Defisit Neraca Perdagangan Dinilai akan Berlanjut - Akibat Konsumsi Minyak

NERACA

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa pada tahun 2014, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebesar US$1,8 miliar. Hal itu karena ekspor selama 2014 mencapai US$176,29 miliar sementara impornya mencapai US$178,89 miliar. Untuk 2015, diperkirakan defisit neraca perdagangan akan berlanjut. Akan tetapi defisit itu terjadi ketika pemerintah tidak segera bertindak untuk mengatasi masalah-masalah yang ada di dalam negeri.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati yang dihubungi lewat sambungan telepon mengatakan selama Indonesia masih mengkonsumsi minyak dalam jumlah besar maka itu akan berakibat kepada neraca perdagangan. “Masalahnya kita itu konsumsi minyaknya cukup tinggi, apalagi saat ini produksi minyak kita sedang turun dan mau tidak mau harus mengimpor dan itu membuat neraca perdagangan semakin defisit,” ungkap Nina, kemarin.

Menurut dia, harga minyak yang saat ini sedang turun drastis pun tidak menolong terhadap neraca perdagangan khususnya migas. “Mestinya ketika harga minyak turun, kita harusnya mengembangkan energi-energi lain seperti gas atau energi terbarukan lainnya. Memang butuh waktu untuk mengembangkan energi-energi tersebut seperti gas yang harus membangun SPBG ataupun jaringan pipa gasnya, namun kalau tidak sekarang juga mau kapan lagi,” keluh Nina.

Selain mendiversifikasikan energi, pemerintah, kata dia, perlu juga untuk meningkatkan volume ekspor non migas. Salah satu contoh yang mulai dijalankan oleh pemerintah adalah pabrik pemurnian atau smelter. Menurut dia, hal itu cukup bagus sehingga Indonesia tidak lagi selalu mengekspor bahan-bahan mentah padahal jika mau diolah lagi akan mendatangkan keuntungan yang lebih. Ia pun berharap kedepannya pemerintah juga bisa melakukan ke komoditas-komoditas lainnya seperti CPO, karet ataupun komoditas lainnya.

Nina juga mengapresiasi langkah Menteri Kelautan dan Perikanan yang berani melawan ilegal fishing yang kerap merugikan negara hampir Rp300 triliun setiap tahunnya. “Selama inikan ilegal fishing dibiarkan begitu saja sehingga tidak ada pemasukan terhadap negara, dengan apa yang dilakukan Ibu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan), maka nantinya akan ada dorongan untuk ekspor ikan sehingga membuat defisit neraca perdagangan bisa tertekan,” pungkasnya.

Namun begitu, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara menyatakan rasa optimisnya akan kinerja perdagangan di 2015 akan jauh lebih baik. Salah satu faktor yang akan mempengaruhi kinerja neraca perdagangan terutama sektor migas menurut BI adalah tren penurunan harga minyak dunia. "Tren penurunan harga minyak dunia dapat mendorong berkurangnya tekanan pada defisit neraca migas," ujarnya.

Selain karena penurunan harga minyak dunia, BI juga memperkirakan perbaikan neraca perdagangan akan ditolak oleh perbaikan ekonomi global tahun 2015. Dua hal itu lah yang akan membuat aktivitas ekspor Indonesai meningkat. Faktor yang mempengaruhi defisit tersebut menurut BI adalah peningkatan defisit migas disaat surplus peradangan nonmigas sedang berkurang. "Perdangan ekspor migas pada November 2014 tercatat 1,36 miliar dollar AS, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yaitu 1,11 miliar dollar AS," kata Tirta.

Impor Bahan Baku

Sementara itu, Kementerian Perdagangan menyebutkan importasi periode Januari-Desember 2014 masih didominasi bahan baku dan barang modal untuk menggerakkan sektor riil di dalam negeri. "Jika kita lihat, angka impor kita sebanyak 76 persen itu adalah bahan baku dan penolong, dan tidak bisa kita hambat," kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Partogi Pangaribuan.

Partogi mengatakan dalam rangka subtitusi impor, pihaknya bersama dengan Kementerian Perindustrian dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) akan lebih selektif untuk menyeleksi investasi yang akan masuk ke Indonesia. "Ke depan dalam rangka subsitusi impor, Kemendag, Kemenperin, dan BKPM akan selektif memilih investasi yang masuk atau tidak lagi seperti biasanya apa yang diinginkan kamiterima begitu saja," ujar Partogi.

Menurut Partogi, komposisi ekspor dan impor saat ini sudah bisa dikatakan harmonis dimana barang yang diimpor merupakan produk-produk yang benar-benar dibutuhkan, dikarenakan saat ini industri dalam negeri masih belum bisa memproduksi.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan impor Indonesia pada Desember 2014 yang sebesar 14,43 miliar dolar Amerika Serikat mengalami kenaikan sebesar 2,80 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 10.56 miliar dolar AS.

Secara kumulatif, impor 2014, mencapai 178,18 miliar dolar AS atau mengalami penurunan sebesar 4,53 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun 2013. Nilai tersebut terdiri dari impor migas sebesar 43,46 miliar dolar AS yang turun 3,99 persen dan non-migas sebesar 134,72 miliar dolar AS yang juga turun 4,70 persen.

Nilai impor golongan barang konsumsi, bahan baku penolong, dan barang modal selama 2014 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, masing-masing sebesar 3,59 persen, 4,05 persen dan 7,07 persen.

BERITA TERKAIT

Dampak Kapal Bocor Milik SOCI - Tumpahan Minyak Solar Kotori Pantai Pare Pare

    NERACA Jakarta – Kapal Golden Pearl XIV yang menumpahkan minyak di perairan Parepare ternyata milik PT Soechi Lines…

Jokowi Mengenakan Jaket Dari Alumni UI: Indonesia Tidak Akan Pernah Bubar!

Jokowi Mengenakan Jaket Dari Alumni UI: Indonesia Tidak Akan Pernah Bubar! NERACA Jakarta - Ribuan massa yang tergabung dalam kelompok…

Dominasi LG Di Pasar AC Inverter Ditargetkan Berlanjut di 2019

      NERACA Jakarta – Sebagai salah satu pabrikan elektronik yang fokus di pasar inverter, PT LG Electronics Indonesia…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Penurunan Tarif Penerbangan Oleh Maskapai Diapresiasi

NERACA Jakarta – Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengapresiasi penurunan tarif penerbangan yang disepakati oleh seluruh maskapai anggota…

GSP Bakal Dibahas Dengan Dubes Perdagangan AS

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita dalam kunjungannya ke Amerika Serikat bakal membahas secara bilateral mengenai penerapan "Generalized…

Petani Minta Pemerintah Serap Produk Hortikultura Strategis

NERACA Jakarta – Serikat Petani Indonesia (SPI) meminta pemerintah menyerap produk hortikultura strategis seperti cabai agar petani tidak lagi terbebani…