Hexindo Masih Kantungi Raport Merah - Bukukan Penjualan Turun 16,9%

NERACA

Jakarta – Perusahaan alat berat, PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) mencatatkan performance kinerja keuangan yang buruk selama baik itu laba dan pendapatan. Tengok saja perolehan laba tahun berjalan menjadi US$ 11,95 juta atau turun 29,35% sepanjang 2014, dibandingkan dari perolehan sebesar US$ 16,91 juta di 2013. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Ironisnya, penurunan laba sudah terjadi sejak tahun 2013 lalu. Dimana perseroan membukukan penurunan laba sebesar 65,21% menjadi US$ 16,91 juta dibanding periode yang sama 2012 senilai US$ 48,61 juta. Selain itu, perseroan juga menyampaikan laba per saham perseroan 2014 menjadi US$ 0,01, dibanding periode 2013 sebesar US$ 0,02 per saham.

Kemudian pendapatan 2014 juga turun 16,9% menjadi US$ 284,7 juta, dibanding raihan pendapatan sebelumnya sebesar US$ 342,8 juta. Beban pokok turun 18,5% menjadi US$ 233,15 juta, dari beban pokok sepanjang 2013 sebesar US$ 286,13 juta.

Laba bruto turun 8,9% menjadi US$ 51,6 juta di 2014, dibanding raihan tahun sebelumnya sebesar US$ 56,6 juta. Laba usaha juga turun 29,6% menjadi 22,6 juta, dari perolehan sebelumnyaa US$ 15,9 juta. Ekuitas HEXA juga turun 1,8% menjadi US$ 217,5 juta, dibanding perolehan sebelumnya sebesar US$ 221,8 juta.

Sementara itu, total aset perseroan turun 5,21% menjadi US$ 382,1 juta di 2014, dibanding perolehan sepanjang 2013 sebesar US$ 403,5 juta. Asal tahu saja, perseroan pernah menyampaikan target untuk mengurangi utang menjadi sebesar US$ 7 juta pada tahun 2014dari utang perseroan yang pada Maret 2014 mencapai sekitar US$ 66 juta.

Direktur Hexindo Adiperkasa, Syamsu Anwar pernah bilang, utang yang akan dilunasi adalah utang kepada Bank of Tokyo Mitsubishi dan Hitachi International Treasury Limited,”Sampai akhir tahun 2014 kita targetkan dapat turunkan utang menjadi US$ 7 juta," ujarnya.

Di tahun 2015 ini, kebutuhan alat berat akan meningkat sebesar 25% dan masih akan terus tumbuh hingga 2019. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Pemilik Alat Berat dan Konstruksi Seluruh Indonesia (APPAKSI) Sjahrial Ong menyatakan, prediksi peningkatan kebutuhan alat berat sebesar 25% itu telah disesuaikan dengan program pembangunan infrastruktur nasional yang dicanangkan oleh pemerintahan saat ini,”Pada 2015, asosiasi memperkirakan pertumbuhan alat berat untuk konstruksi mencapai 25% atau mencapai 132.210 unit," katany.

Namun, saat ini asosiasi mencatat ketersediaan alat berat hanya sekitar 26.442 unit. Menurutnya, ketersediaan alat berat di Indonesia masih mengalami kekurangan sekitar 40% atau 35.000 unit untuk menghadapi proyek-proyek pembangunan infrastruktur yang diprediksi akan terus mengalami peningkatan selama 5 tahun ke depan.

Lebih lanjut, ucapnya, untuk memenuhi kebutuhan alat berat di Indonesia, pengusaha industri alat berat berharap agar perbankan nasional dapat memberikan kemudahan untuk mendapatkan pendanaan yang lebih lunak dan jangka panjang. Dengan demikian, pihaknya bisa lebih banyak mendatangkan alat-alat berat ke dalam negeri. (bani)

BERITA TERKAIT

Dongkrak Penjualan - Passpod Gandeng Tokopedia dan LOKET

NERACA Jakarta - Perluas penetrasi pasar untuk mengerek pertumbuhan penjualan, PT Yelooo Integra Datanet Tbk (YELO) atau lebih dikenal Passpod…

Harga Kebutuhan Pokok di PSM Kabupaten Sukabumi Belum Turun - Masuki Pekan Kedua Januari

Harga Kebutuhan Pokok di PSM Kabupaten Sukabumi Belum Turun Masuki Pekan Kedua Januari NERACA Sukabumi - Memasuki pekan kedua Januari…

PELEMAHAN RUPIAH JADI PENYEBAB KENAIKAN TARIF - INACA: Harga Tiket Pesawat Turun 20-60%

Jakarta-Maskapai penerbangan di Indonesia akhirnya memutuskan untuk menurunkan kembali harga tiket penerbangan domestik, menyusul banyaknya protes netizen melalui serangkaian petisi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Harga Saham Melorot Tajam - Saham Cottonindo Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta - Perdagangan saham PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) karena mengalami…

Kuras Kocek Rp 460,38 Miliar - TBIG Realisasikan Buyback 96,21 Juta Saham

NERACA Jakarta - Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) telah membeli kembali atau buyback saham dari…

KINO Akuisisi Kino Food Rp 74,88 Miliar

PT Kino Indonesia Tbk (KINO) akan menjadi pemegang saham pengendali PT Kino Food Indonesia. Rencana itu tertuang dalam perjanjian Jual…