustam Saru menilai pembangunan smelter di Papua akan memicu terjadinya industri-industri baru lainnya yang bisa meningkatkan pendapatan daerah setempat dan provinsi secara umum. Ia mengatakan, jika rencana itu berhasil dan PT Freeport mengindahkan permintaan Pemerintah Provinsi Papua agar perusahaan penghasil emas dan tembaga itu membangun pabrik pemurnian, maka secara tidak langsung perekonomian provinsi paling timur itu akan meningkat signifikan.

"PT Freeport wajib membangun smelter di Papua. Hal ini sesuai dengan UU Minerba No 4 Tahun 2009 yakni setiap perusahan tambang harus mengolah hasil tambang di lokasi tambang. Sehingga Freeport tak ada alasan untuk membangun di tempat lain karena itu perintah UU," katanya. Dalam membangun smelter, lanjutnya, minimal PT Freeport membutuhkan sejumlah hal guna memuluskan niat baiknya itu, diantaranya pertama, harus ada lokasi lahan yang tersedia untuk membangun.

"Ini tentunya, minimal aksesnya juga dekat dengan pelabuhan sehingga hasil produksi dari smelter itu yang sudah dimurnikan, yang tadinya diolah dari bahan mentah berupa logam mentah yang belum terurai dan belum terpisah kemudian dimurnikan melalui smelter, disitulah nanti terurai ada emasnya, ada tembaga, ada peraknya, ada macam-macamlah sesuai dengan apa yang mereka inginkan," katanya.

Jika konsentrat sudah diolah, lanjut Rustam, lebih gampang untuk memasarkan hasil tambang tersebut, lebih mudah juga untuk proses pengapalannya. "Sehingga kedepannya setelah smelter ini jadi, memang juga ada perusahaan-perusahaan penunjang yang harus dibangun disitu, seperti pabrik semen dan pabrik pupuk karena hasil buangan itu yang tak terpakai masih bisa dimanfaatkan untuk bahan-bahan lain yaitu semen, pupuk dan lain-lain sehingga mendorong industri di Papua berkembang," katanya.

BERITA TERKAIT

Pengusaha Suriah Jajaki Bangun Pabrik di Indonesia

NERACA Jakarta – Para pengusaha asal Suriah yang tergabung dalam Arrasyid for Industry and Trade Group menggandeng Kedutaan Besar Republik…

Waspadai Upaya KKB Ganggu Kinerja Pemerintah di Papua

  Oleh:  Aditya Pratama, Mahasiswa Universitas Indonesia Keberadaan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) diperkirakan akan menjadi  penghambat bagi pembangunan di wilayah…

KPK: Papua Barat Paling Rendah Pelaporan Harta Kekayaan

KPK: Papua Barat Paling Rendah Pelaporan Harta Kekayaan NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan Pemerintah Provinsi Papua Barat…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Pendidikan Vokasi Industri Wilayah Sulawesi Diluncurkan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan…

Pemerintah Akselerasi Pengembangan Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pemerintah segera menyiapkan fasilitas insentif fiskal dan infrastruktur dalam upaya mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Untuk…

Kebutuhan Gula Seiring Kinerja Positif Industri Pengguna

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memproyeksi kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi…